Review Buku I Want To Die But I Want to Eat Tteokpokki: Memahami Self-Healing
Review Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki: Sebuah Catatan Pengobatan yang Menginspirasi
Profil Penulis
Baek Se Hee, penulis buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki, adalah seorang penulis asal Korea Selatan yang lahir pada bulan Februari 1990 di Seoul. Buku pertamanya, yang dirilis pada tahun 2019, langsung meraih posisi best seller di Korea dan kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia. Baek Se Hee telah menciptakan perubahan yang besar dalam hidupnya dan berhasil mengatasi masa-masa kelam yang pernah dialaminya.
Sebelum menjadi seorang penulis yang diakui dan menginspirasi banyak orang, Baek Se Hee pernah mengalami depresi yang berkepanjangan. Setelah melalui perawatan dan terapi yang panjang, Baek Se Hee berhasil melawan rasa putus asa dan sembuh dari kesulitan yang dialaminya. Menulis buku ini sendiri telah menjadi salah satu bentuk terapi diri Bag Se Hee untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Dengan menceritakan kisahnya yang jujur dan apa adanya, tulisannya telah membangun sebuah buku yang menenangkan.
Tulisan-tulisannya yang banyak dicintai oleh pembaca, seperti “I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki,” telah membuat nama Baek Se Hee semakin dikenal di dunia. Buku ini telah mendapatkan banyak pengakuan dan direkomendasikan oleh banyak selebriti ternama seperti RM BTS, S.Coups SEVENTEEN, Hyunjin Stray Kids, dan yang lainnya.
Sebagai seorang penulis, Baek Se Hee terus menghasilkan karya-karya inspiratif. Setelah kesuksesan bukunya yang pertama, Saek Se Hee melanjutkan karyanya dengan menerbitkan buku kedua yang merupakan kelanjutan dari cerita sebelumnya.
Review I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki


Setiap judul buku membawa makna yang berbeda-beda. Ketika melihat judul buku ini, mungkin kita akan memprediksikan bahwa ini adalah buku motivasi yang menggabungkan unsur kehendak untuk hidup dengan keinginan untuk makan tteokpokki. Namun, sebenarnya cerita yang ada di dalamnya jauh dari anggapan kita.
Buku ini merupakan catatan pengobatan Baek Se Hee sendiri, yang dikemas dalam bentuk bacaan yang menenangkan. Baek Se He He mengajak pembaca untuk melihat situasi tentang pengalaman depresinya melalui sudut pandang dirinya sendiri. Dalam buku ini, Baek Se Hee membagikan pengalaman dan pemikirannya selama menjalani proses pengobatan dan sesi konsultasi dengan psikiaternya.
Pada awal buku, pembaca akan merasakan gejolak emosi yang dialami Baek Se Hee. Penurunan minat dan perasaan rendah diri menjadi hal yang dirasakannya. Baek Se He He juga sering membandingkan dirinya dengan orang lain, yang membuatnya semakin merasa tidak mampu memenuhi standar dirinya sendiri.
Buku ini menjelaskan perjalanan Baek Se Hee saat ia menyadari bahwa ia tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri dan membutuhkan bantuan ahli. Baek Se Hee mengalami distimia, yang mirip dengan depresi berkepanjangan. Dia mungkin nampak biasa di luar, tetapi di dalam hatinya, terdapat konflik yang tidak terlihat oleh orang lain. Merasa tidak berguna adalah hal yang terjadi, dikarenakan Baek Se Hee masih menyimpan luka dari masa lalunya yang berat.
Untuk bangkit dan melawan masa-masa sulit yang dialaminya, Baek Se Hee meneruskan perawatan dan terapinya. Dialog-dialog yang terjadi selama proses pengobatan ini menjadi penting dalam buku ini. Baek Se Hee menemukan bahwa percakapan sederhana yang ia tuliskan dalam blog pribadinya dapat membantu dirinya untuk berpikir dengan cara yang baru.
