Stratifikasi Sosial: Pengertian, Faktor Pembentuk, Fungsi, dan Contohnya


Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial merupakan penggolongan masyarakat ke dalam kelas-kelas yang terdiri dari lapisan-lapisan yang berbeda. Konsep stratifikasi sosial ini juga sering disebut sebagai lapisan antar masyarakat. Kata “stratifikasi” berasal dari kata “stratum” yang berarti lapisan, sedangkan “sosial” mengacu pada kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, stratifikasi sosial merupakan pembagian masyarakat menjadi kelompok-kelompok berdasarkan tingkat sosialnya.

Pembentukan stratifikasi sosial melibatkan berbagai faktor, seperti kekayaan, kekuasaan, status sosial, dan pendidikan. Keempat faktor ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam membentuk strata sosial seseorang dalam masyarakat. Dalam stratifikasi sosial, terdapat kelompok sosial yang diberi label seperti sosial atas, sosial menengah, dan kelas bawah.

Menurut sosiolog Italia Gaetano Mosca, stratifikasi sosial juga berkaitan dengan konsep kekuasaan. Dia berpendapat bahwa ada kelompok sosial yang memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada kelompok lainnya. Hal ini membentuk hierarki kekuasaan dalam masyarakat.

Selain kekuasaan, stratifikasi sosial juga terkait dengan konsep status sosial. Ralph Linton, seorang antropolog Amerika, mengusulkan konsep status sosial sebagai pemilik status (status primer), status yang diperoleh (status achievement), dan status yang diberikan (status assigned). Perbedaan status sosial ini juga ikut membentuk stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stratifikasi sosial digambarkan sebagai pembagian penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas berdasarkan secara bertahap berdasarkan kekuasaan, hak istimewa, dan prestise.

Pengertian Stratifikasi Sosial Menurut Para Ahli

Para ahli memiliki pemikiran yang berbeda mengenai pengertian stratifikasi sosial di tengah masyarakat. Beberapa pendapat dari para ahli dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Intan Ratna Irawati

Menurut Intan Ratna Irawati dalam bukunya “Stratifikasi dan Mobilitas Sosial” (2016), stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai perbedaan kedudukan sosial individu dalam masyarakat. Definisi stratifikasi sosial juga dapat berbentuk pengelompokan orang-orang secara sosial, budaya, ekonomi, atau politik dalam kelas-kelas pada tingkat tertentu. Perbedaan posisi sosial ini tercermin dalam perbedaan ekonomi, kekayaan, status sosial, pekerjaan, dan kekuasaan.

2. Pitirim Sorokin

Pitirim Sorokin dalam bukunya yang berjudul “Stratifikasi Sosial” menyatakan bahwa pengertian stratifikasi sosial adalah pembedaan suatu populasi atau masyarakat ke dalam kelas-kelas hierarkis atau bertingkat. Sistem kelas sosial merupakan ciri yang teratur dan umum dalam masyarakat yang teratur.

3. Dr. Robert M.Z

Menurut dr. Robert M.Z. Lawang, stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang dalam suatu sistem sosial tertentu berdasarkan hierarki, kekuasaan, hak istimewa, dan prestise.

4. Astrid S. Susanto

Astrid S. Susanto menjelaskan bahwa konsep stratifikasi sosial terkait dengan hubungan teratur dan terstruktur antara orang-orang dalam masyarakat yang membentuk stratifikasi sosial dalam dimensi vertikal atau horizontal.

5. Dr. Hendropuspito

Menurut Dr. Hendropuspito, stratifikasi sosial adalah tatanan kelas sosial yang berbeda berdasarkan kedudukan tinggi dan rendah.

Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pembagian masyarakat ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan status sosial, kekayaan, kekuasaan, dan prestise. Pembagian ini dapat membentuk kelompok-kelompok dengan tingkat sosial yang berbeda dalam masyarakat.

