15 Properti Tari Reog Lengkap dengan Pemahaman Sejarah dan Makna!
Properti Tari Reog yang Lengkap
Properti tari merupakan komponen penting dalam pementasan Tari Reog Ponorogo. Properti ini tidak hanya berperan sebagai alat penunjang kelengkapan penampilan, tetapi juga memiliki makna dan nilai yang mendalam dalam gerakan tari. Dalam tarian Reog Ponorogo, terdapat beberapa properti yang dipakai oleh penari, antara lain:
1. Dadak Merak
Dadak Merak merupakan salah satu properti yang selalu digunakan dalam pementasan Tari Reog Ponorogo. Properti ini berbentuk topeng berupa kepala singa dengan hiasan bulu merak di atasnya. Tinggi dadak merak diperkirakan mencapai 2,25 meter dan beratnya dapat mencapai 2,30 kilogram.
Dadak Merak memiliki makna dan simbol yang penting dalam pementasan Tari Reog. Kepala singa yang buas dan ganas melambangkan kekuatan dan keindahan. Hiasan bulu merak yang mengembang menjadikan properti ini sangat memukau. Singa dan burung merak dalam satu properti mencerminkan kontras antara kekuatan dan keindahan yang menjadi pembelajaran bagi masyarakat Ponorogo.
Properti Dadak Merak ini biasanya dipakai oleh penari yang memerankan tokoh Pembarong dalam pementasan Tari Reog. Selain dalam Tari Reog Ponorogo, Dadak Merak juga sering digunakan dalam acara adat Jawa, seperti acara unduh mantu.
2. Jarit
Jarit merupakan properti lain yang selalu digunakan dalam Tari Reog Ponorogo. Properti ini berupa kain panjang dengan motif batik yang bermacam corak. Biasanya, jarit yang digunakan adalah jarit motif parang barong.
Penggunaan jarit dalam pementasan Tari Reog Ponorogo memiliki aturan tertentu. Jarit harus dilipat menjadi dua dan diikatkan pada pinggang penari dengan cara yang rapi. Properti ini digunakan oleh penari-penari yang memerankan tokoh Pembarong, Warok, Prabu Kelono Sewandono, dan Jathilan.
3. Udheng
Udheng merupakan kelengkapan busana yang digunakan oleh penari Jathilan dalam Tari Reog Ponorogo. Jenis udheng yang digunakan adalah udheng tapak dara atau gadhung melati. Udheng dipasang di kepala dengan sudut lancip yang terletak pada bagian tengah kedua mata.
Sebelum dipakai, udheng perlu dibasahi dengan air dan diperas agar tidak membuat penari merasa pusing saat memakainya. Bentuk udheng harus dibentuk menjadi segitiga dengan wiruan selebar dua sentimeter atau sesuai kebutuhan.
4. Celana
Celana kepanjen berwarna hitam juga merupakan properti yang selalu dipakai dalam Tari Reog Ponorogo. Celana ini biasanya terbuat dari beludru dengan bordir mante emas di bagian bawahnya. Panjang celana ini biasanya mencapai paha atau bahkan lutut.
5. Samir dan Bara-Bara
Samir dan bara-bara adalah properti yang terbuat dari kain beludru dengan bordiran monte emas pada setengah bagian. Bentuk samir dan bara-bara mirip dengan anak panah dengan segitiga lancip di bagian bawahnya. Namun, bagian bawahnya terbelah pada bara-bara.
Ujung samir dan bara-bara memiliki hiasan berupa payet dengan berbagai macam warna, seperti kuning, hijau, dan merah.
6. Stagen Cinde
Stagen cinde, atau yang juga dikenal dengan nama cinde merah, merupakan kain sutera merah panjang yang digunakan sebagai selendang pengikat. Stagen cinde memiliki panjang sekitar 4 meter dan lebar 10 sentimeter. Pada stagen cinde biasanya terdapat motif batik dengan kombinasi warna tertentu, seperti kuning dan hijau.
Stagen cinde dipakai dengan cara melilitkannya pada bagian pinggang penari setelah memakai jarit. Properti ini umumnya digunakan oleh penari yang memerankan tokoh Pembarong dan Prabu Kelono Sewandono dalam pementasan Tari Reog.
7. Epek Timang
Epek timang adalah sabuk yang terbuat dari kain beludru dengan hiasan bordir emas. Epek timang bukan hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga sebagai ikat pinggang dan tempat sampur.
8. Sampur
Sampur merupakan properti berupa kain yang mirip selendang. Sampur terdiri dari dua macam warna, yaitu merah dan kuning. Ujung sampur tampak bergombyok atau memiliki renda greji berwarna emas.
Penggunaan sampur dilakukan dengan memasukkannya ke dalam epek timang. Sampur berwarna merah diletakkan pada bagian depan, sedangkan sampur berwarna kuning diletakkan pada bagian belakang.
