Buku Kumpulan Puisi yang Cocok Dibaca Saat Musim Hujan

Buku kumpulan puisi adalah salah satu pilihan bacaan yang sempurna untuk menikmati musim hujan. Suasana dingin dan hujan yang mengguyur di luar akan semakin membuat kita merasa nyaman saat membaca puisi-puisi yang syahdu dan puitis. Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang memiliki keindahan dan kekuatan dalam menyampaikan perasaan serta pemikiran seseorang. Melalui rangkaian kata-kata yang indah, puisi mampu mengungkapkan isi hati dengan cara yang tidak bisa digantikan oleh bentuk ekspresi lainnya.

Di hari-hari yang sejuk di musim hujan, mari kita nikmati puisi-puisi indah yang menghiasi buku-buku kumpulan puisi berikut ini. Dalam buku-buku ini, kita akan menemukan beragam bahasan yang dibalut dengan kata-kata khas estetik yang membuatnya semakin indah. Berikut adalah beberapa rekomendasi buku kumpulan puisi terbaru yang cocok untuk menemani hari-hari sejuk di musim hujan.

1. “e___y” – Gratiagusti Chananya Rompas

Dalam buku ini, Gratiagusti Chananya Rompas kembali mempersembahkan puisi-puisi indahnya. Puisi-puisi tersebut mengungkapkan kegundahan hati dan pikiran penulis dalam menjalani hidup. Rangkaian kata-kata puitis yang digunakannya memberikan kebebasan dalam mengekspresikan apapun yang ia rasakan. Dalam buku ini, kita akan menemukan puisi-puisi yang menceritakan tentang kehidupan, cinta, dan hal-hal lainnya yang mempengaruhi perasaan penulis. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“bunga bunga tumbuh menjadi semak belukar di antara gigimu menjalar menyelubungi kepala melingkari leher dan perlahan merayap membungkusmu sampai ke ujung jari-jari tangan kakimu merampas segala yang istimewa dari tubuhmu—”

2. “Tempat Paling Liar di Muka Bumi” – Theoresia Rumthe & Weslly Johannes

Puisi-puisi dalam buku ini ditulis oleh pasangan Theoresia Rumthe dan Weslly Johannes. Buku ini bukan hanya sekedar tentang cinta, tapi juga mengungkapkan keistimewaan dari hal-hal sederhana dalam hubungan pasangan. Keberadaan pasangan yang disyukuri setiap helainya, kulit, napas, hingga pikiran mereka diungkapkan melalui puisi-puisi yang indah. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Jika ada tempat paling liar di muka bumi maka itu adalah kemilau hitam pada bola matamu, ia mampu menelan malam juga kesedihan, dan menggantinya dengan bintang.”

3. “Kink” – Ray Shabir

Buku ini merupakan karya puisi dari seorang model dan penulis, Ray Shabir. Dalam buku ini, Ray Shabir mengungkapkan perasaan sakit yang selama ini ia rasakan dan pendam dalam dirinya. Selain rangkaian kata-kata puitis dalam bahasa Inggris, buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang didominasi oleh warna merah muda. Melalui puisi-puisi yang ia tulis, Ray Shabir menemukan kelegaan dari perasaan yang ia alami dan menjadikan puisi sebagai pelajaran dalam memperlakukan diri dengan baik. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Apocalypso. Apocalypso. Apocalypso. I’ll scream your name when the reign is ours.”

4. “The Lyrics of Self-Acceptance” – R. Yuki Agriardi

Buku ini merupakan perpaduan antara seni gambar yang penuh warna-warni dan petikan-petikan pendek yang ditulis oleh Yuki R. Agriardi. Puisi-puisi dalam buku ini menceritakan tentang bagaimana Yuki memahami dirinya sendiri dalam berbagai situasi dan perasaan yang ia alami. Rasa yang selama ini ia pendam diberikan bentuk melalui gambar-gambar krayon dan kata-kata yang ditulis di dalam buku ini. Buku ini juga dapat menjadi panduan bagaimana cara berbenah diri dan merefleksi diri. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

See also  Biografi Yeji ITZY dan Perjalanan Karirnya Sebagai Leader Grup!

“Do I ever notice is it privilege to have choice?”

5. “Kepada Cium” – Joko Pinurbo

Buku ini adalah kumpulan puisi dari penyair Joko Pinurbo yang pertama kali terbit pada tahun 2007. Buku ini memuat 30 kumpulan puisi tulisan Joko Pinurbo dari tahun 2005-2006. Puisi-puisi yang ditulis oleh Jokpin memiliki ciri khas yang jenaka dan unik, namun tetap memberikan kesan yang getir dalam membahas isu kehidupan. Melalui buku ini, kita akan merasakan berbagai emosi dan membayangkan situasi tanpa batas. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Uang, berilah aku rumah yang murah saja yang cukup nyaman buat berteduh senja-senjaku, yang jendelanya hijau menganga seperti jendela mataku.”