Dasar Pembentuk Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial tidak terbentuk dengan sendirinya. Ada beberapa jenis atau dasar pembentuk stratifikasi sosial yang memengaruhi pembagian kelas dan status sosial dalam masyarakat. Berikut adalah 7 dasar pembentuk stratifikasi sosial:

1. Kekayaan

Kekayaan menjadi salah satu dasar pembentuk stratifikasi sosial karena perbedaan dalam kemampuan individu atau kelompok dalam memenuhi kebutuhan hidup. Orang yang memiliki kekayaan lebih banyak cenderung berada dalam lapisan sosial yang lebih tinggi, sedangkan mereka yang kurang berkecukupan ekonomi akan berada dalam lapisan sosial yang lebih rendah.

Kekayaan seseorang dapat dilihat dari aset dan harta benda yang dimilikinya. Keberadaan kekayaan ini memengaruhi gaya hidup, status sosial, dan kekuasaan seseorang dalam masyarakat. Seseorang dengan kekayaan yang tinggi mungkin memiliki akses lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja yang lebih baik.

2. Kekuasaan

Kekuasaan juga menjadi dasar pembentuk stratifikasi sosial karena tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap jabatan atau kekuasaan. Seseorang yang menduduki jabatan dengan kekuasaan yang tinggi akan berada dalam lapisan sosial yang lebih tinggi, sedangkan mereka yang tidak memiliki akses ke kekuasaan akan berada dalam lapisan sosial yang lebih rendah.

Kekuasaan dalam stratifikasi sosial dapat terkait dengan jabatan politik, jabatan eksekutif, atau kepemilikan sumber daya ekonomi. Mereka yang menduduki posisi yang memiliki kekuasaan lebih besar biasanya juga memiliki akses yang lebih besar terhadap kekayaan dan status sosial dalam masyarakat.

3. Kehormatan

Kehormatan juga merupakan dasar pembentuk stratifikasi sosial. Seseorang yang dianggap memiliki kemampuan memimpin, kharisma, atau kedudukan di suatu wilayah tertentu akan dianggap memiliki kehormatan yang lebih tinggi dalam masyarakat. Mereka yang memiliki kehormatan yang tinggi biasanya menduduki posisi sosial yang lebih tinggi.

Kehormatan dapat dilihat melalui pengakuan dan penghargaan publik terhadap individu. Orang yang paling dihormati atau dikagumi dalam kehidupan sehari-hari mungkin memiliki pengaruh yang besar dalam masyarakat. Kehormatan ini dapat diperoleh melalui berbagai cara, seperti kekayaan, prestasi, atau kedudukan dalam masyarakat.

4. Keturunan

Keturunan juga dapat menjadi dasar pembentuk stratifikasi sosial. Kelompok sosial tertentu, seperti keluarga kerajaan atau kelompok-kelompok yang memiliki garis keturunan yang terhormat, dapat mendapatkan posisi sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat. Seseorang yang lahir dari keluarga dengan posisi sosial yang tinggi cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kekayaan.

Dalam beberapa masyarakat tradisional, sistem kasta juga menjadi dasar pembentukan stratifikasi sosial. Seseorang akan mewarisi kasta atau status sosial yang diberikan oleh garis keturunannya. Perubahan kasta dalam sistem kasta biasanya sulit dilakukan, sehingga stratifikasi sosial dalam sistem ini cenderung tertutup.

5. Pendidikan

Pendidikan juga merupakan dasar pembentuk stratifikasi sosial. Tingkat pendidikan seseorang dapat memengaruhi status sosial dan peluang pekerjaan yang dimiliki. Seseorang dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki peluang kerja dan pendapatan yang lebih baik, sehingga menduduki lapisan sosial yang lebih tinggi dalam masyarakat.

Pendidikan memainkan peran penting dalam mobilitas sosial. Dengan pendidikan yang memadai, seseorang dapat meningkatkan status sosialnya dan mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam kehidupan. Namun, akses terhadap pendidikan yang berkualitas tidak selalu setara dalam masyarakat, sehingga stratifikasi sosial juga dipengaruhi oleh faktor pendidikan.