Baek Se Hee juga menemukan bahwa menulis dan mengekspresikan perasaannya dalam blog pribadinya dapat memberikan perasaan yang lebih baik saat membacanya kembali. Dari percakapan dan pemikiran Baek Se Hee tersebut, dia menemukan hal-hal menarik yang menginspirasi. Dia menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat hal-hal sederhana yang dapat membawa kebahagiaan, seperti makan tteokpokki yang menjadi makanan favoritnya. Sebuah semangkuk tteokpokki yang pedas ternyata dapat menghilangkan rasa depresinya.
Melalui kisah Baek Se Hee, kita diajak untuk melihat bahwa bahagia itu sebenarnya sederhana. Dalam hidup yang penuh dengan kesedihan, seringkali manusia lupa akan hal-hal kecil yang telah mereka miliki. Baek Se Hee mengajarkan bahwa bahagia bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana, seperti makanan favorit kita. Dalam kasus Baek Se Hee, tteokpokki adalah sumber kebahagiaannya dan cara untuk mencintai dirinya sendiri. Selama menulis di blog pribadinya, tteokpokki selalu menemani Baek Se Hee.
Dalam kesimpulan buku ini, Baek Se Hee mengajak kita untuk melihat kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita merasa sedih dan tertekan, Baek Se Hee mengajarkan untuk mensyukuri hal-hal sederhana yang kita miliki. Dengan mata yang terbuka, kita akan menemukan bahwa bahagia itu ada di sekitar kita. Baek Se Hee juga mengingatkan kita untuk memahami dan mencintai diri sendiri. Dalam perjalannya melawan depresi, Baek Se Hee menemukan pentingnya mencintai diri sendiri sejak awal. Dengan mencintai diri sendiri, kita akan mengurangi beban dan tekanan dalam hidup.
Kelebihan
Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki memiliki kelebihan yang membuatnya menarik dan inspiratif bagi pembacanya. Salah satu kelebihan yang dimiliki buku ini adalah judulnya yang unik dan menggelitik. Judul yang terkesan lucu ini mampu menarik perhatian pembaca dan membangkitkan rasa ingin tahu tentang cerita di balik buku ini.
Selain judulnya yang menarik, isi buku ini juga memberikan pesan yang kuat dan penting. Melalui pengalaman pribadi Baek Se Hee, pembaca dapat melihat perspektif baru tentang depresi dan bagaimana mengatasi masalah kejiwaan. Buku ini juga menghadirkan dialog-dialog yang autentik antara Baek Se Hee dan psikiaternya, yang memberikan insight yang berharga tentang perjalanan penyembuhan.
Kelebihan lain dari buku ini adalah penggambaran yang jujur dan apa adanya tentang perasaan depresi dan kegelisahan yang dialami oleh Baek Se Hee. Pembaca dapat merasakan kekuatan emosi yang dihadapi oleh pengarang dan diinspirasi oleh keberaniannya untuk membuka diri.
Buku ini juga memberikan pesan yang kuat tentang pentingnya menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana dalam hidup. Baek Se Hee mengajarkan kepada pembaca betapa pentingnya merawat diri sendiri dan mencintai diri sendiri. Pesan moral yang disampaikan dalam buku ini dapat memberikan pengaruh positif pada pembaca.
Kekurangan
Meskipun buku ini memiliki banyak kelebihan, ada beberapa kekurangan yang dapat ditemukan dalam buku ini. Salah satu kekurangannya adalah penggunaan istilah-istilah kedokteran yang sulit dipahami oleh pembaca awam. Beberapa kata juga dapat memiliki makna yang ambigu, terutama karena buku ini merupakan terjemahan dari bahasa aslinya.
Namun, meskipun ada beberapa kendala dalam pemahaman istilah dan makna kata, hal ini tidak mengurangi makna keseluruhan dari buku ini. Inti dari pesan moral yang ingin disampaikan oleh penulis tetap dapat dipahami dengan baik.