6. “Tantrum” – Adhan Akram

Puisi-puisi dalam buku ini menggambarkan perasaan yang kusut di dalam emosi dan pikiran Adhan Akram. Puisi-puisi tersebut menjelaskan perasaan yang ia alami dari tahun 2018 hingga 2019. Buku ini dilengkapi dengan beberapa foto yang memberikan gambaran tentang puisi-puisi yang terdapat di dalamnya. Buku ini cocok untuk mereka yang sedang menghadapi banyak pikiran namun belum mengetahui cara menyampaikannya kepada orang lain. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“bibit kegelisahan yang aku tanam pada kering tubuh ini, semakin bertunas dari hari ke hari. merambat buas dan tak pernah puas. menyerap, haus, dan tak kenal putus.”

7. “Buku Minta Disayang” – Rintik Sedu

Buku ini mengisahkan tentang perjalanan cinta yang berakhir, baik itu melalui PDKT, jatuh cinta, putus, dan rasa ingin menyayangi seseorang. Puisi-puisi dalam buku ini tidak hanya sekadar penggalan, tetapi juga memiliki alur cerita yang membuat buku ini terasa interaktif. Buku ini hadir untuk memberikan pelukan dan hiburan kepada pembaca. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Beberapa perasaan tak ingin diabadikan. Mereka hanya ingin dititipkan dan dilepaskan di waktu yang baik.”

8. “Home Body” – Rupi Kaur

Buku ini merupakan karya ketiga dari Rupi Kaur, seorang penyair yang terkenal di kalangan anak muda. Dalam buku ini, Rupi Kaur berhasil mengumpulkan puisi-puisi pendek yang telah ia tulis dan unggah di akun Instagram-nya. Meskipun pendek, puisi-puisi dalam buku ini memiliki kekuatan dalam menyampaikan kecemasan dan depresi yang dirasakan oleh penulis. Puisi-puisi ini mengajak kita untuk hidup dengan lebih sadar dan menyadari mana yang penting dan nyaman dalam kehidupan. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“aku berhenti melawan perasaan tidak nyaman dan menerima bahwa kebahagiaan tidak berhubungan dengan rasa nyaman sepanjang waktu – seimbang.”

See also  Review Novel Re: dan peRempuan

9. “Digulung Pandemi, Digalaukan Chat History” – Faizal Reza

Buku ini mengungkapkan perasaan kesepian dan gelisah akibat putus cinta di masa pandemi. Puisi-puisi dalam buku ini menyampaikan kisah cinta yang terikat di masa lalu dan segala hal di masa pandemi. Melalui puisi-puisi ini, penulis menggambarkan bagaimana perasaan seorang yang baru saja mengalami putus cinta di tengah pandemi. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“berakhirnya kita akan kukisahkan bersama pohon yang menjadi beton, sungai yang menjadi kolam renang, sawah yang menjadi mal, kampung yang menjadi pabrik, atau tetangga yang bekerja menjadi para penjaga. karena kalau tak dilebih-lebihkan atau dihebat-hebatkan, cinta kita terlalu biasa saja.”

10. “Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau” – M. Aan Mansyur

Buku ini merupakan pemenang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2021 sebagai Karya Puisi Terbaik. Puisi-puisi dalam buku ini mengungkapkan perasaan cinta, rindu, luka, dan kecewa, baik kepada pasangan, keluarga, maupun negara. Buku ini menggambarkan kegelisahan penulis dalam 41 puisi yang terdapat di dalamnya. Terdapat juga sajak-sajak tentang keluarga yang manis, hingga sajak-sajak yang menggugah perasaan terhadap isu negara. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“malam alangkah raya. segala perkara sudah tidur, kecuali namamu dan pikiranku. namamu kaki-kaki hujan. pikiranku sungai yang tidak lelah berjalan.”

11. “Ada Nama yang Abadi di Hati Tapi Tak Bisa Dinikahi” – Kang Maman

Buku ini menjelaskan tentang cinta di antara dua orang, rasa luka, sedih, senang, perpisahan, maupun kelanjutan sebuah hubungan. Buku ini dapat menjadi panduan bagi remaja yang baru merasakan jatuh cinta ataupun hubungan cinta yang sudah masuk pada proses pendewasaan. Ditambah dengan ilustrasi yang dihadirkan, buku ini cocok untuk melihat perspektif lain tentang makna cinta dan perpisahan. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Yang mengaku sanggup hadapi segalanya sendiri, diam-diam juga mengharapkan didampingi. Yang merasa sangat teguh kukuh, berlapis baja sekalian, butuh penguatan, butuh dikokohkan. Yang terlihat tak pernah mengeluh, tetap butuh dipeluk hingga luruh dan luluh.”