6. Status Sosial

Status sosial juga menjadi dasar pembentuk stratifikasi sosial. Hak dan kewajiban individu dalam masyarakat dapat dipengaruhi oleh status sosialnya. Status sosial seseorang dapat dilihat dari hubungan dan peran yang dimiliki dalam masyarakat.

Lingkungan tempat tinggal, pekerjaan, pendapatan, dan akses terhadap kesempatan adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status sosial seseorang. Seseorang yang memiliki status sosial yang lebih tinggi biasanya memiliki hak-hak dan kewajiban yang berbeda dalam masyarakat.

7. Gaya Hidup

Gaya hidup juga merupakan dasar pembentuk stratifikasi sosial. Dalam masyarakat yang semakin modern, gaya hidup seseorang dapat menjadi tanda pengenal dari status sosialnya. Orang yang memiliki gaya hidup yang mewah dan konsumtif cenderung menduduki lapisan sosial yang lebih tinggi, sedangkan mereka yang memiliki gaya hidup sederhana cenderung menduduki lapisan sosial yang lebih rendah.

Perbedaan dalam gaya hidup, seperti cara berpakaian, pilihan makanan, atau hobi, dapat membedakan seseorang dalam masyarakat. Gaya hidup ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor kekayaan, kekuasaan, dan status sosial seseorang.

Fungsi Stratifikasi Sosial

Sistem stratifikasi sosial memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan masyarakat. Fungsi-fungsi ini dapat memengaruhi hubungan antarindividu dan kelompok dalam masyarakat. Berikut adalah beberapa fungsi stratifikasi sosial:

1. Bidang Ekonomi

Distribusi Hak Istimewa yang Objektif

Dalam stratifikasi sosial, terdapat distribusi hak istimewa yang objektif berdasarkan tingkat kelas sosial. Hak istimewa ini dapat berupa pendapatan, kekuasaan, dan tingkat kekayaan. Setiap individu dalam masyarakat memiliki hak istimewa yang berbeda berdasarkan kelas sosialnya.

Misalnya, seseorang yang berada dalam kelas sosial atas biasanya memiliki pendapatan yang lebih tinggi, kekayaan yang lebih besar, dan akses yang lebih baik terhadap sumber daya ekonomi. Sebaliknya, mereka yang berada dalam kelas sosial rendah cenderung memiliki pendapatan yang lebih rendah, kekayaan yang terbatas, dan akses yang terbatas terhadap sumber daya ekonomi.

Simbol Status dalam Kedudukan

Stratifikasi sosial juga memberikan simbol-simbol status dalam kedudukan individu dalam masyarakat. Tanda-tanda ini dapat berupa aset materi, seperti mobil mewah, jam tangan mahal, atau pakaian mewah. Penggunaan simbol-simbol ini dapat mencerminkan status sosial seseorang dalam masyarakat.

Simbol-simbol status ini dapat memberikan pandangan kepada orang lain mengenai posisi sosial individu tersebut. Mereka yang memiliki simbol-simbol status yang lebih tinggi cenderung mendapatkan pengakuan dan penghargaan yang lebih besar dalam masyarakat.

Alat Solidaritas Individu atau Kelompok

Stratifikasi sosial juga dapat menjadi alat solidaritas individu atau kelompok dalam masyarakat. Kelompok sosial yang berada dalam kelas sosial yang sama memiliki kebersamaan dalam menghadapi nasib yang sama dan mencapai tujuan bersama.

Misalnya, kelompok masyarakat yang berada dalam kelas sosial bawah dapat membentuk solidaritas untuk menyuarakan hak-hak mereka atas kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih baik. Solidaritas ini dapat memotivasi perubahan sosial yang lebih baik dalam masyarakat.

