Review Novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara Karya Leigh Bardugo
Profil Leigh Bardugo – Penulis Novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara
Sumber gambar: xprize.org
Leigh Bardugo merupakan seorang novelis wanita yang berusia 46 tahun, yang lahir pada tanggal 6 April 1975 di Yerusalem. Wanita berdarah campuran Israel dan Amerika ini dikenal karena karya novel dewasa mudanya, novel Grishaverse. Leigh Bardugo menempuh pendidikan di Yale University dan berhasil lulus pada tahun 1997 dengan mendapatkan gelar sarjana literatur Inggris. Sebelum menjadi seorang penulis, Leigh Bardugo bekerja sebagai copywriter dan jurnalis, juga sebagai seorang make up artist dengan spesialis special effect.
Novel Grishaverse yang membuatnya populer memuat duologi Six of Crows, trilogi Shadow and Bone, dan duologi King of Scars. Novel pertamanya, yakni Shadow and Bone berhasil diterbitkan pada tahun 2012. Novel Shadow and Bone berhasil meraih kesuksesan dengan menjadi nominasi di Romantic Times Book Award dan the South Carolina Children’s Book Award, disebut sebagai Indie Next List Book, serta mendapat review positif dari The New York Times.
Novel Shadow and Bone juga berhasil menempati posisi ke delapan The New York Times Best Seller List. Selain itu, buku ini juga berhasil diadaptasi menjadi series film yang kini telah tayang di Netflix. Kedua novel yang melengkapi trilogi novel Shadow and Bone yang berjudul Siege and Storm dan Ruin and Rising berhasil diterbitkan pada tahun 2013 dan 2014. Trilogi novel Shadow and Bone didefinisikan Leigh Bardugo sebagai novel bergenre fantasi yang terinspirasi dari keadaan Rusia pada awal abad ke 19.
Kemudian, duologi Six of Crows, dengan dua novel yang berjudul Six of Crows dan Crooked Kingdom berhasil diterbitkan pada tahun 2015 dan 2016. Kedua novel ini memiliki latar universe yang sama dengan trilogi novel Shadow and Bone. Duologi novel Six of Crows berhasil meraih kesuksesan juga, dengan dinobatkan sebagai novel internasional terbaik oleh German Fantasy Awards pada tahun 2018, New York Times Notable Book, dan ALA-YALSA Top Ten Pick pada tahun 2016. Duologi novel King of Scars yang masih tergabung dalam universe Grisha, memiliki dua novel dengan judul King of Scars yang diterbitkan pada tahun 2019, dan Rule of Wolves yang terbit pada tahun 2020.
Terdapat berbagai karya lain dari Leigh Bardugo yang berada di luar universe Grisha, yakni The Language of Thorns, The Lives of Saints, Demon in the Wood, Ninth House, dan Wonder Woman: Wabringer. Begitu banyak penghargaan yang didapat Leigh Bardugo karena seluruh karyanya yang mengagumkan. Hal ini juga menjadi pembuktian bahwa Leigh Bardugo merupakan seorang novelis yang sangat berbakat dan semua kualitas karyanya tidak perlu diragukan lagi.
Sinopsis Novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara

Pros & Cons
Pros
Novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menarik dibaca. Berikut adalah beberapa kelebihannya:
1. Menyajikan kisah fantasi dan emosional yang memberikan kesan yang baru dibandingkan dengan novel pendahulunya. Novel ini menggabungkan elemen dunia magis yang menegangkan dengan konflik emosi karakter-karakter utamanya, menciptakan pengalaman membaca yang memikat dan tidak terlupakan.
2. Dituliskan secara detail, tetapi tidak bertele-tele. Leigh Bardugo memperhatikan setiap detail dalam penggambaran dunia Grishaverse, mulai dari latar tempat hingga karakter-karakternya. Namun, ia juga tidak berlebihan pada deskripsi yang dapat membuat pembaca bosan.
3. Terdapat perkembangan karakter yang baik pada tokoh utama kisah ini, Alina Starkov. Alina mengalami perubahan signifikan dalam novel ini, dari seorang gadis remaja yang ragu-ragu menjadi seorang pemimpin yang kuat. Kami bisa melihat Alina tumbuh dan mengatasi konflik internalnya, sehingga membuatnya menjadi karakter yang lebih kompleks dan menarik.