Pesan Moral
Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki mengandung beberapa pesan moral yang penting bagi pembaca. Pesan-pesan ini dapat membantu pembaca dalam pemahaman mereka tentang diri mereka sendiri dan bagaimana menghadapi tantangan kehidupan.
1. Tidak Perlu Membandingkan Diri
Salah satu pesan moral yang paling penting dari buku ini adalah tentang tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Baek Se Hee mengajarkan bahwa setiap individu adalah unik dan memiliki kehidupannya sendiri. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menyebabkan stres dan kecemasan yang tidak perlu. Sebagai manusia, kita tidak memiliki pengetahuan penuh tentang hidup orang lain dan apa yang mereka alami. Oleh karena itu, kita harus fokus pada diri kita sendiri dan menerima diri kita apa adanya.
Pesan moral ini sangat relevan dalam masyarakat yang sering kali membandingkan diri dengan orang lain melalui media sosial. Baek Se Hee mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu mengikuti standar sosial dan mengejar harapan orang lain. Yang penting adalah mencintai dan menerima diri sendiri, serta membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai dan keinginan kita sendiri.
2. Bahagia Itu Sederhana
Buku ini juga mengajarkan tentang pentingnya mencari kebahagiaan dalam hal-hal sederhana dalam hidup. Ketika kita merasa sedih dan tertekan, seringkali kita lupa akan hal-hal kecil yang dapat membuat kita bahagia. Baek Se Hee mengajak kita untuk mensyukuri hal-hal kecil dalam hidup, seperti makanan favorit kita. Dalam kasus Baek Se Hee, tteokpokki adalah sumber kebahagiannya. Hal-hal sederhana ini dapat memberikan kebahagiaan yang seimbang dalam hidup kita.
Pesan moral ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai dan menghargai momen kecil yang kita alami setiap hari. Kebahagiaan tidak selalu harus datang dari pencapaian besar, tetapi bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana seperti senyum orang yang kita cintai, suara hujan yang menenangkan, atau hidangan makan malam yang lezat.
3. Mencintai Diri Sendiri
Pesan moral lain yang kuat dalam buku ini adalah pentingnya mencintai diri sendiri. Baek Se Hee mengajarkan bahwa mencintai diri sendiri adalah langkah awal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Menjalin hubungan yang sehat dengan diri sendiri mengharuskan kita untuk memahami diri sendiri, menerima kekurangan dan kelebihan kita, dan melakukan apa yang terbaik untuk diri kita sendiri.
Melalui perjalanan penyembuhannya, Baek Se Hee menyadari bahwa mencintai diri sendiri berarti memprioritaskan kebutuhan dan keinginan pribadi kita. Kita tidak boleh mengabaikan diri sendiri demi mencapai ekspektasi orang lain. Mencintai diri sendiri memungkinkan kita untuk menjalani hidup yang autentik dan bahagia.
Kesimpulan
Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki adalah buku yang menggugah dan menginspirasi. Baek Se Hee berhasil menyampaikan pesan moral yang kuat tentang menghadapi depresi dan mencintai diri sendiri. Melalui kisah hidupnya sendiri, Baek Se Hee memberikan bukti bahwa ada harapan untuk mereka yang mengalami kesulitan mental. Pesan moral yang ada dalam buku ini, seperti tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana, dan mencintai diri sendiri, dapat menjadi panduan yang berharga bagi pembaca dalam menjalani kehidupan mereka.
Buku ini dijamin akan memberikan pemahaman dan inspirasi baru kepada pembacanya. Dengan gaya tulisan yang jujur dan penuh empati, Baek Se Hee mengajak kita untuk menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari dan menghargai diri sendiri. Semoga buku ini dapat terus memberikan dukungan dan bantuan bagi mereka yang membutuhkannya.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.