Bertukar Kedudukan

Stratifikasi sosial juga dapat melibatkan pergerakan individu atau kelompok dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya. Dalam masyarakat yang memiliki stratifikasi sosial terbuka, individu dapat meningkatkan atau menurunkan posisi sosialnya dengan berbagai cara.

Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai karyawan biasa dalam suatu perusahaan mungkin dapat naik pangkat menjadi manajer atau direktur dalam jangka waktu tertentu. Perubahan posisi sosial ini dapat terjadi sebagai hasil dari upaya individu tersebut dalam meningkatkan kualifikasi atau prestasinya.

Perubahan posisi sosial ini dapat terjadi dalam bentuk mobilitas sosial vertikal atau horisontal. Mobilitas sosial vertikal terjadi ketika seseorang bergerak naik atau turun dalam hierarki sosial, sedangkan mobilitas sosial horizontal terjadi ketika individu pindah antar kelompok sosial yang memiliki status yang sama.

Pendorong Mobilitas Sosial

Stratifikasi sosial juga dapat menjadi pendorong bagi individu untuk meningkatkan taraf hidup mereka melalui mobilitas sosial. Seseorang yang berpendidikan tinggi dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Motivasi untuk meningkatkan status sosial ini dapat mendorong individu untuk mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi, mengembangkan keterampilan yang lebih baik, atau meningkatkan posisi pekerjaan mereka. Dengan demikian, stratifikasi sosial dapat menjadi pendorong dalam meningkatkan mobilitas sosial dalam masyarakat.

2. Bidang Politik

Penentu Peran dan Wewenang

Stratifikasi sosial juga dapat menjadi penentu peran dan wewenang individu dalam bidang politik. Setiap individu dalam masyarakat memiliki peran dan wewenang yang berbeda berdasarkan status sosialnya.

Misalnya, pemerintah memiliki peran dan wewenang dalam membimbing negara dan memastikan kesejahteraan rakyatnya. Posisi pemerintah yang berada dalam kelas sosial yang tinggi memberikan kekuasaan untuk membuat kebijakan dalam bentuk undang-undang. Sebaliknya, masyarakat memiliki peran untuk mengevaluasi kebijakan yang diterapkan dan berpartisipasi dalam pemilihan umum.

Mobilitas Politik

Stratifikasi sosial juga dapat mempengaruhi mobilitas politik dalam masyarakat. Individu atau kelompok yang berada dalam kelas sosial tertentu mungkin memiliki motivasi untuk menduduki jabatan dalam pemerintahan. Tujuan dari mobilitas politik ini adalah untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih tinggi untuk mengadvokasi aspirasi masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan.

Peningkatan mobilitas politik dapat membuka peluang bagi individu atau kelompok untuk berpartisipasi langsung dalam mengambil keputusan politik dan mempengaruhi perubahan kebijakan dalam masyarakat.

3. Bidang Pendidikan

Pengelompokan Peserta Didik

Stratifikasi sosial juga dapat terjadi dalam sistem pendidikan. Peserta didik sering dikelompokkan berdasarkan usia dan kemampuan dalam bentuk kelas atau tingkatan. Misalnya, terdapat tingkatan pendidikan mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga perguruan tinggi.

Pengelompokan ini dapat mempengaruhi kesempatan pendidikan dan pola belajar peserta didik. Selain itu, pengelompokan ini juga dapat mencerminkan status sosial individu dalam masyarakat.

Motivasi Untuk Meningkatkan Keterampilan

Sistem pendidikan merupakan faktor motivasi dalam meningkatkan keterampilan individu. Individu yang mengejar pendidikan yang lebih tinggi memiliki peluang yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan belajar dan mengembangkan keterampilan yang baik, individu tersebut dapat meningkatkan status sosial dan memiliki kesempatan kerja yang lebih baik.

