Review Novel They Both Died at the End: Memaknai Arti Kehidupan


Tentang Novel They Both Died at the End

They Both Died at the End adalah novel terlaris yang ditulis oleh Adam Silvera. Novel ini diterbitkan pada tahun 2017 dan hingga saat ini masih banyak diperbincangkan oleh para penggemar novel young adult. Sinopsis novel ini yang singkat namun menarik berhasil membuat banyak orang penasaran dan ingin membaca kisah di dalamnya.

Novel ini mengisahkan tentang dua orang yang tidak saling mengenal, Mateo dan Rufus, yang diberi tahu bahwa mereka akan meninggal dalam waktu 24 jam. Mereka berdua memutuskan untuk menghabiskan waktu mereka bersama dan menjalani petualangan yang tak terlupakan sebelum akhir hayat mereka tiba.

Kisah ini sangat mengesankan karena berhasil menggabungkan elemen-elemen seperti ironi, emosi, dan penderitaan. Meskipun judulnya sudah mengisyaratkan akhir yang tragis, pembaca tetap terpikat dengan ceritanya dan ingin mengetahui lebih banyak tentang perjalanan hidup Mateo dan Rufus.

Dengan gaya penulisan yang sederhana namun penuh makna, Adam Silvera mampu menciptakan alur cerita yang menarik dan karakter-karakter yang bisa membuat pembaca terhubung secara emosional. Novel ini juga dipuji karena kisahnya yang mengangkat isu-isu sosial dan mencerminkan hubungan antara manusia.

Mendapatkan perhatian yang besar dari para pembaca, They Both Died at the End juga berhasil menduduki peringkat teratas dalam daftar penjualan buku terbaik versi New York Times. Selain itu, novel ini juga mendapatkan sejumlah penghargaan dan pujian dari kritikus buku di Amerika Serikat.

Antusiasme Pembaca Terhadap Novel They Both Died at the End

Sejak kemunculannya di jejaring TikTok pada tahun 2020, novel They Both Died at the End mendapatkan antusiasme yang luar biasa dari pembaca. Video-video yang mempromosikan novel ini dengan cara yang kreatif dan menarik berhasil menarik perhatian banyak orang. Banyak pembaca yang penasaran dan ingin membaca kisah di balik judul yang menggelitik tersebut.

Novel ini juga menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar novel young adult. Mereka memuji alur cerita yang menggugah emosi dan karakter-karakter yang kuat. Banyak pembaca yang terkesan dengan cara penulisan Adam Silvera yang mampu membuat mereka terhubung dengan emosi tokoh-tokohnya.

Tidak hanya di kalangan pembaca, They Both Died at the End juga mendapatkan pujian dari para kritikus buku dan media besar di Amerika Serikat. Penerbit HarperTeen yang menerbitkan novel ini juga bangga dengan kesuksesannya dan merilis edisi khusus novel ini dengan cover yang baru.

Penghargaan yang Diterima Adam Silvera atas Novel They Both Died at the End

Novel They Both Died at the End mendapatkan pengakuan tidak hanya dari pembaca, tetapi juga dari para kritikus buku. Adam Silvera berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan dan pujian atas karya ini.

Pada tahun 2017, novel ini masuk dalam daftar New York Times Best Seller dan meraih penghargaan Best Young Adult Books of the Year oleh Amazon dan Buzzfeed. Pada tahun 2019, Buzzfeed menyatakan bahwa They Both Died at the End merupakan novel young adult terbaik sepanjang dekade versi mereka.

See also  Tips dan Cara Kenalan Lewat Chat, Cowok Harus Tahu Ini!

Selain itu, novel ini juga mendapatkan pujian dari beberapa media besar di Amerika Serikat, seperti Publishers Weekly, Booklist, School Library Journal, dan Kirkus Review. The Bulletin The Center of Children’s Book, Common Sense Media, American Review, dan Buzzfeed juga memberikan tanggapan yang positif terhadap novel ini.

Prestasi ini menunjukkan bahwa Adam Silvera adalah seorang penulis yang memiliki bakat dan kemampuan untuk menciptakan karya-karya yang luar biasa. Novel They Both Died at the End merupakan salah satu bukti kepiawaian dan keberhasilannya dalam menulis.

Tentang Penulis Novel They Both Died at the End

Adam Silvera merupakan seorang penulis yang berasal dari South Bronx, New York. Ia lahir pada tahun 1990 dan sudah aktif menulis sejak tahun 2015. Silvera dikenal sebagai penulis novel young adult yang berhasil memikat para pembaca dengan gaya penulisannya yang khas.

Sejak kecil, Silvera sudah memiliki minat dan bakat dalam menulis. Ia mulai menulis fan fiction sejak usia 10 atau 11 tahun. Minatnya terhadap dunia tulis menulis terus berkembang seiring dengan latar belakang keluarganya yang berhubungan dengan pekerjaan sosial.

