23 Cara Membuat Tanah Lebih Subur, Salah Satunya Pakai Pupuk Kimia?


Jenis-Jenis Tanah di Indonesia

1. Tanah Regosol

Tanah Regosol merupakan salah satu jenis tanah di Indonesia yang termasuk dalam subtipe tanah Entisol. Jenis tanah ini terbentuk dari pelapukan material vulkanik seperti pasir, lava, debu, dan lipili. Tanah Regosol memiliki tekstur kasar dengan pH antara 6-7 dan mengandung unsur hara seperti P, K, dan beberapa N.

Namun, meskipun memiliki tekstur kasar, tanah Regosol sulit menahan air sehingga tidak semua jenis tanaman cocok untuk ditanam di tanah ini. Beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di tanah Regosol adalah palawija, tembakau, dan pohon buah-buahan yang tidak terlalu membutuhkan unsur air. Tanah Regosol biasanya ditemukan di daerah dekat Gunung Merapi, seperti di Sumatera dan Nusa Tenggara.

2. Tanah Latosol

Tanah Latosol adalah jenis tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan sedimen dan batuan metamorf. Tingkat pertumbuhan pakaian dalam tanah ini tergolong lambat hingga rata-rata. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang lembap dan basah di daerah tempat tanah ini ditemukan.

Tanah Latosol memiliki warna merah hingga coklat dengan pH antara 4,5 dan 6,5. Tanah ini juga mengandung unsur hara sedang hingga tinggi. Salah satu karakteristik yang membuat tanah Latosol menjadi subur adalah kemampuannya dalam menyerap air yang baik sehingga tahan terhadap erosi.

Tanaman yang cocok untuk ditanam di tanah Latosol antara lain tembakau, kakao, pala, tebu, dan vanili. Jenis tanah Latosol ini banyak ditemukan di daerah seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

3. Tanah Organosol

Tanah Organosol merupakan jenis tanah yang terbentuk melalui proses pelapukan dan penguraian bahan organik. Jenis tanah ini dapat ditemukan di daerah rawa atau daerah banjir besar. Karena terbentuk dari bahan organik, tanah Organosol memiliki tekstur yang lembut dan rentan terhadap genangan air.

Ada dua jenis tanah Organosol, yaitu humus dan gambut. Tanah Organosol yang terbentuk dari humus cenderung memiliki kandungan unsur hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah Organosol yang terbentuk dari gambut.

4. Tanah Aluvial

Tanah Aluvial merupakan jenis tanah yang banyak ditemukan di bagian hilir sungai. Tanah ini terbentuk dari pengendapan material halus yang dibawa oleh aliran sungai. Tanah Aluvial memiliki struktur yang longgar dan berwarna abu-abu. pH tanah ini biasanya berada pada kisaran rendah, yaitu sekitar 5,3-5,8.

Kualitas tanah Aluvial sangat bergantung pada iklim di daerah tersebut. Tanah Aluvial yang terdapat di Jawa, Sumatera, dan Papua, misalnya, cocok untuk menanam padi dan tanaman lainnya.

5. Tanah Podsolik Merah Kuning (PMK)

Tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) merupakan jenis tanah yang memiliki warna merah hingga kuning. Warna tersebut menandakan bahwa tanah tersebut kurang subur akibat proses pencucian. Tanah PMK terbentuk oleh curah hujan yang deras dan suhu yang sangat rendah.

pH tanah PMK biasanya rendah dan mengandung banyak unsur Al dan Fe. Selain itu, tanah ini juga mengandung kriteria tanah humus dan mudah lembab. Tanaman yang cocok untuk ditanam di tanah PMK antara lain persawahan. Tanah PMK tersebar merata di Indonesia.

6. Tanah Laterit

Tanah Laterit adalah jenis tanah yang memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan PMK. Unsur hara di dalam tanah Laterit melimpah, namun dapat hilang ketika terlarut oleh air hujan. Tanah Laterit ini banyak mengandung sesquioxides yang membuatnya kurang cocok untuk beberapa tanaman.

Beberapa tanaman yang cocok untuk ditanam di tanah Laterit adalah jambu mete dan kelapa. Jenis tanah Laterit ini dapat ditemukan di wilayah Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

See also  85+ Kata Kata Santri Yang Bijak Dan Lucu Mengenai Kehidupan

7. Tanah Litosol

Tanah Litosol adalah jenis tanah yang masih satu famili dengan tanah Regosol. Tanah ini terbentuk melalui proses perubahan iklim topografi dan aktivitas vulkanik. Struktur tanah Litosol cenderung besar dan rendah unsur hara, sehingga hanya dapat digunakan untuk tanaman palawija.

