(REVIEW BUKU) Filosofi Teras: Filsafat Kuno, Panduan Hidup Zaman Now



**1. Perkenalan tentang Buku “Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini”**

**Sub Heading 2: Pengalaman Pribadi Penulis Buku**

Buku “Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini” merupakan karya Henry Manampiring, seorang selebtwit pemilik akun @newsplatter dan praktisi periklanan yang juga penulis. Pada pertengahan tahun 2017, Henry mendatangi seorang psikiater karena ia selalu menghadapi situasi dengan pikiran negatif dan selalu berpikir buruk terlebih dahulu. Pikiran negatifnya semakin membebani dan mengancam kesehatan mentalnya. Hasil diagnosis yang diberikan oleh psikiater menunjukkan bahwa Henry menderita Major Depressive Disorder.

Dalam proses pencarian bantuan untuk mengatasi kondisi mentalnya, Henry menemukan buku bernama “How to Be a Stoic” yang ditulis oleh Massimo Pigliucci. Buku tersebut membahas tentang filsafat stoisisme yang berkembang pada zaman Yunani-Romawi kuno. Setelah membaca buku tersebut, Henry merasa terbuka mata dan menemukan jalan terapi tanpa obat yang dapat dipraktikkan seumur hidup. Stoisisme membantunya menjadi lebih tenang, damai, dan mampu mengendalikan emosi negatif. Hal ini membuatnya semakin tertarik untuk mempelajari filsafat stoa lebih dalam melalui buku-buku dan sumber-sumber online yang ada.

Dengan tujuan untuk membagikan pengetahuannya tentang stoisisme kepada orang lain, Henry Manampiring kemudian menulis buku “Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini”. Melalui buku ini, dia berusaha untuk mengenalkan stoisisme kepada masyarakat Indonesia, agar lebih akrab dengan konsep dan istilah yang digunakan dalam filsafat ini.

**Sub Heading 3: Mengenal Filsafat Stoisisme**

Dalam pemahaman umum tentang filsafat Yunani kuno, nama seperti Sokrates, Aristoteles, dan Plato yang terkenal. Namun, nama Zeno dan filsafat stoa mungkin terdengar asing bagi banyak orang. Filsafat sering dianggap sebagai sesuatu yang abstrak dan berat, tidak terkait dengan masalah kesehatan mental seperti depresi dan stres. Namun, hal ini tidak berlaku untuk filsafat stoisisme.

Filsafat stoa, atau yang biasa dikenal sebagai filosofi teras, sangat relevan dalam mengatasi masalah-masalah mental zaman sekarang seperti depresi, mudah stres, dan marah. Dalam buku “Filsafat Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini,” Henry Manampiring menjelaskan bahwa stoisisme bukan hanya tentang hidup sederhana atau menerima nasib, tetapi juga memiliki sifat yang praktis. Filsafat ini mengajarkan kita untuk hidup dengan emosi negatif yang terkendali dan hidup dengan kebajikan.

See also  15 Rekomendasi OOTD Hijab Remaja SMA Yang Membuat Penampilan Fresh

Dalam konteks masa kini, stoisisme sangat relevan karena kita sering dihadapkan dengan tekanan dan stres dalam kehidupan sehari-hari. Dalam era media sosial, kita sering terlibat dalam perdebatan, perbedaan pendapat, sebaran hoaks, dan bullying secara online. Di samping itu, beban hidup yang semakin berat dengan macetnya lalu lintas, tekanan di tempat kerja, masalah ekonomi, dan persoalan pribadi semakin mempengaruhi kesejahteraan mental kita.

Dalam konsep stoisisme, kita diajarkan untuk fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan. Hal-hal seperti pandangan orang lain, reputasi, kekayaan, dan kesehatan yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan, sebaiknya tidak menjadi sumber kebahagiaan kita. Dengan mengubah cara pandang kita dan fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, kita dapat mencapai ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

**2. Penerapan Stoisisme dalam Kehidupan Sehari-hari**

**Sub Heading 2: Menghadapi Persoalan di Dunia Nyata**

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan dengan berbagai persoalan yang tidak dapat kita kendalikan. Misalnya, kondisi cuaca, bencana alam, peristiwa alam lainnya, serta berbagai faktor luar seperti ekonomi dan politik yang dapat mempengaruhi hidup kita. Dalam kenyataannya, tidak semua hal dapat kita kontrol, dan terlalu fokus pada hal-hal tersebut dapat memicu stres dan ketidakbahagiaan.

Dalam buku “Filosofi Teras,” Henry Manampiring mengutip kata-kata seorang filsuf stoa bernama Epictetus, yang mengatakan bahwa “ada hal-hal di bawah kendali kita dan ada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita.” Artinya, kita seharusnya fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan dan menjalani kehidupan dengan bijaksana. Hal-hal seperti pertimbangan kita, opini kita, keinginan kita, tujuan kita, serta pikiran dan tindakan kita sendiri merupakan hal-hal yang dapat kita kendalikan.

Misalnya, ketika kita terjebak di kemacetan lalu lintas, marah dan frustrasi tidak akan membantu kita keluar dari situasi tersebut. Sebagai gantinya, kita dapat menggunakan waktu tersebut untuk membaca buku, mendengarkan podcast, atau mengatasi pekerjaan kantor yang belum selesai. Dengan tidak terjebak dalam emosi negatif seperti marah dan frustrasi, kita dapat menjalani hidup dengan lebih damai dan tenang.

