Arsitektur Vernakular: Pengertian, Ciri-Ciri, Unsur, dan Contohnya
Pengertian Arsitektur Vernakular
Arsitektur vernakular adalah gaya atau desain arsitektur yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Gaya arsitektur ini dipengaruhi oleh budaya masyarakat lokal dan ketersediaan bahan bangunan di daerah tersebut. Istilah “vernakular” sendiri telah dikenal sejak tahun 180-an, tetapi pengembangannya baru dilakukan oleh para arsitek pada abad ke-20.
Secara umum, arsitektur vernakular mempelajari struktur bangunan rumah yang dibangun oleh masyarakat lokal. Bangunan-bangunan ini didirikan oleh penduduk setempat dengan menggunakan kemampuan dan pengetahuan mereka sendiri. Istilah vernakular berasal dari bahasa Latin, yang berarti “domestik” atau “pribumi asli”. Dalam konteks arsitektur, vernakular merujuk pada gaya arsitektur yang hanya terdapat di suatu tempat dan tidak terpengaruh oleh gaya arsitektur tempat lain.
Perbedaan Arsitektur Vernakular dan Arsitektur Tradisional
Walaupun arsitektur vernakular dan arsitektur tradisional memiliki keterkaitan, keduanya sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Arsitektur tradisional adalah salah satu jenis vernakular yang diturunkan dari generasi ke generasi dan diterima secara lisan. Arsitektur tradisional juga cenderung tetap dan tidak banyak mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.
Di sisi lain, arsitektur vernakular adalah rancangan arsitektur yang lebih kontekstual. Gaya arsitektur ini mengalami perkembangan seiring waktu dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain itu, arsitektur vernakular tidak mengandalkan tenaga ahli atau teknologi modern dalam proses pembangunannya.
Beberapa perbedaan antara arsitektur vernakular dan arsitektur tradisional adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan dan bahan bangunan: Pembangunan dengan arsitektur vernakular tidak menggunakan bantuan tenaga ahli atau teknologi modern. Masyarakat lokal daerah tersebut yang membangun dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di sekitar mereka. Di sisi lain, arsitektur tradisional sudah menggunakan tenaga ahli dan teknologi modern dalam proses pembangunan.
2. Penggunaan tenaga ahli: Arsitektur vernakular melibatkan masyarakat lokal dalam proses pembangunannya, sedangkan arsitektur tradisional lebih mengandalkan tenaga ahli di bidang arsitektur.
3. Bahan bangunan: Arsitektur vernakular menggunakan bahan bangunan alami yang ditemukan di daerah tersebut, sementara arsitektur tradisional mungkin menggunakan bahan alami serta bahan buatan manusia.
4. Gaya desain: Arsitektur vernakular lebih mengedepankan desain yang alami dan kontekstual, sedangkan arsitektur tradisional mengikuti desain yang diturunkan dari generasi sebelumnya.
Ciri-Ciri Arsitektur Vernakular
Setiap gaya arsitektur memiliki ciri khas yang membedakannya dari gaya arsitektur lainnya, termasuk juga arsitektur vernakular. Beberapa ciri khas dari arsitektur vernakular adalah sebagai berikut:
1. Bahan bangunan tradisional: Arsitektur vernakular hanya menggunakan bahan bangunan tradisional yang ada di daerah tersebut. Bahan bangunan dari luar daerah tidak digunakan.
2. Proses pembangunan tradisional: Arsitektur vernakular menggunakan teknologi tradisional dalam proses pembangunannya. Mesin berat dan teknologi modern tidak digunakan.
3. Partisipasi masyarakat lokal: Pembangunan konstruksi dengan arsitektur vernakular melibatkan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja. Masyarakat lokal yang membangun rumah-rumah dengan kemampuan mereka sendiri.
4. Pengaruh iklim daerah: Bangunan-bangunan vernakular dipengaruhi oleh kondisi iklim setempat. Misalnya, daerah dengan iklim dingin akan memiliki bangunan dengan bahan dasar alam seperti jerami dan kayu, yang memberikan efek pemanasan kepada penghuni.
5. Nilai tradisional: Bangunan-bangunan vernakular memiliki nilai-nilai tradisional yang kuat. Mereka mencerminkan budaya lokal dan adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut.
