15 Rekomendasi Novel Terbaik Berlatarkan Kisah Kelam Sejarah Indonesia
Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata bahwa tidak boleh melupakan sejarah, karena sejarah memiliki peran penting dalam membentuk dan mengubah identitas kita sebagai bangsa. Melalui sejarah, kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu dan menjadikannya pembelajaran untuk masa depan. Sejarah juga mengajarkan kita untuk menghargai jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang keras demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satu cara untuk mempelajari sejarah dengan cara yang menyenangkan adalah melalui membaca novel.
aikerja.com, sebagai salah satu toko buku terbesar di Indonesia, memiliki banyak koleksi novel berlatarkan sejarah Indonesia. Novel-novel ini dapat membawa kita lebih dekat dengan suasana politik, adat budaya, sosial, dan lingkungan yang terjadi pada masa tersebut. Dalam artikel ini, kami akan memberikan rekomendasi 15 novel berlatarkan sejarah Indonesia yang dapat membuat Anda merasakan tegangnya masa lalu kita.
1. Laut Bercerita – Leila S. Chudori
Novel ini mengangkat kisah kelam pada tahun 1998, saat bangsa Indonesia mengalami kejadian yang menguras emosi. Perjuangan untuk melengserkan rezim Orde Baru benar-benar menyayat hati. Meskipun merupakan karya fiksi, Laut Bercerita didasarkan pada kisah nyata para aktivis pra-reformasi. Novel ini memaparkan fakta-fakta sejarah masa lalu dan mengingatkan kita akan apa yang terjadi pada masa tersebut. Cerita ini terbagi menjadi dua bagian dan dua sudut pandang. Bagian pertama mengisahkan kepedihan dan ketakutan sebagai seorang aktivis kritis pada tahun 1991-1998. Bagian kedua menceritakan tentang seorang keluarga yang kehilangan saudaranya pada tahun 2000-2007.
2. Segala yang Diisap Langit – Pinto Anugerah
Novel ini berlatar pada masa perang Padri di abad ke-19. Kisah ini bukanlah tentang perjuangan melawan Belanda atau tentang Tuanku Imam Bonjol, tetapi tentang tragedi yang menimpa keluarga bangsawan Minangkabau yang menjadi korban atau pelaku perang Padri. Rabiah, tokoh utama dalam novel ini, memiliki kepribadian yang kuat dengan ambisi tinggi untuk mematahkan mitos bahwa garis keturunan keluarga bangsawan Minangkabau akan putus pada generasi ke-7. Namun, ia dihadapkan pada kakaknya sendiri yang ingin menghancurkan segalanya yang dimiliki Rabiah. Novel ini menggambarkan perubahan zaman dari kejayaan bangsawan Minangkabau yang hidup dari tambang emas menuju kekuasaan gerakan Kaum Padri di Sumatera Barat.
3. Tetralogi Buru – Pramoedya Ananta Toer
Tetralogi ini dimulai dengan novel Bumi Manusia dan merupakan serial novel yang menggambarkan diskriminasi yang dialami bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Novel ini mengisahkan perjuangan Minke, seorang pencetus pers pribumi dan pergerakan nasional. Dalam perjalanan hidupnya, Minke berjuang melawan penjajahan kolonial sambil mempertahankan nilai-nilai kesopanan. Tetralogi ini juga menggambarkan perjuangan Nyai Ontosoroh, seorang wanita pribumi yang berusaha mempertahankan usahanya.
4. Pulang – Leila S. Chudori
Novel ini menceritakan perjalanan hidup Dimas Suryo, seorang tahanan politik eks G30S tahun 1965, yang kini tinggal di Prancis. Ia berhasil selamat dari peristiwa pembantaian itu. Namun, karena rezim Orde Baru masih berkuasa, ia tetap dianggap sebagai tahanan politik dan tidak diterima di tanah kelahirannya, Indonesia. Meskipun memiliki unsur politik yang kental, novel ini sangat mudah dibaca karena gaya penulisan Leila S. Chudori yang menciptakan cerita yang sangat membumi.
5. Sang Keris – Panji Sukma
Novel ini mengambil sudut pandang sebuah keris bernama Kanjeng Kyai Karonsih. Melalui sudut pandang keris ini, pembaca akan diajak untuk menjelajahi sejarah Indonesia sejak masa kerajaan, kolonial, hingga zaman modern. Melalui perjalanan sebilah keris yang terus berpindah tangan, banyak tokoh yang muncul di setiap babnya dengan cerita yang berbeda-beda mengikuti era yang sedang berlangsung. Keris ini menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa sejarah, seperti perebutan harta, tahta, juga wanita, serta pemilihan pemimpin politik.
6. Orang-Orang Proyek – Ahmad Tohari
Novel ini mengisahkan Kabul, seorang insinyur yang bekerja sebagai pelaksana proyek jembatan pada masa Orde Baru. Namun, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa proyek jembatan tersebut telah menjadi ajang korupsi. Kabul terjebak dalam dilema antara mempertahankan standar mutu jembatan yang sesuai atau menuruti tekanan agar proyek segera selesai demi kepentingan pribadi. Entrok menjadi cerita tentang bagaimana negara memperlakukan rakyat kecil pada masa itu.
7. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari
Trilogi ini menceritakan tentang Srintil, seorang ronggeng yang membawa kehidupan kembali ke dukuh yang miskin dan bersahaja, Dukuh Paruk. Namun, kecantikan Srintil menjadi bumerang baginya karena ia harus rela menjadi objek seksualitas. Peristiwa politik di tahun 1965 menghancurkan dukuh ini, dan penduduknya terbawa arus dan dianggap ikut serta dalam peristiwa itu. Srintil menyadari hakikatnya sebagai manusia dan berusaha keluar dari stigma negatif yang melekat pada dirinya.
8. Tanah Surga Merah – Arafat Nur
Novel ini berlatar di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan mengangkat konflik politik yang terjadi di sana. Kisahnya berpusat pada Murad, seorang mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan mantan anggota Partai Merah, yang pulang ke kampung halamannya setelah lima tahun melarikan diri dan menemukan kenyataan yang sulit diterima. Partai Merah dulu dianggap sebagai pihak yang bisa membawa perdamaian di Aceh, tetapi Murad menemukan bahwa pihak tersebut jauh berbeda setelah perdamaian antara Aceh dan pemerintah Indonesia tercapai. Murad dituduh dan dikejar oleh banyak orang. Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Murad dan apakah nasibnya akan berakhir bahagia atau tidak.
9. Amba – Laksmi Pamuntjak
Amba menceritakan kisah seorang perempuan cantik yang terpaksa harus memuaskan nafsu para tentara Jepang pada masa akhir kolonial. Setelah dijebak menjadi seorang tahanan, ia melahirkan tiga putri yang cantik namun tidak tahu siapa ayahnya. Novel ini melintasi berbagai masa di Indonesia, mulai dari penjajahan Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, hingga peristiwa G30S. Novel ini menggambarkan peristiwa sejarah dan masyarakat kecil pada masa itu.
10. Entrok – Okky Madasari
Entrok menggambarkan sikap negara terhadap rakyat kecil pada masa Orde Baru. Kisah ini berpusat pada Marni, seorang perempuan biasa yang sangat menginginkan bra atau entrok, yang pada masa itu dianggap sebagai simbol kemewahan. Dalam perjalanan hidupnya, Marni menyadari ketidakadilan yang ada dalam sistem pemerintahan dan mengalami kekecewaan. Novel ini menggambarkan perjuangan Marni dan bagaimana ia tetap bertahan dalam situasi yang sulit.
11. Max Havelaar – Multatuli
Max Havelaar merupakan salah satu karya sastra terkenal yang menggambarkan ketidakadilan yang dialami rakyat pribumi di era penjajahan Belanda. Novel ini ditulis oleh Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, seorang anggota Dewan Pengawas Keuangan Pemerintah Belanda pada tahun 1840. Melalui novel ini, Multatuli mengkritik sistem kolonial yang merampas hak-hak rakyat pribumi dan memperlihatkan penderitaan yang mereka alami.
12. Gadis Kretek – Ratih Kumala
Gadis Kretek mengisahkan perjalanan Lebas, Karim, dan Tegar, pewaris Kretek Djagad Raja, yang mencari Jeng Yah sebelum sang ayah meninggal. Mereka menelusuri Jawa untuk menemukan Jeng Yah, dan perjalanan ini juga mengungkap rahasia kelam keluarga serta perkembangan industri kretek di Indonesia.
13. Burung-burung Manyar – Y.B. Mangunwijaya
Burung-burung Manyar mengambil latar waktu dari penjajahan Belanda hingga kemerdekaan. Novel ini mengisahkan perjuangan Atik, seorang perempuan yang bekerja membantu Sjahrir dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di samping itu, novel ini juga memperlihatkan hubungan emosional antara Atik dan Teto, kekasihnya yang bergabung dengan tentara Belanda.
14. Teh dan Pengkhianat – Iksaka Banu
Teh dan Pengkhianat berisi 13 cerita pendek yang menggambarkan sejarah berwarna-warni Indonesia pada masa kolonial. Cerita-cerita ini bukan hanya tentang perjuangan melawan penjajahan, tetapi juga mengangkat masalah kemanusiaan, fanatisme, pengorbanan, dan perjuangan melawan ketidakadilan.
15. Cantik itu Luka – Eka Kurniawan
Cantik itu Luka mengisahkan Dewi Ayu, seorang perempuan cantik keturunan Indo-Belanda di masa akhir kolonial. Akibat situasi yang sulit, ia terpaksa memenuhi nafsu para tentara Jepang. Ia melahirkan tiga putri yang cantik namun tidak tahu siapa ayah mereka. Novel ini melintasi berbagai masa di Indonesia, dari penjajahan Belanda hingga masa G30S. Melalui ceritanya, Eka Kurniawan mengungkap kutukan dan tragedi keluarga, sejarah politik, mitologi, dan petualangan.
Itu dia 15 rekomendasi novel berlatarkan sejarah Indonesia yang dapat membawa Anda merasakan tegangnya masa kelam tersebut. Melalui novel-novel ini, Anda dapat memahami perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan menghadapi berbagai konflik politik dan sosial. Selamat membaca!
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.