Kebiasaan Silvera dalam menulis fan fiction dan pengalaman keluarganya mempengaruhi minat dan motivasinya dalam menulis karya-karya yang mengangkat isu sosial. Ia terinspirasi untuk menulis tentang hubungan manusia dengan manusia lainnya dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Selain menulis, Silvera juga pernah menjadi barista, penjual buku, dan pembicara tentang self awareness. Pengalaman dan pengetahuannya yang luas tentang isu sosial dan self awareness membantu Silvera untuk menemukan jati dirinya sebagai penulis dan menciptakan karya-karya yang bermakna.

Silvera juga mengaku bahwa ia pernah mengalami masa sulit yang membuatnya depresi. Namun, ia berhasil melewati masa-masa sulit tersebut dan kembali melanjutkan kehidupannya dengan semangat baru. Penerimaan positif terhadap orientasi seksualnya sebagai seorang gay juga menjadi salah satu hal yang membuat Silvera menjadi sosok yang dihormati dan diakui.

Buku pertama Silvera yang berjudul More Than Happy Not berhasil mencuri perhatian dan mengangkat namanya ke jajaran penulis teratas di Amerika Serikat. Novel-novelnya, seperti History is All You Left Me, They Both Died at the End, What If It’s Us, dan Here’s to Us juga mendapatkan respon yang positif dari pembaca.

Silvera juga tidak hanya menulis novel, tetapi juga menulis beberapa cerita pendek yang diterbitkan dalam buku antologi, seperti Because You Love to Hate Me, Don’t Call Me Crazy, dan Color Outside the Lines. Beberapa karyanya juga diadaptasi menjadi serial televisi oleh HBO Max.

Sinopsis Novel They Both Died at the End

They Both Died at the End mengisahkan tentang Mateo dan Rufus, dua orang yang diinformasikan oleh Death Cast bahwa mereka akan meninggal dalam waktu 24 jam. Dalam keputusasaan mereka, mereka memutuskan untuk menjalani hari-hari terakhir mereka bersama dan mengalami petualangan yang tak terlupakan.

See also  9 Cara Memutihkan Gigi Kuning Dengan Cepat

Mateo, yang awalnya tidak ingin keluar dari kamarnya, akhirnya memberanikan diri dan mengunduh aplikasi Last Friend, sebuah aplikasi yang bertujuan untuk mencari teman bagi mereka yang divonis kematian. Melalui aplikasi ini, Mateo bertemu dengan Rufus, seorang pria yang tengah menghadapi masalah dan melarikan diri dari polisi.

Mateo dan Rufus memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dan menciptakan kenangan-kenangan indah sebelum akhir hayat mereka tiba. Mereka mengunjungi orang-orang terdekat mereka, melakukan kegiatan yang mereka takuti, dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka.

Namun, mereka juga harus menghadapi berbagai tantangan dan bahaya sepanjang perjalanan mereka. Meskipun begitu, mereka terus berusaha untuk tetap hidup dan menikmati waktu yang mereka miliki.

Di akhir novel, Mateo mengalami kecelakaan yang fatal saat berada di kamarnya. Rufus, yang masih hidup, berusaha menyelamatkannya tetapi akhirnya harus merelakan Mateo pergi. Rufus sendiri juga meninggal secara tragis setelah terkena tabrakan mobil di jalan.

Meskipun berakhir dengan kematian kedua tokoh utamanya, novel ini memberikan pembaca pelajaran tentang bagaimana menghargai hidup dan memanfaatkan waktu yang dimiliki. Kisah Mateo dan Rufus mengingatkan kita akan pentingnya menjalani hidup dengan penuh semangat dan menciptakan kenangan-kenangan berarti.

Kelebihan Novel They Both Died at the End

They Both Died at the End memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menjadi novel yang luar biasa dan berhasil menarik perhatian pembaca.

Pertama, judul novel ini yang unik dan menggelitik berhasil menarik minat pembaca. Judul yang mencerminkan akhir cerita yang tragis membuat pembaca penasaran dan ingin mengetahui kisah di balik judul tersebut.

Kedua, alur cerita yang menarik dan penuh dengan kejutan membuat pembaca terus tertarik dan tidak bisa berhenti membaca. Meskipun judulnya sudah mengisyaratkan akhir cerita, masih ada banyak peristiwa menegangkan dan emosional yang membuat pembaca terus terlibat dalam cerita.

Ketiga, karakter-karakter dalam novel ini sangat kuat dan mampu membuat pembaca terhubung secara emosional. Perjalanan hidup Mateo dan Rufus, serta perjuangan mereka untuk menciptakan kenangan indah sebelum akhir hayat mereka tiba, membuat pembaca ikut merasakan emosi dan dilema yang mereka alami.