Tanah Litosol dapat ditemukan di Sumatera, Jawa, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara.

8. Tanah Rendzina

Tanah Rendzina memiliki tekstur lembut dan sangat permeabel. Tanah ini terbentuk dari basal, batugamping, dan granit. Karena memiliki tingkat permeabilitas yang tinggi, tanah Rendzina memiliki kemampuan yang baik dalam menahan air.

Tanah Rendzina memiliki kandungan unsur Ca, Mg, dan sedikit unsur hara lainnya dengan pH yang tinggi. Tanah ini cocok untuk menanam tanaman keras musiman dan tanaman sampingan. Tanah Rendzina dapat ditemukan di Aceh, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

9. Tanah Mediteran

Tanah Mediteran terdiri dari batugamping yang kaya akan karbonat. Tanah ini banyak mengandung air, Al, Fe, dan zat organik lainnya. Kandungan mineral dalam tanah Mediteran membuatnya sangat subur dan cocok untuk persawahan basah. Tanah Mediteran banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

10. Tanah Grumusol

Tanah Grumusol terbentuk dari strata batugamping dan vulkanik, dan biasanya bersifat basa. Tanah dengan kandungan liat tinggi termasuk dalam kelompok Vertisols. Meskipun tanah Grumusol termasuk dalam tanah yang kurang subur, masih ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh di tanah ini, seperti jati dan rerumputan. Tanah Grumusol dapat ditemukan di Sumatera Barat, Jawa, dan Nusa Tenggara Timur.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki beragam jenis tanah yang memiliki karakteristik dan kelebihan masing-masing. Mengetahui jenis tanah yang ada di sekitar kita sangat penting dalam membantu menentukan jenis tanaman yang cocok untuk ditanam dan cara pemupukan yang tepat.

Cara Menyuburkan Tanah

Setelah mengetahui jenis-jenis tanah di Indonesia, selanjutnya adalah mengetahui cara menyuburkan tanah agar tanaman tumbuh dengan maksimal. Berikut ini adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanah.

1. Metode Mekanik

Metode penyuburan tanah yang pertama adalah dengan pendekatan mekanik yang berfokus pada pengelolaan tanah untuk memodifikasi strukturnya. Berikut ini adalah beberapa metode mekanik yang dapat digunakan:

a. Menyiram dengan Air

Tanah yang kekurangan air dapat menyebabkan tanaman menjadi kering dan sulit untuk tumbuh. Jika kondisi cuaca dan iklim tidak mendukung adanya hujan yang cukup, penyiraman buatan dapat dilakukan. Air dapat disiramkan secara merata menggunakan sprinkler atau sistem irigasi lainnya.

b. Membuat Jalur Irigasi

Metode irigasi yang paling umum digunakan adalah penyiraman dari saluran sungai. Dalam metode ini, saluran air dibuat dari sungai sehingga air dapat secara otomatis mengalir ke tanah. Lokasi tanah harus diperhatikan agar terletak di bawah aliran sungai atau sejajar dengan aliran sungai agar air dapat mengalir melalui tanah.

Jika posisi geografis dan astronomi sungai tidak memungkinkan, pompa dapat digunakan untuk memompa air secara artifisial. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan pompa memerlukan energi. Air yang mengalir akan membasahi tanah dan bergabung dengan molekul tanah.

c. Membuat Jalur Pengaliran Limbah

Saluran irigasi biasanya berasal dari sungai atau sumber air lain yang memiliki sedikit kandungan bahan organik (autotrof). Namun, bahan organik tersebut dapat ditambahkan ke tanah melalui saluran irigasi jika air yang digunakan mengandung banyak nutrisi (eutrofikasi). Contohnya adalah air limbah domestik dari pemukiman.

Air limbah domestik dapat digunakan dengan baik dalam sistem ini. Limbah domestik mengandung bahan organik yang dapat digunakan sebagai pupuk untuk tanaman. Namun, perlu diperhatikan kualitas air limbah domestik ini. Jika limbah terkontaminasi oleh senyawa kimia berbahaya, air limbah tidak akan layak untuk digunakan.