12. “mBoel” – Sapardi Djoko Damono

Buku ini merupakan buku terakhir dari Almarhum Eyang Sapardi yang dikhususkan untuk sang istri tercinta yang dipanggil mBoel. Puisi-puisi dalam buku ini tidak hanya sekadar ungkapan cinta, tetapi juga menggambarkan arti dari perdebatan, pengorbanan, percakapan, dan keserasian dalam pernikahan Sapardi Djoko Damono. Melalui buku ini, dapat dirasakan betapa indahnya interaksi seorang pasangan yang telah hidup bersama bertahun-tahun dalam kasih sayang. Dalam buku ini terdapat 80 sajak yang menggambarkan kehidupan pasangan tersebut. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Napas yang kau hela, dan kau tarik, menjauh pula, bilang aja kangen, pengin ku peluk.”

13. “I See You Like a Flower” – Na Tae Joo

Buku ini dikemas dengan ilustrasi bunga yang indah. Puisi-puisi yang ditulis oleh Na Tae Joo menggambarkan perasaan yang dalam. Buku ini tidak hanya mengungkapkan perasaan cinta dan kerinduan, tetapi juga menceritakan tentang tanggung jawab, kepedulian, perubahan waktu, dan musim. Karya Na Tae Joo sering digunakan sebagai referensi dalam drama Korea dan sering dilihat oleh para idol Korea. Buku ini cocok untuk dibaca saat musim hujan karena puisi-puisinya yang menghangatkan hati. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

See also  Rasa Daging Manusia Menurut Sumanto dan Kanibal Dunia Lainnya

“Ada jalan yang ingin kulalui meski orang berkata jangan. Ada orang yang ingin kutemui meski ia tak ingin bertemu. Ada kegiatan yang ingin kulakukan meski sudah dilarang. Hal itu adalah kehidupan dan rasa rindu. Yaitu dirimu.”

14. “Selama Laut Masih Bergelombang” – Mariati Atkah

Buku ini berisi puisi-puisi dengan tema laut yang kental dengan khas orang Sulawesi. Puisi-puisi ini menggunakan kosakata dalam bahasa Bugis dan menggambarkan kegelisahan, kesedihan, dan jatuh cinta yang bergelombang. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Berapa kali umpan harus kulemparkan, agar engkau mengerti. Aku sedang mencari, hati yang kau sembunyikan, di balik gerigi karang.”

15. “Dreams, Spelled in Poetry” – Helena Natasha

Buku ini merupakan kumpulan puisi dari Helena Natasha, seorang sastrawan populer di Korea. Puisi-puisi dalam buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh hati. Puisi-puisi tersebut tidak hanya tentang cinta, tetapi juga mengandung pesan tentang tanggung jawab, kepedulian, dan perubahan yang terjadi seiring waktu dan musim. Karya Helena Natasha sering digunakan sebagai referensi dalam drama Korea dan sering dibaca oleh para idol. Buku ini cocok untuk dibaca saat musim hujan karena puisi-puisinya yang menghangatkan hati. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Dreaming feels like boarding a magic carpet. I’m flying into the night imagination shaping the clouds, hands holding the stars. No fear, just the magic I trust. It’ll take me to a place I don’t know yet, somewhere I belong.”

16. “Panduan Sehari-hari Kaum Introver dan Mager” – Lucia Priandarini

Buku ini merupakan kumpulan puisi yang menggambarkan kehidupan sehari-hari orang-orang introver dan mager. Meskipun berjudul “panduan”, buku ini lebih condong pada kumpulan puisi yang menggambarkan fenomena sosial yang ada pada zaman sekarang. Puisi-puisi dalam buku ini mencakup fenomena sehari-hari, seperti password Wi-Fi, kecenderungan orang untuk membuka Instagram Stories sendiri, bahkan video YouTube dengan berbagai macam tutorial yang kadang-kadang sangat tidak penting. Lucia berhasil menyusun kata-kata kreatif dengan makna dalam dalam buku ini, sehingga pembaca akan merasa akrab dan dekat dengan puisi-puisi dalam buku ini. Satu bait puisi yang diambil dari buku ini adalah sebagai berikut:

“Anakku melihat jejak kanal YouTube yang kubuka. Cara membuka tutup galon tanpa merusaknya. Ia menatapku dan bertanya. Ibu, mengapa Tuhan tidak membuat tutorial tentang cara mengatur dunia?”


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?

Leave a Reply