Pendidikan juga dapat menjadi pendorong mobilitas sosial. Dengan menghasilkan individu yang terdidik dan memiliki penghasilan yang lebih tinggi, pendidikan dapat membuka peluang untuk mengubah posisi sosial individu dan mempengaruhi stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Mencari Identitas

Pendidikan juga dapat berperan dalam mencari identitas individu dalam masyarakat. Seseorang dengan pendidikan yang baik dan pengetahuan yang luas cenderung dihormati dan diakui oleh masyarakat. Dalam beberapa kasus, individu yang berpendidikan tinggi dapat mendapatkan status yang lebih tinggi dalam masyarakat.

Namun, tingkat pendidikan seseorang juga dapat mempengaruhi persepsi dan stereotip masyarakat terhadap individu tersebut. Meskipun pendidikan seharusnya digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan individu, kadang-kadang gelar pendidikan saja menjadi faktor penilaian dan stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Sifat Stratifikasi Sosial

1. Stratifikasi Sosial Terbuka

Stratifikasi sosial terbuka memiliki karakteristik dinamisme dan mobilitas sosial yang tinggi. Dalam stratifikasi sosial terbuka, setiap individu memiliki kesempatan untuk berpindah bebas antar kelas sosialnya, baik dalam bentuk mobilitas vertikal maupun horizontal.

Meskipun mobilitas sosial dalam stratifikasi sosial terbuka mungkin melibatkan perjuangan yang berat, kemungkinan perubahan kelas sosial selalu ada. Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai pegawai biasa di suatu perusahaan mungkin dapat dipromosikan menjadi manajer atau direksi di cabang perusahaan tersebut.

2. Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi sosial tertutup adalah salah satu bentuk stratifikasi sosial yang cenderung memiliki sifat diskriminatif karena sulit untuk bergerak secara vertikal. Dalam stratifikasi sosial tertutup, individu terkunci pada satu kelas sosialnya dan memiliki sedikit atau tidak ada kesempatan untuk berpindah kelas sosial.

Misalnya, sistem kasta dalam agama Hindu membagi masyarakat menjadi empat kasta yang sulit untuk beralih dari satu kasta ke kasta lainnya. Sistem kasta memanifestasikan stratifikasi sosial tertutup yang membatasi mobilitas sosial dalam masyarakat.

3. Stratifikasi Sosial Campuran

Stratifikasi sosial campuran adalah kombinasi dari stratifikasi sosial terbuka dan tertutup yang memiliki karakteristik yang serupa. Dalam stratifikasi sosial campuran, individu memiliki kemampuan untuk beralih ke kelas sosial lain melalui perpindahan ke daerah dengan stratifikasi sosial yang terbuka.

Misalnya, seseorang dengan status kasta Sudra di masyarakat Hindu mungkin dapat berpindah ke daerah di luar wilayah kasta dan tidak terkait dengan sistem kasta. Perubahan ini memungkinkan individu untuk meningkatkan status sosialnya dan terlepas dari batasan stratifikasi sosial dalam sistem kasta.

Contoh Stratifikasi Sosial

Terdapat berbagai contoh stratifikasi sosial dalam kehidupan sosial berdasarkan ciri-ciri dan sifatnya. Beberapa contoh stratifikasi sosial tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Contoh Stratifikasi Sosial Terbuka

Beberapa contoh stratifikasi sosial terbuka di masyarakat antara lain:

– Seorang pedagang buah keliling yang sangat berdedikasi terhadap usahanya mungkin dapat mengembangkan usaha jualan makanan jalannya menjadi waralaba yang memiliki banyak cabang. Dia menjadi pengusaha restoran seafood yang sukses berkat kegigihannya. Keberhasilan ini dapat menjadi faktor dalam pembentukan stratifikasi sosial, di mana pedagang buah keliling dengan usahanya yang berkembang ternyata dapat menembus kelompok masyarakat kelas atas setelah menjadi pengusaha restoran seafood yang sukses.