9. Hem
Hem adalah properti berupa hem lengan panjang berwarna putih yang memiliki kilau. Properti ini tidak tembus pandang ketika terkena sorot sinar lampu pentas.
10. Gulon Ter
Gulon ter adalah properti Reog Ponorogo yang terbuat dari kain beludru dengan hiasan greji warna kuning emas. Properti ini dipakai pada bagian pundak penari sebagai hiasan di sekitar kerah baju yang menjadi karakteristik atau simbol seorang prajurit.
11. Kace
Kace adalah kalung hiasan yang terbuat dari kain beludru dengan hiasan greji warna kuning emas. Properti ini juga memiliki payet dengan berbagai warna cerah, seperti hijau, ungu, dan merah. Terdapat pula renda berwarna kuning emas pada bagian atas kace.
12. Srempang
Srempang adalah hiasan yang dipakai di sekitar bahu seperti kace. Properti ini diletakkan pada pundak bagian kanan penari dan ujungnya dikancingkan pada pinggang sebelah kiri. Srempang memiliki hiasan greji warna kuning emas dan renda yang senada.
13. Cakep
Cakep adalah hiasan yang diletakkan pada pergelangan tangan penari Reog. Bentuknya serupa dengan gelang dan dipakai pada tangan kanan dan kiri penari. Cakep memiliki pengait warna merah dengan hiasan greji kuning emas di sisi mukanya. Properti ini terbuat dari kain beludru dan juga dihiasi dengan beberapa payet warna cerah.
14. Binggel
Binggel adalah gelang kaki yang dikenakan oleh penari. Binggel memiliki warna kuning emas dan corak berwarna hitam atau cokelat pada bagian tengah gelang yang terletak secara horizontal.
15. Eblek
Eblek adalah properti terakhir yang digunakan dalam Tari Reog. Properti ini berbentuk kuda lumping dengan warna putih. Eblek digunakan oleh penari yang memerankan tokoh Jathilan dalam pementasan Tari Reog. Properti eblek menggambarkan seekor kuda putih yang marah.
Sejarah Tari Reog
Tari Reog memiliki sejarah yang cukup panjang dan beragam versi cerita yang berkembang di masyarakat. Salah satu versi yang paling populer adalah terkait dengan pemberontakan Ki Ageng Kutu.
Berdasarkan buku Babad Ponorogo Jilid I-VIII tahun 1984, terdapat lima versi cerita sejarah yang berkembang mengenai Tari Reog Ponorogo. Salah satu versi yang paling terkenal adalah kisah pemberontakan Ki Ageng Kutu. Kisah ini berkisah tentang seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabumi pada abad ke-15 yang bernama Ki Ageng Kutu.
Ki Ageng Kutu memberontak karena kekecewaan terhadap pemerintahan yang korup dan terpengaruh oleh istri raja yang berasal dari China. Setelah meninggalkan kerajaan, Ki Ageng Kutu mendirikan perguruan bela diri namun menyadari bahwa pasukannya masih terlalu kecil untuk melawan kerajaan. Oleh karena itu, Ki Ageng Kutu menciptakan pertunjukkan seni Reog sebagai sindiran kepada Raja Kertabumi dan kerajaannya.
Pertunjukkan Tari Reog bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga sebagai media sindiran terhadap raja dan para pengikutnya. Topeng singo barong yang digunakan melambangkan simbol kekuatan dan keindahan raja, sedangkan penari jathilan melambangkan kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang kontras dengan kekuatan Warok. Topeng badut merah yang menopang singo barong menggambarkan seorang pahlawan yang kuat dan berani dengan giginya sebagai soko guru.
Pada awalnya, pertunjukkan Tari Reog menjadi strategi Ki Ageng Kutu untuk menciptakan perlawanan dari masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu, Tari Reog menjadi semakin populer dan akhirnya menjadi bagian dari kebudayaan dan warisan budaya masyarakat Ponorogo.
Asal Usul Reog
Asal-usul kata “Reog” sendiri memiliki beberapa cerita yang berbeda. Salah satu cerita mengatakan bahwa Ki Ageng Kutu, yang awalnya menciptakan barongan untuk para warok, dikalahkan dan Tari Reog menjadi media dakwah Islam oleh Raden Katong. Raden Katong merupakan penyebar Islam pertama di Ponorogo. Barongan yang sebelumnya dimiliki oleh warok kemudian dikenal sebagai Reog, yang berasal dari kata “riyokun” yang memiliki arti “khusnul khotimah”.
Pementasan Tari Reog
Pementasan Tari Reog Ponorogo memiliki alur cerita yang mengisahkan perjuangan dan kekuatan. Dalam pementasan ini, penari menggunakan topeng kepala singa yang disebut “singo barong” sebagai simbol kekuatan raja. Topeng ini juga dilengkapi dengan bulu merak yang membuatnya terlihat lebih megah.