6. Penghematan biaya: Proses pembangunan dengan arsitektur vernakular cenderung lebih hemat biaya, karena hanya menggunakan bahan alami yang tersedia di sekitar daerah tersebut. Prosesnya juga tidak melibatkan mesin berat yang membutuhkan biaya operasional yang tinggi.
Unsur Pada Arsitektur Vernakular
Arsitektur vernakular memiliki unsur-unsur yang mempengaruhi pembangunan konstruksi dan makna di dalamnya. Unsur-unsur ini dapat dibagi menjadi unsur bentuk pada ranah fisik dan unsur makna pada ranah abstrak.
Unsur Bentuk Pada Ranah Fisik
Unsur bentuk dalam arsitektur vernakular berperan dalam menyampaikan pesan dari arsitek. Unsur ini dapat mempengaruhi fungsi, simbol, geografi, teknologi, dan beberapa aspek lain dalam bangunan. Dalam memahami unsur bentuk, perlu diperhatikan wujud, tekstur, dan proposisi bangunan.
Unsur Makna Pada Ranah Abstrak
Unsur makna dalam arsitektur vernakular dapat diungkapkan melalui bahasa verbal dan non-verbal seperti benda-benda dan simbol. Makna merupakan alat untuk melihat, memahami, dan mengartikan lambang serta simbol. Unsur makna dapat diketahui melalui pengamatan visual seperti warna, pencahayaan, dan tekstur.
Makna dalam arsitektur vernakular dibagi menjadi dua, yakni makna objektif dan makna subjektif. Makna objektif dapat didapat dari luar dan berhubungan dengan objek atau kejadian konkret. Sedangkan makna subjektif terkait dengan faktor internal, seperti pengamatan yang diterima oleh perasaan individu.
Contoh Arsitektur Vernakular
Ada banyak contoh bangunan konstruksi yang mengadopsi arsitektur vernakular di Indonesia. Beberapa contoh ini merupakan rumah tradisional yang mencerminkan budaya lokal dan menggunakan bahan bangunan tradisional yang ada di daerah tersebut.
Rumah Jawa
Rumah tradisional Jawa, seperti rumah Joglo, adalah salah satu contoh bangunan dengan arsitektur vernakular. Rumah Joglo memiliki bentuk persegipanjang dengan atap trapesium. Ciri khas ini memudahkan orang untuk mengenali rumah Joglo sebagai rumah tradisional Jawa.
Rumah Gadang
Rumah Gadang adalah rumah tradisional dari daerah Sumatera Barat. Rumah ini memiliki bentuk runcing yang mirip dengan tanduk kerbau. Atap rumah Gadang biasanya terbuat dari bahan alami seperti ijuk atau daun yang sudah kering. Karena daerah ini rawan gempa, rumah Gadang menggunakan bahan bangunan yang tahan terhadap goncangan gempa.
Rumah Honai
Rumah Honai adalah rumah tradisional dari Papua. Rumah ini menggunakan bahan-bahan yang mudah didapatkan di daerah tersebut, seperti jerami, kayu besi, rotan, dan rerumputan. Atap rumah Honai terbuat dari jerami, sementara lantai menggunakan campuran dari kotoran kerbau. Dinding rumah Honai menggunakan bahan bambu dan bandek.
Rumah Sasak
Rumah Sasak adalah rumah tradisional dari Lombok. Arsitektur rumah Sasak merupakan perpaduan dari arsitektur Jawa dan Bali. Bahan bangunan rumah Sasak mudah ditemukan di daerah tersebut dan ramah lingkungan. Atap rumah Sasak biasanya menggunakan jerami, sedangkan lantai menggunakan campuran dari batu dan keramik.
Contoh-contoh di atas menunjukkan kekayaan arsitektur vernakular di Indonesia. Setiap rumah tradisional mencerminkan budaya setempat dan menggunakan bahan bangunan yang mudah ditemukan di daerah tersebut.
Sebagai penutup, arsitektur vernakular merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia. Gaya arsitektur ini menghormati budaya lokal dan lingkungan sekitarnya, serta mencerminkan identitas masyarakat setempat. Dengan memahami dan melestarikan arsitektur vernakular, kita dapat menjaga warisan budaya kita dan menghargai keberagaman arsitektur yang ada di Indonesia.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.