– Seorang anak dari sopir taksi yang berhasil melanjutkan kuliah dengan beasiswa dan meraih prestasi terbaik dalam bidangnya. Selanjutnya, ia bekerja di sebuah perusahaan mewah di ibu kota. Keberhasilannya ini menjadi salah satu faktor pembentukan stratifikasi sosial, di mana individu dari latar belakang sosial rendah dapat naik ke kelas sosial yang lebih tinggi berkat prestasinya. Keberhasilannya juga dapat meningkatkan status sosial orang tuanya secara bersamaan. Tanpa keterampilan, pengetahuan, dan prestasi yang diperolehnya dalam menjalankan profesinya, individu ini tidak akan memenuhi syarat untuk menjadi seorang profesional di bidangnya. Hal ini adalah proses pembentukan stratifikasi sosial di mana kegigihan individu menentukan apakah individu tersebut berasal dari kelas sosial bawah atau kelas sosial atas.

2. Contoh Stratifikasi Sosial Tertutup

Beberapa contoh stratifikasi sosial tertutup yang ada dalam masyarakat antara lain:

– Sistem kasta di Bali mempersulit perubahan status pekerjaan. Kasta ini membagi masyarakat Bali menjadi empat kasta, yaitu Sudra, Waisya, Ksatria, dan Brahmana. Sistem kasta ini mengatur hak waris seseorang, sehingga sulit bagi seseorang untuk berpindah kasta atau status sosialnya.

– Sistem kerajaan Inggris atau kerajaan-kerajaan di Eropa juga memiliki stratifikasi sosial tertutup. Seorang individu yang merupakan keturunan raja atau ratu akan mewarisi atau menggantikan tahta kerajaan. Orang-orang yang berasal dari garis keturunan kerajaan akan menduduki kelas sosial tertinggi dalam masyarakat.

3. Contoh Stratifikasi Sosial Campuran

Ada beberapa contoh stratifikasi sosial campuran dalam kehidupan masyarakat, antara lain:

– Sistem kasta Bali yang membatasi perubahan pekerjaan. Stratifikasi sosial semacam ini memungkinkan adanya mobilitas sosial. Seseorang dapat berpindah ke kelas sosial lain dengan berpindah ke suatu wilayah di mana stratifikasi sosialnya lebih terbuka. Misalnya, seseorang dengan kasta Sudra di Bali mungkin dapat pindah ke daerah di mana sistem kasta tidak berlaku.

– Dalam masyarakat tradisional, kasta atas biasanya ditempati oleh kepala adat atau para pemimpin kelas sosial. Namun, dalam bidang pemerintahan lainnya, seperti ekonomi atau militer, individu biasa yang dianggap pantas juga dapat menduduki jabatan tersebut, terlepas dari kelas atau asal sosial mereka.

Dari contoh-contoh di atas, dapat dipahami bahwa stratifikasi sosial tidak selalu bersifat tertutup atau terbuka secara penuh. Ada situasi di mana stratifikasi sosial dapat memiliki sifat campuran, dan individu memiliki kesempatan untuk pindah dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya.

4. Contoh Kelompok Stratifikasi Sosial di Indonesia

Di Indonesia, terdapat beberapa kelompok stratifikasi sosial dalam masyarakat, antara lain:

– Kelas sosial tinggi, seperti pegawai negeri, manajer, dan pengusaha besar.
– Kelas sosial menengah, seperti dosen, pegawai negeri, pengusaha kecil dan menengah.
– Kelas sosial rendah, seperti buruh, petani, dan pedagang kecil.

Kelompok-kelompok ini dapat dibedakan berdasarkan derajat pendapatan, status sosial, dan kesempatan ekonomi yang dimiliki. Stratifikasi sosial dalam masyarakat Indonesia dapat memengaruhi kesempatan dan kualitas hidup individu dalam masyarakat.

Artikel Terkait:

– Artikel: Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak
– Artikel: Mobilitas Sosial: Pengertian, Faktor, dan Contoh
– Artikel: Fungsi Keluarga dalam Masyarakat
– Artikel: Aspek-aspek Sosial Budaya di Indonesia


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

See also  Cara Mengunci Aplikasi di HP dan PC

Tahukah Anda?

Leave a Reply