Selain itu, terdapat penari yang menunggangi kuda-kudaan yang berperan sebagai tokoh Jathilan. Properti ini melambangkan kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit. Terdapat pula penari yang menggunakan topeng badut merah sebagai simbol Ki Ageng Kutu. Topeng ini memiliki berat yang tidak main-main, namun Ki Ageng Kutu mampu menopangnya hanya dengan giginya.
Pementasan Tari Reog Ponorogo juga melibatkan tokoh-tokoh lain seperti Klono Sewandono yang merupakan sosok raja yang sakti mandraguna, dan Bujang Ganong yang merupakan tokoh patih muda yang cerdik dan jenaka.
Makna Tarian Reog
Tarian Reog memiliki makna yang mendalam. Asal usul kata “Reog” sendiri memiliki arti “khusnul khotimah” atau “akhir yang baik”. Makna ini diambil dari cerita perjuangan Raden Katong dalam mengalahkan Ki Ageng Kutu. Meskipun tarian ini mengisahkan peperangan, tetapi ada juga makna bahwa Tari Reog Ponorogo merupakan sindiran dari Ki Ageng Kutu kepada Raja Brawijaya V.
Raja digambarkan sebagai macan yang ditunggangi oleh merak, sedangkan pasukan Majapahit dilambangkan oleh penari jathilan dengan kuda-kudanya. Kontras antara kekuatan dan keindahan, serta simbol Raja Kertabhumi dan Ki Ageng Kutu menjadi bagian dari makna dan cerita dalam Tari Reog.
Selain itu, Tari Reog Ponorogo juga sering ditampilkan dalam acara pernikahan sebagai simbol cinta dan keharmonisan antara Kelono Sewandono dan Dewi Songgolangit.
Pemain Tarian
Dalam pementasan Tari Reog Ponorogo, terdapat beberapa tokoh penting yang diperankan oleh para penari. Berikut adalah daftar peran dalam Tari Reog Ponorogo:
1. Jathil
Jathil merupakan tokoh prajurit berkuda dalam Tari Reog Ponorogo. Penari yang memerankan tokoh ini biasanya menggunakan properti berupa topeng kepala kuda dan kostum yang melambangkan kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit.
2. Warok
Warok, atau yang juga dikenal dengan nama wewarah, merupakan tokoh yang memberi tuntunan dan perlindungan dalam pementasan Tari Reog. Warok memiliki sikap tekad suci dan ikhlas tanpa pamrih, serta melambangkan kekuatan dan kesaktian.
3. Dadak Merak
Dadak Merak, atau yang juga dikenal dengan nama Barongan, merupakan tokoh yang menggunakan topeng berbentuk kepala singa dengan hiasan bulu merak di atasnya. Properti ini memiliki berat yang mencapai 50-60 kilogram dan melambangkan kekuatan dan keindahan.
4. Klono Sewandono
Klono Sewandono merupakan tokoh raja yang sakti mandraguna dan tampan. Klono Sewandono memiliki pusaka bernama Cemeti Klono Sewandono yang merupakan lambang kekuatan dan keberanian dalam pementasan Tari Reog.
5. Bujang Ganong
Bujang Ganong adalah tokoh patih muda yang cerdik, cekatan, dan jenaka. Bujang Ganong melambangkan keberanian dan keluwesan dalam gerakan tari.
Dengan peran-peran yang dimainkan oleh para penari, pementasan Tari Reog Ponorogo menjadi semakin hidup dan menggambarkan kekuatan, keindahan, dan keberanian.
Penutup
Tari Reog Ponorogo adalah salah satu tarian tradisional yang memiliki keunikan dan kekayaan budaya. Properti tari yang digunakan dalam pementasan Tari Reog, seperti Dadak Merak, Jarit, Udheng, dan lain-lain, melambangkan makna dan nilai dalam gerakan tari. Sejarah dan asal-usul Tari Reog juga menjadi bagian penting yang menjadikan tarian ini semakin berarti.
Dengan memahami dan melestarikan Tari Reog Ponorogo, budaya dan warisan leluhur dapat terus hidup dan diapresiasi oleh generasi mendatang. Melalui pementasan tari tradisional, kita dapat memperkaya dan memperluas wawasan kita tentang keberagaman budaya Indonesia.
Untuk lebih mengenal dan memahami budaya dan kesenian Nusantara, dapatkan buku-buku berkualitas dan original di aikerja.com. Dengan membaca dan mempelajari lebih dalam tentang kesenian tradisional, kita dapat memberikan dukungan bagi pelestarian budaya Indonesia dan memperkaya pengetahuan kita tentang warisan budaya yang berharga. Mari kita terus menghargai dan menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tetap hidup dan berkembang.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.