4. Dialog antartokoh yang segar dalam bentuk sarkasme yang menarik. Leigh Bardugo memiliki bakat untuk menulis dialog yang tajam dan menghibur. Percakapan antara karakter-karakter dalam novel ini seringkali diwarnai dengan sindiran dan kecerdasan yang membuat pembaca terhibur.
Cons
Meskipun novel Siege and Storm memiliki banyak kelebihan, ada beberapa kekurangan yang dapat ditemukan dalam cerita ini. Berikut adalah beberapa kekurangan novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara:
1. Terdapat plot hole di bagian tengah cerita. Beberapa pembaca mengkritik bahwa cerita menjadi agak lambat dan bertele-tele di bagian ini, sehingga mengurangi ketegangan dan kejutan yang diharapkan.
2. Beberapa pembaca merasa bahwa karakter-karakter pendukung dalam novel ini tidak terlalu tergarap dengan baik. Mereka muncul hanya sebagai pengisi ruang dan tidak banyak memberikan kontribusi pada alur cerita secara keseluruhan.
Kelebihan Novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara
1. Kisah Fantasi dan Emosional yang Menarik
Sebagai novel lanjutan Shadow and Bone yang sangat populer, novel Siege and Storm tidak kalah seru dengan novel pendahulunya. Dalam novel ini, ceritanya cukup berbeda dari novel Shadow and Bone yang didominasi pertempuran. Novel ini lebih menekankan pada kisah yang penuh fantasi dan emosional. Hal ini membuat pembaca bisa menemukan kesan dan sensasi yang baru.
2. Gaya Penulisan yang Detail dan Cepat
Gaya penulisan Leigh Bardugo tampaknya tak usah diragukan lagi. Seluruh narasi yang ada di buku ini dituliskan dengan detail, mulai dari penggambaran latar tempat, suasana, dan juga budayanya. Meskipun detail, tetapi alurnya dinilai cepat dan tidak bertele-tele.
3. Perkembangan Karakter yang Menarik
Leigh Bardugo memberikan perkembangan karakter yang baik pada tokoh utama, Alina Starkov. Dalam novel ini, sosok Alina digambarkan lebih bijaksana dan tidak terlalu memusingkan cinta segitiga yang ia alami. Selain itu, Alina juga memiliki sejumlah pemikiran buruk yang dinilai realistis. Sebab, sejatinya itu adalah hal yang wajar ditemukan ketika manusia sedang berkuasa.
4. Dialog yang Pintar dan Menyenangkan
Leigh Bardugo juga memberikan dialog yang dinilai pintar dan menyenangkan. Seperti dialog antara Mal, Nikolai, dan Alina yang dikemas dalam kalimat sarkasme. Hal ini menimbulkan kesan yang menegangkan, tetapi lucu juga. Hal ini menjadikan kisah ini lebih segar.
Kekurangan Novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara
1. Plot Hole di Bagian Tengah Cerita
Meskipun memiliki banyak kelebihan, novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara ini juga memiliki kekurangan. Kekurangan novel ini terletak pada bagian tengah cerita yang memiliki plot hole. Sejumlah pembaca menilai bagian tengah cerita cukup bertele-tele dan berputar.
Pesan Moral Novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara
Melalui kisah ini, kita dapat belajar tentang prinsip menjadi seorang pemimpin. Jika anda ingin menjadi pemimpin, maka anda harus mulai berpikir dan bertindak seperti seorang pemimpin. Ubah cara pikir dan tindakan anda terlebih dahulu sebelum mendapatkan jabatan itu, bukan sebaliknya.
Kemudian, untuk mengungkapkan sesuatu, tak memerlukan banyak kata. Sebab, kadang kala semakin sedikit anda berbicara, maka kata-kata anda akan semakin dianggap. Berbicara secara langsung tentang intinya saja.
Dari kisah ini kita juga dapat belajar bahwa kelemahan adalah sebuah topeng. Anda dapat mengenakan topeng itu saat orang-orang perlu mengetahui bahwa anda adalah manusia. Namun, sebaiknya anda jangan menunjukkan topeng itu saat anda sedang merasa demikian.
Nah, itu dia Anda ulasan novel Siege and Storm: Takhta dan Prahara karya Leigh Bardugo. Bagaimana kelanjutan nasib Alina, Mal, dan Nikolai? Apakah mereka dapat mengalahkan Sang Kelam? Daripada penasaran, yuk langsung saja dapatkan novel ini hanya di aikerja.com.
Rating: 3,85
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.