Keempat, gaya penulisan Adam Silvera yang sederhana namun penuh makna membuat pembaca mudah terhubung dengan cerita. Ia mampu menggambarkan perasaan dan pikiran karakter-karakternya dengan baik sehingga pembaca bisa merasakan emosi yang mereka alami.

Kekurangan Novel They Both Died at the End

Meskipun They Both Died at the End adalah novel yang luar biasa, namun ada beberapa kekurangan yang dapat ditemukan dalam cerita ini.

Pertama, meskipun judul sudah mengisyaratkan akhir cerita yang tragis, pembaca mungkin mengharapkan penutup cerita yang lebih kuat dan lebih menyayat. Beberapa pembaca menganggap bahwa akhir cerita ini bisa lebih tragis dan emosional mengingat tema dan genre novelnya.

Kedua, pengenalan mengenai Death Cast, perusahaan yang bisa memprediksi waktu kematian seseorang, terasa kurang memadai. Pembaca hanya diberi informasi bahwa Death Cast memiliki kemampuan untuk memprediksi kematian seseorang, namun tidak ada penjelasan yang lebih mendalam tentang perusahaan ini.

See also  20 Alat Musik Betawi, Kegunaan, dan Cara Memainkannya

Ketiga, fokus cerita yang hanya pada kedua tokoh utama, Mateo dan Rufus, membuat beberapa karakter lainnya terasa kurang berkembang. Karakter-karakter pendukung dalam cerita ini masih memiliki potensi yang besar untuk dijelajahi dan dikembangkan lebih lanjut.

Meskipun demikian, kekurangan-kekurangan tersebut tidak mengurangi kualitas novel ini. They Both Died at the End tetap menjadi salah satu novel yang menghibur dan menggugah emosi pembaca. Keberhasilannya dalam menciptakan cerita yang mengaduk-aduk perasaan pembaca adalah bukti kepiawaian Adam Silvera sebagai seorang penulis.

Nilai Moral dalam They Both Died at the End

They Both Died at the End bukan hanya sebuah kisah mengenai akhir hayat, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral yang penting dalam kehidupan.

Pertama, novel ini mengingatkan kita akan pentingnya menghargai hidup dan waktu yang kita miliki. Mateo dan Rufus mengetahui bahwa akhir hayat mereka hanya dalam waktu 24 jam, sehingga mereka berusaha untuk menjalani hari-hari terakhir mereka dengan penuh semangat dan melupakan permasalahan yang ada.

Kedua, kisah Mateo dan Rufus juga mengajarkan kita tentang pentingnya meninggalkan manfaat bagi orang lain. Meskipun hanya memiliki waktu yang terbatas, mereka berdua masih berusaha untuk memberikan dukungan dan kebahagiaan kepada orang-orang terdekat mereka.

Ketiga, novel ini mengajarkan pentingnya menghargai diri sendiri dan mengendalikan emosi. Mateo dan Rufus mengalami perjalanan emosional yang kuat sepanjang cerita, namun mereka belajar untuk menerima kenyataan dan menemukan kekuatan dalam diri mereka sendiri.

Keempat, They Both Died at the End mengajarkan tentang keberanian dan keinginan untuk berubah. Meskipun awalnya cenderung pesimis, kisah Mateo dan Rufus membuktikan bahwa masih ada waktu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan meninggalkan jejak yang baik di dunia.

Dalam keseluruhan cerita, nilai-nilai moral ini menjadi pesan yang ingin disampaikan oleh Adam Silvera kepada para pembaca. Membaca novel ini membuat kita menjadi lebih sadar akan pentingnya menghargai hidup, menghargai waktu yang kita miliki, dan menciptakan kenangan indah sepanjang perjalanan hidup kita.

Kesimpulan

They Both Died at the End merupakan novel yang luar biasa dengan alur cerita yang menarik dan karakter-karakter yang kuat. Kisah Mateo dan Rufus mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai hidup, menghargai waktu, dan meninggalkan manfaat bagi orang lain.

Adam Silvera sebagai penulis mampu menciptakan karya yang menggugah emosi dan membuat pembaca terhubung dengan ceritanya. Kesuksesan novel ini dalam mencapai kepopuleran dan mendapatkan penghargaan adalah bukti kepiawaian dan keberhasilan Silvera sebagai penulis.

Bagi pembaca yang tertarik dengan kisah young adult yang mengaduk-aduk perasaan, They Both Died at the End adalah pilihan yang tepat. Novel ini mampu memberikan pengalaman membaca yang mendalam dan membuat kita merenung tentang arti hidup dan manfaat yang bisa kita berikan bagi orang lain.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?