Disaster Recovery Center
Dalam bahasa Indonesia, Disaster Recovery Center atau DRC dapat diartikan sebagai Pusat Pemulihan Bencana. Lokasi ini khusus digunakan untuk menempatkan sistem, aplikasi, dan data cadangan perusahaan ketika terjadi gangguan serius atau bencana yang melanda berbagai unit kerja di perusahaan, termasuk pusat penyimpanan dan pengolahan data dan informasi. Bank Indonesia, yang merupakan Bank Sentral di Indonesia, menganjurkan agar semua bank memiliki DRC agar dapat menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Perusahaan yang memiliki layanan demografis yang luas, DRC mereka harus berjarak minimal 35 kilometer dari pusat data perusahaan. Keberadaan DRC ini dapat membantu departemen IT dalam membuat rencana pemulihan data saat terjadi kehilangan akibat gangguan.
Terdapat beberapa jenis DRC yang dapat diimplementasikan, yakni:
1. Cold DRC
Cold DRC menyediakan sistem seperti yang terdapat di pusat data, dimana aplikasi dan data akan diunggah sebelum fasilitas DRC dapat digunakan. Proses pemindahan dari pusat data ke lokasi DRC akan dilakukan secara manual.
2. Warm DRC
Warm DRC menyediakan komputer dengan komponen seperti aplikasi, link komunikasi, dan backup data terbaru. Sistem tidak secara otomatis pindah, namun masih memerlukan proses manual yang minimal.
3. Hot DRC
Hot DRC mengatur operasional bisnis dengan cepat menggunakan link komunikasi yang telah dipasang dan tersedia di lokasi DRC. Data terus-menerus dibackup menggunakan koneksi langsung antara pusat data dan lokasi DRC, sehingga operasional dapat berjalan segera tanpa harus mematikan sistem di pusat data yang lama.
DRC memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan bisnis perusahaan ketika terjadi bencana, seperti gempa bumi, banjir, atau kebakaran. Dengan adanya DRC, perusahaan dapat memastikan bahwa sistem, aplikasi, dan data penting dapat dipulihkan dengan cepat dan efisien setelah terjadinya gangguan.
Keberadaan DRC juga dapat membantu dalam mengurangi risiko kehilangan data dan informasi yang penting. DRC menjadi tempat yang aman untuk menyimpan salinan cadangan data sehingga tidak hilang atau rusak ketika terjadi bencana. Selain itu, DRC juga memberikan perlindungan fisik yang lebih baik bagi peralatan teknologi, seperti komputer dan server, sehingga risiko kerusakan dapat diminimalkan.
Dalam mengimplementasikan DRC, perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa faktor, seperti lokasi strategis yang aman dari risiko bencana, fasilitas yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, serta konektivitas yang baik antara pusat data dan lokasi DRC. Selain itu, perusahaan juga perlu mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk membangun dan menjaga DRC agar selalu siap digunakan.
DRC bukan hanya menjadi kebutuhan bagi perusahaan teknologi atau perbankan, tetapi juga penting bagi perusahaan dari berbagai sektor. Setiap perusahaan, terlepas dari ukuran dan jenis industri, memiliki data dan informasi yang penting untuk dijaga dan dipulihkan saat terjadi gangguan. Oleh karena itu, memiliki DRC adalah langkah yang bijak untuk mengantisipasi dan mengurangi dampak dari bencana atau gangguan serius yang dapat menghancurkan perusahaan.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.