Review Novel Pachinko : Belajar Sejarah Korea dari Cerita Kelurga
Sinopsis dan Review Novel Pachinko
Pachinko adalah sebuah novel karya Min Jin Lee yang menceritakan tentang keluarga Korea pada awal abad ke-20 hingga penghujung abad tersebut. Cerita dalam novel ini tidak hanya berpusat pada satu tokoh utama, namun juga menggambarkan kehidupan dari beberapa generasi keluarga Korea yang menjadi bagian dari cikal bakal generasi Zainichi Korean.
Novel Pachinko dimulai dengan kisah sepasang suami istri, Sunja dan Baek Isak, yang melakukan imigrasi ke Jepang pada tahun 1910. Sunja adalah anak dari pemilik losmen kecil yang cacat sehingga gaya jalannya agak pincang. Baek Isak adalah seorang pastor berkebangsaan Korea yang tinggal di Ikaino, pemukiman warga Korea di Osaka pada tahun 1933-1989. Mereka berdua menjadi orang tua dari Noa dan Mozasu.
Dalam perjalanan hidupnya, Sunja terlibat dalam sebuah hubungan dengan seorang pria bernama Hansu. Namun, setelah mengetahui bahwa Hansu memiliki keluarga di Jepang, Sunja memutuskan untuk lari dari hubungan tersebut. Kemudian, Baek Isak datang dan menikahinya, serta mengajak Sunja pindah ke Jepang. Di sana, mereka memiliki dua anak, Noa dan Mozasu.
Kehadiran Noa dan Mozasu dalam keluarga Sunja memberikan pahit dan manis yang berbeda. Keluarga mereka menghadapi banyak masalah, seperti suami Sunja dipenjara karena tuduhan penyebaran ajaran sesat, terbelit hutang, kesulitan ekonomi, serta diskriminasi terhadap kaum minoritas. Masalah-masalah ini menjadi makanan sehari-hari bagi Sunja dan keluarga Korea lainnya yang memiliki status sosial rendah.
Novel Pachinko memperlihatkan dengan sangat detail dan presisi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh keluarga ini berdasarkan hasil penelitian yang mendalam. Di dalam novel ini, penulis Min Jin Lee menyoroti dua hal utama, yaitu stereotyping dan krisis identitas yang dialami oleh beberapa karakter.
Salah satu contohnya adalah tokoh Noa. Noa adalah seorang pemuda Korea yang ingin menjadi bagian dari mayoritas. Ia berusaha menjadi “paling Jepang” di luar, dengan selalu menggunakan nama Jepang di luar lingkungan keluarga, pandai berbahasa Jepang, merahasiakan latar belakang keluarganya, dan berusaha bersikap seperti orang Jepang asli. Namun, Noa akhirnya memutuskan hubungan dengan Sunja setelah mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah seorang Yakuza Korea yang menikahi anak bos Yakuza Jepang. Noa memilih untuk mengakhiri hidupnya karena tidak mampu lagi menghadapi konflik identitasnya.
Di sisi lain, Mozasu adalah seorang pemuda yang tidak pernah merasa perlu menjadi seperti anak-anak pada umumnya yang ingin diterima oleh masyarakat mayoritas. Mozasu memilih untuk menjadi dirinya sendiri, mencintai keluarganya dan latar belakangnya, serta bekerja keras untuk menghindari kesulitan finansial yang dialami oleh keluarganya.
Selain itu, novel ini juga menggambarkan karakter Haruki Totoyama, seorang polisi Jepang yang memiliki persahabatan yang baik dengan Mozasu. Totoyama merupakan polisi yang jujur dan tidak memperlakukan minoritas seperti yang umumnya dilakukan oleh masyarakat. Namun, dia menyembunyikan bahwa dia adalah seorang homoseksual, sebuah hal yang masih dianggap tabu dan buruk oleh masyarakat.
Melalui karakter-karakter ini, Min Jin Lee berhasil mendeskripsikan dengan detail tentang kesulitan hidup di Jepang pada saat itu, di mana menjadi minoritas dalam perang, perbedaan budaya, diskriminasi sosial, dan masalah keuangan adalah hal-hal yang sulit dihadapi. Pertanyaan identitas diri dan kebutuhan untuk tetap mempertahankan akar budaya dan kebanggaan akan latar belakang budaya juga menjadi tema utama dalam novel ini.
Novel Pachinko juga mengangkat isu yang masih relevan hingga saat ini. Trauma pasca perang tidak bisa semudah itu diatasi hanya dengan permintaan maaf atau pembayaran ganti rugi. Diperlukan kesadaran untuk mengakui kesalahan yang dilakukan dan menceritakan kisah-kisah tersebut kepada generasi selanjutnya agar pengalaman buruk dan trauma akibat perang tidak terulang.
Secara keseluruhan, Pachinko merupakan novel yang informatif dan memiliki alur yang jelas. Melalui ceritanya, Min Jin Lee berhasil menggambarkan kehidupan keluarga Korea di Jepang dengan sangat detail. Novel ini juga memberikan sudut pandang yang menarik tentang stereotyping, krisis identitas, dan pentingnya menjaga akar budaya dan kebanggaan akan latar belakang budaya dalam menghadapi tantangan hidup.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.