See also  Alasan Pria Susah Berpaling Setelah Berhubungan Alias Susah Move On

d. Membajak Lahan

Pembajakan lahan berguna untuk membalikkan tanah, terutama di daerah yang berada di zona topsoil (0 – 20 cm dari permukaan tanah). Pada masa lampau, pembajakan tanah dilakukan secara manual menggunakan cangkul atau dengan bantuan hewan seperti kerbau. Saat ini, pembajakan tanah biasanya dilakukan menggunakan mesin traktor. Tanah yang telah dibajak akan terangkat dan menjadi gembur.

Tanah yang gembur memiliki rongga-rongga di dalam strukturnya (tidak padat), di mana organisme tanah seperti cacing dan mikroorganisme dapat hidup. Struktur tanah yang gembur juga memungkinkan akar tanaman untuk lebih mudah menerima oksigen.

e. Penguatan Tanah

Tanah yang gersang seringkali tidak stabil dan rentan terhadap erosi. Hal ini menjadi lebih parah jika topografinya memiliki kemiringan yang curam. Untuk mengatasi hal ini, dapat dibuat parit atau terasering agar tanah dapat menerima air irigasi dengan lebih baik. Batu buatan dan jaring juga dapat digunakan untuk menjaga posisi tanah.

f. Meningkatkan Porositas Tanah

Porositas tanah sangat tergantung pada komposisi tanah. Tanah dengan porositas tinggi memiliki kandungan partikel besar (pasir) yang lebih sedikit dibandingkan dengan partikel yang lebih kecil (silt dan lempung). Porositas yang tinggi berguna untuk menahan air dan nutrisi di dalam tanah agar tidak terbawa oleh air. Oleh karena itu, pada tanah dengan porositas yang rendah, dapat ditambahkan partikel lempung sehingga dapat meningkatkan porositas tanah.

2. Metode Non-Biologis

Metode non-biologis mengubah kondisi kimia tanah dengan memasukkan sejumlah material ke dalam tanah. Beberapa metode non-biologis yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Menambahkan Pupuk Kimia

Jika tanah kekurangan zat esensial seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, pupuk kimia dapat ditambahkan ke dalam tanah. Pupuk kimia mengandung senyawa kimia yang dapat langsung diserap oleh tanaman. Beberapa jenis pupuk kimia yang banyak digunakan adalah NPK, ZA, dan urea.

Namun, penggunaan pupuk kimia harus dilakukan dengan hati-hati, karena jika dosisnya terlalu tinggi, senyawa yang tidak diserap oleh tanaman dapat terbawa oleh air dan masuk ke dalam air tanah, yang dapat mencemari sumber air.

b. Menambahkan Mineral

Selain zat esensial, beberapa jenis tanah juga kekurangan mineral tertentu yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Mineral-mineral tersebut antara lain boron, klorin, tembaga, kobalt, besi, mangan, magnesium, molibdenum, belerang, dan seng. Mineral ini biasanya berasal dari batuan yang telah lapuk. Dalam hal ini, penambahan mineral dilakukan dengan cara menambahkan batuan ke dalam tanah.

c. Menambahkan Batuan Halus

Beberapa senyawa dapat ditambahkan ke dalam tanah melalui penambahan batuan halus, seperti batuan fosfat. Batuan fosfat mengandung tidak hanya fosfor, tetapi juga karbon, kalsium, dan bahan mineral tambahan lainnya yang berguna untuk kelembaban dan peningkatan kesuburan tanah. Namun, sebagian batuan fosfat juga mengandung logam berat yang signifikan.

Agar penggunaan batuan fosfat menjadi efektif, batuan dihaluskan hingga ukuran yang lebih kecil, kemudian ditambahkan bersama dengan pupuk kandang. Asam dari pupuk kandang akan melarutkan fosfat dalam batuan fosfat. Sebaliknya, fosfat akan menstabilkan nitrogen yang berasal dari pupuk kandang.

d. Debu Granit dan Glaukonite

Debu granit dan glaukonite dapat digunakan untuk meningkatkan kandungan kalium dalam tanah. Debu granit mengandung sekitar 1-5% kalium, sedangkan sisanya adalah mineral tambahan. Namun, debu granit kurang larut dalam air, sehingga hanya sedikit kalium yang dapat larut dalam waktu singkat.

Namun, debu granit memiliki efek positif sebagai pupuk lepas lambat, sehingga penambahannya tidak perlu sering seperti senyawa anorganik lainnya. Hal yang sama berlaku untuk glaukonite atau pasir hijau.

