Boikot


Tindakan Pencegahan Kelangsungan Bisnis dengan Boikot

Boikot adalah tindakan pencegahan kelangsungan suatu bisnis dengan memaksa orang untuk tidak membeli produk perusahaan tersebut. Selain itu, boikot juga dapat dilakukan dengan memaksa orang untuk tidak melakukan bisnis dengan pihak tertentu.

Otoritas Jasa Keuangan juga disebut-sebut terlibat dalam tindakan pencegahan ini dengan menolak untuk bekerja sama, berurusan dagang, berbicara, dan ikut serta dalam bisnis perusahaan yang menjadi target boikot.

Apa itu Boikot?

Boikot adalah suatu bentuk protes sekelompok orang terhadap seseorang atau organisasi tertentu dengan cara menolak untuk menggunakan, membeli, atau berurusan dengan pihak yang diboikot. Boikot umumnya dilakukan secara terorganisir dan dengan tujuan untuk memaksa pihak yang diboikot mengubah kebijakan mereka. Boikot juga dapat diartikan sebagai tindakan persekongkolan sekelompok orang untuk menolak bekerjasama, menggunakan, atau berurusan dengan seseorang, produk, atau organisasi tertentu. Aksi boikot umumnya dilakukan sebagai protes terhadap perlakuan yang dianggap tidak adil dan membutuhkan tindakan protes yang massif untuk mengubahnya.

Sejarah Boikot

Kata “boikot” berasal dari nama Charles Boycott, seorang agen dan pengelola tanah asal Inggris. Sejarah mencatat bahwa pada zaman dahulu, para petani memohon kepada Charles Boycott agar menurunkan harga penggarapan lahan pertanian. Namun, permohonan para petani ditolak oleh Boycott. Sebagai bentuk balasan, para petani kemudian sepakat untuk tidak menggarap lahan pertanian tersebut, yang akhirnya membuat Boycott mengalah. Charles Boycott bertanggung jawab terhadap gerakan mogok kerja yang dilakukan oleh para petani dan akhirnya ia terpaksa mengundurkan diri dari jabatannya.

Pada tahun 1950-an hingga 1960-an, boikot menjadi salah satu aksi yang dilakukan untuk memperjuangkan hak-hak sipil di Amerika. Aksi boikot bertujuan untuk melawan kesenjangan sosial dan politik yang terjadi, seperti rasisme yang ada di suatu tempat atau perusahaan.

See also  Halting

Bentuk-Bentuk Boikot

1. Boikot Konsumen
Boikot konsumen adalah tindakan di mana masyarakat umum dihimbau untuk tidak membeli produk dari perusahaan yang menjadi target boikot. Biasanya, boikot konsumen ini diorganisir oleh kelompok aktivis sosial. Tujuan dari boikot konsumen adalah sebagai bentuk protes terhadap praktek yang dianggap tidak adil atau tidak etis. Sebagai contoh, Walt Disney pernah melakukan boikot terhadap penggunaan kertas dari Indonesia.

2. Boikot Business to Business
Boikot bisnis ke bisnis dilakukan sebagai upaya perlindungan suatu bisnis terhadap bisnis lainnya. Boikot bisnis ke bisnis dapat merusak secara material, sehingga sering disebut sebagai balas dendam. Contohnya adalah pemboikotan produk Apple di Tiongkok saat terjadi perang dagang antara Amerika dan Tiongkok. Beberapa perusahaan Tiongkok memberikan dukungan kepada Huawei dengan memboikot produk Apple di lingkungan kantornya. Selain itu, perusahaan juga memberikan subsidi kepada karyawan yang ingin membeli smartphone Huawei.

3. Boikot “Employee Walkout”
Saat ini, istilah boikot lebih sering digunakan untuk menggambarkan mogok kerja karyawan yang melakukan protes terhadap perusahaan. Di beberapa negara, karyawan yang melakukan mogok secara kolektif dapat diberhentikan, meskipun kata “walkout” dalam pengertian sebenarnya berarti “resign“.

Faktor Keberhasilan Aksi Boikot

Keberhasilan aksi boikot dapat dilihat dari beberapa faktor yang mempengaruhinya:

1. Keikutsertaan Simpatisan Aksi
Jumlah simpatisan yang ikut serta dalam aksi boikot sangat mempengaruhi keberhasilan dari aksi tersebut. Semakin banyak orang yang ikut serta dalam aksi boikot, semakin besar kemungkinan tujuan boikot dapat dicapai.

2. Waktu Boikot Berlangsung
Waktu juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan aksi boikot. Aksi boikot harus dilakukan pada waktu yang tepat agar tujuan boikot dapat tercapai.

See also  Ilmu Ekonomi

3. Peran Tokoh atau Organisasi
Aksi boikot yang didukung oleh tokoh atau organisasi kelompok tertentu memiliki efektivitas yang tinggi. Hal ini karena tokoh atau organisasi tersebut dapat lebih mudah mempengaruhi orang lain untuk ikut serta dalam aksi boikot.

4. Riset
Sebelum melakukan aksi boikot, melakukan riset menjadi hal yang penting agar aksi boikot dapat berjalan sesuai dengan fakta dan tujuan boikot dapat lebih mudah dicapai.

Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Kamus Istilah

Leave a Reply