**Sub Heading 3: Penerapan Stoisisme di Dunia Maya**

Selain persoalan di dunia nyata, dunia maya juga bisa menjadi sumber masalah dan ketidakbahagiaan. Melihat postingan teman-teman di media sosial yang selalu berlibur, makan di restoran mahal, atau hidup yang tampak sempurna, dapat memicu perasaan tidak bahagia atau merasa kurang beruntung. Namun, dengan penerapan prinsip stoisisme, kita dapat merubah pandangan dan lebih menerima diri sendiri.

See also  Rekomendasi Film Romantis Korea yang Wajib Ditonton Bersama Pasangan

Dalam konsep stoisisme, ada hal-hal yang tidak dapat kita kontrol, seperti kehidupan orang lain dan apa yang mereka bagikan di media sosial. Kita tidak dapat mengubah pandangan atau pendapat mereka tentang kita, dan itu tidak perlu menjadi sumber kebahagiaan kita. Kita dapat memilih untuk fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, seperti pengembangan diri, menciptakan hubungan yang sehat, dan menjalani hidup kita sebaik mungkin.

Dalam buku “Filosofi Teras,” Henry Manampiring juga menekankan bahwa stoisisme tidak bertentangan dengan agama. Filsafat ini tidak menggoyahkan keyakinan agama seseorang, malah dapat meningkatkan keimanan dan kebaktian. Stoisisme menekankan pada kebajikan dan menjadi manusia sebaik mungkin. Dalam banyak kasus, konsep stoisisme memiliki kesamaan dengan ajaran agama yang mengajarkan kebijaksanaan, kesabaran, dan cinta kasih terhadap sesama.

**3. Kenapa “Filosofi Teras” Penting untuk Masyarakat Masa Kini**

**Sub Heading 2: Mengatasi Beban Hidup yang Semakin Berat**

Seiring dengan perkembangan zaman, kehidupan kita semakin kompleks dan penuh tekanan. Masalah-masalah ekonomi, pekerjaan, hubungan sosial, dan berbagai faktor lainnya dapat menimbulkan stres dan mempengaruhi kesehatan kita secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, stoisisme atau filosofi teras dapat menjadi sarana penting dalam mengatasi beban hidup yang semakin berat.

Dalam buku “Filosofi Teras,” Henry Manampiring menjelaskan bahwa stoisisme mengajarkan kita untuk menerima apa yang tidak dapat kita kontrol, fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, dan hidup dengan kebajikan. Dengan menerapkan konsep ini, kita dapat mengurangi kecemasan, mengendalikan emosi negatif, dan mencapai ketenangan dalam hidup sehari-hari.

**Sub Heading 3: Mengenal Keindahan dan Kekuatan Diri Sendiri**

Selain mengatasi tekanan dan stres, stoisisme juga mengajarkan kita untuk mengenal keindahan dan kekuatan diri sendiri. Dalam banyak kasus, kita sering terjebak dalam pemikiran yang negatif tentang diri sendiri, merasa tidak cukup baik, atau selalu membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini dapat mengganggu kebahagiaan dan perkembangan pribadi kita.

See also  Sikap Asertif : Kelola untuk Keberhasilan Komunikasi

Dalam konsep stoisisme, kita diajarkan untuk fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan dan menjalani hidup dengan kebajikan. Dengan menghargai diri sendiri, menerima kelebihan dan kekurangan diri, serta menerapkan prinsip-prinsip stoisisme, kita dapat mengembangkan rasa percaya diri, menghargai nilai-nilai diri sendiri, dan hidup dengan lebih bahagia.

**Kesimpulan**

Buku “Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini” karya Henry Manampiring adalah sebuah karya yang sangat relevan dan penting dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan mental zaman sekarang. Dengan mempelajari dan mempraktikkan konsep stoisisme, kita dapat mengurangi stres, mengendalikan emosi negatif, mengatasi masalah di dunia nyata maupun maya, dan mengenal keindahan serta kekuatan diri sendiri.

Melalui penjelasan yang mendalam dan penerapan praktis dalam kehidupan sehari-hari, buku ini memberikan wawasan baru tentang filosofi teras dan potensinya untuk menjadikan kita pribadi yang lebih tangguh dan bahagia. Dengan membaca buku ini, kita dapat menemukan jalan terapi tanpa obat yang dapat dijalani seumur hidup.

“Filosofi Teras” bukanlah sekadar buku filosofi yang berat dan sulit dipahami. Dalam penyampaian yang jelas dan enak dibaca, Henry Manampiring berhasil menjadikan materi filosofi stoisisme menjadi lebih mudah dicerna dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan gaya bahasa yang santai namun tetap formal, buku ini cocok untuk semua kalangan, baik yang sudah mengenal filsafat maupun yang baru pertama kali mendengar tentang stoisisme.

Tidak heran jika buku ini telah dinobatkan sebagai mega best seller dan memenangkan penghargaan Book of The Year di Indonesia International Book Fair 2019. Menariknya lagi, buku ini saat ini tengah membuka pre-order untuk sampul terbarunya yang memiliki dua pilihan warna. Jadi, tunggu apa lagi? Dapatkan dan bacalah buku “Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini” sekarang juga!

**Daftar Pustaka**

Manampiring, Henry. (2019). *Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini*. Penerbit Buku Kompas.

Osborne, Richard, dan Edney, Ralph. (2001). *Filsafat untuk Pemula*. Mizan.

Pigliucci, Massimo. (2017). *How to Be a Stoic*. The Penguin Press.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?

Leave a Reply