See also  7+ Cara Menghilangkan Noda Kuning di Baju Putih

e. Debu Basal

Debu basal merupakan tanah yang hasil dari pelapukan batuan yang bisa ditemukan di daerah gunung berapi yang masih aktif. Debu basal sangat baik digunakan sebagai bahan penyubur tanah karena mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

f. Mengatur pH Tanah

Mengatur pH tanah adalah langkah penting dalam menyuburkan tanah. pH tanah yang dianggap normal berada dalam kisaran 6-8. Jika pH tanah terlalu rendah, maka dapat ditambahkan ion karbonat dari batu kapur untuk menaikkannya. Sedangkan jika pH tanah terlalu tinggi, dapat dilakukan normalisasi dengan ion sulfat dari batu gypsum.

g. Menghambat Pembuangan Nitrogen

Nitrogen yang hilang dari tanah dapat membuat kesuburan tanah terganggu. Oleh karena itu, perlu ada cara untuk menghambat pembuangan nitrogen ke udara. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan senyawa inhibitor alami, seperti menggunakan tanaman tebu.

3. Metode Biologis

Metode biologis menggunakan komponen organisme hidup, seperti mikroorganisme dan organisme tanah lainnya, untuk meningkatkan kesuburan tanah. Berikut ini adalah beberapa metode biologis yang dapat digunakan:

a. Menambahkan Bahan Organik dan Pupuk

Penambahan bahan organik, seperti kompos dan pupuk kandang, bertujuan untuk meningkatkan kualitas tanah secara keseluruhan. Bahan organik ini dapat mengaktifkan mikroorganisme dalam tanah yang dapat menguraikan bahan organik tersebut.

b. Lengkapi dengan Materi Hewani

Materi hewan, seperti darah, tulang, dan bulu hewan, memiliki kandungan nitrogen yang baik dan dapat digunakan sebagai pupuk organik.

c. Gunakan Serabut dan Abu Gergaji

Serabut dan abu gergaji dapat digunakan untuk menambah kandungan nitrogen dalam tanah. Kedua bahan tersebut memiliki kadar nitrogen yang cukup tinggi, yaitu sekitar 3%.

d. Manfaatkan Lamun

Lamun adalah jenis rumput laut yang mengandung kalium yang penting bagi tanah. Tanaman lamun dapat membantu melepaskan mineral dalam tanah, mendorong pertumbuhan tanaman, dan mencegah hama.

e. Cobalah Materi Ikan

Pemupukan tanah juga dapat dilakukan menggunakan bahan organik ikan yang kaya nutrisi. Bahan organik ikan akan membuat tanah subur dan tidak steril.

f. Gunakan Kascing

Kascing merupakan bahan organik berupa cacing tanah yang dapat membentuk struktur tanah dan menggemburkannya. Kascing juga dapat mempercepat penyerapan unsur hara oleh tanah.

g. Perbanyak Pupuk Kandang

Pupuk kandang yang berasal dari kotoran ternak atau unggas kaya akan nitrogen, fosfor, dan kalium. Oleh karena itu, pupuk kandang sangat cocok untuk meningkatkan kesuburan tanah.

h. Maksimalkan Pupuk Kompos

Pupuk kompos yang berasal dari bahan hijau, seperti daun dan ilalang, sangat baik untuk menambah kesuburan tanah. Pupuk kompos mengandung rasio C/N yang tepat dan bersih dari bakteri patogen.

i. Buat Tutupan Hijau (Green Manure)

Tutupan hijau atau green manure dapat dilakukan dengan menanam tanaman seperti ilalang dan tanaman sederhana lainnya. Saat tanaman tersebut mati, tanaman tersebut akan menjadi makanan yang bernutrisi bagi tanaman utama.

j. Tambah Pupuk Hayati

Pupuk hayati merupakan pupuk yang mengandung senyawa untuk kesuburan tanah dan juga mikroba tertentu. Pupuk hayati berperan dalam membantu proses dekomposisi bahan organik dan memperbaiki struktur tanah.

Dengan menggunakan metode-meode di atas secara bersamaan atau menggabungkan beberapa metode tersebut, tanah dapat disuburkan dan tanaman dapat tumbuh dengan maksimal. Penting untuk terus memonitor dan melaksanakan pemupukan secara teratur untuk menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan hasil pertanian.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?