Ciri-Ciri Hikayat: Pengertian, Jenis, dan Strukturnya
Ciri-Ciri Hikayat
Hikayat merupakan salah satu jenis prosa lama dalam karya sastra Nusantara. Hikayat memiliki ciri-ciri yang khas yang membedakannya dengan jenis sastra lainnya. Dalam penjelasan ini, akan dijabarkan lebih detail mengenai ciri-ciri tersebut.
1. Penyampaiannya secara lisan (disebarkan dari mulut ke mulut)
Hikayat memiliki tradisi penyampaian yang dilakukan secara lisan. Kisah-kisah dalam hikayat ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui lisan. Hal ini merupakan ciri khas hikayat yang terjadi sejak zaman dahulu.
2. Penciptanya anonim (tidak diketahui siapa)
Salah satu ciri unik hikayat adalah tidak diketahuinya siapa pembuat atau pengarangnya. Hikayat diciptakan oleh masyarakat dan menjadi milik masyarakat. Pengarangnya tidak secara eksplisit disebutkan dalam hikayat itu sendiri.
3. Isi ceritanya kebanyakan istanasentris, yakni cerita yang berkaitan dengan kehidupan di istana atau kerajaan
Hikayat banyak mengisahkan tentang kehidupan di istana atau kerajaan. Cerita-cerita dalam hikayat seringkali berkaitan dengan pahlawan, kesaktian, dan kepahlawanan yang terjadi di lingkungan istana. Hal ini memberikan nuansa megah dan mewah pada cerita dalam hikayat.
4. Bersifat komunal, yakni menjadi milik masyarakat
Hikayat bukanlah karya individu, tetapi menjadi milik masyarakat. Cerita-cerita dalam hikayat dipahami, disampaikan, dan dimiliki oleh masyarakat secara kolektif. Masyarakat memiliki andil dalam menjaga dan meneruskan warisan sastra ini.
5. Magis, yakni pengarang seolah membawa pembacanya untuk berimajinasi mengenai dunia khayal yang serba indah
Hikayat seringkali mengandung unsur magis. Pengarang hikayat membawa pembacanya untuk berimajinasi ke dalam dunia khayal yang penuh keajaiban dan keindahan. Hal ini membuat pembaca terbawa oleh alur cerita yang menarik dan menegangkan.
6. Bersifat tradisional, yakni sebagai budaya/tradisi/kebiasaan yang diturunkan secara turun-temurun
Hikayat merupakan salah satu dari warisan budaya yang diturunkan secara turun-temurun. Hikayat menjadi bagian dari tradisi dan kebiasaan masyarakat Nusantara. Generasi setelah generasi menjaga keberlanjutan cerita-cerita dalam hikayat ini.
7. Bersifat didaktis, yakni mengandung ajaran yang mendidik moral dan religius
Salah satu tujuan dari hikayat adalah mendidik moral dan religius pembacanya. Di dalam hikayat, terkandung ajaran-ajaran yang menjadi pedoman hidup, baik dalam hal moralitas maupun dalam hal keagamaan. Pembaca dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari cerita yang disampaikan.
8. Menggunakan bahasa yang sering diulang-ulang pada satu hikayat dengan hikayat lainnya (klise)
Pada hikayat, penggunaan bahasa cenderung diulang-ulang dalam setiap cerita dan menjadi ciri khasnya. Terdapat penggunaan frasa yang sering diulang secara konsisten dalam hikayat yang membuatnya memiliki keunikan tersendiri.
9. Bersifat statis, yakni tetap tanpa adanya perubahan
Hikayat memiliki karakteristik tetap dan tidak mengalami perubahan seiring waktu. Cerita-cerita dalam hikayat telah ditentukan dan tidak mengalami perkembangan atau modifikasi seiring berjalannya waktu.
10. Menceritakan kisah mengenai peperangan antara tokoh yang baik dan yang jahat, lalu dimenangkan oleh tokoh yang baik
Salah satu motif yang sering muncul dalam hikayat adalah kisah peperangan antara tokoh yang baik dan tokoh yang jahat. Kisah-kisah tersebut biasanya berakhir dengan kekalahan tokoh jahat dan kemenangan tokoh baik. Hal ini mencerminkan nilai-nilai kebaikan yang dijunjung tinggi dalam hikayat.
11. Tidak diketahui secara pasti kapan karya sastra hikayat tersebut diciptakan
Hikayat umumnya tidak memiliki tanggal pasti mengenai penciptaannya. Sebagian hikayat ditulis pada masa lalu yang sulit dilacak waktu penciptaannya. Hal ini menambah misteri dan keunikan hikayat sebagai salah satu bentuk sastra Nusantara.
12. Isi ceritanya dapat melukiskan mengenai peperangan yang hebat dengan adanya tempat para raja atau dewa yang mempertunjukkan kesaktiannya
Hikayat mengisahkan cerita-cerita yang melibatkan peperangan yang hebat. Cerita-cerita tersebut menceritakan kisah tokoh-tokoh pahlawan yang memiliki kesaktian dan kehebatan dalam menjalani peperangan. Dalam cerita tersebut, terdapat tempat-tempat yang dihuni oleh raja atau dewa yang memperlihatkan kesaktiannya.
13. Berisi hal-hal yang indah karena bertujuan sebagai pelipur lara
Hikayat juga berfungsi sebagai pelipur lara bagi pembacanya. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang mungkin penuh dengan kesulitan, hikayat memberikan hiburan dan keindahan sebagai bentuk pelipur lara.
14. Tidak ada pembagian bab
Hikayat tidak memiliki pembagian bab seperti pada karya sastra modern. Cerita dalam hikayat disajikan secara langsung dan alur cerita berkembang secara utuh tanpa adanya pembagian bab yang jelas.
15. Nama tokohnya biasanya menggunakan bahasa Arab, misalnya Ali, Husein, Aisyah, Fatimah, dan lain-lain
Hikayat sering menggunakan nama-nama tokoh yang berasal dari bahasa Arab. Contoh nama-nama tokoh dalam hikayat adalah Ali, Husein, Aisyah, Fatimah, dan lain-lain. Penggunaan nama-nama ini memberikan nuansa religius dalam cerita hikayat.
16. Beberapa ada yang menggunakan bahasa Melayu lama sehingga banyak kata-kata yang sulit dipahami
Beberapa hikayat menggunakan bahasa Melayu lama yang memiliki ciri khas tersendiri. Pada hikayat dengan bahasa Melayu lama, terdapat banyak kata-kata yang sulit dipahami oleh pembaca modern karena sudah tidak umum digunakan dalam bahasa sehari-hari.
17. Struktur kalimatnya tidak efektif
Hikayat umumnya memiliki struktur kalimat yang khas. Kalimat-kalimat dalam hikayat cenderung panjang dan kompleks. Struktur kalimat yang digunakan dalam hikayat tidak terlalu efektif jika dilihat dari segi kepraktisan dan efisiensi dalam penulisan.
18. Banyak menggunakan bahasa kiasan
Hikayat menggunakan banyak bahasa kiasan untuk menyampaikan ceritanya. Bahasa kiasan ini sering digunakan untuk memberikan makna yang lebih dalam, melambangkan perasaan, dan menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada pembaca.
Dengan memahami ciri-ciri tersebut, kita dapat lebih mengapresiasi dan memahami hikayat sebagai salah satu bentuk sastra Nusantara yang kaya akan nilai-nilai budaya dan keindahan narasi. Hikayat dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya kita dan menjaga kesinambungan generasi untuk memahami dan menikmati karya sastra yang indah ini.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.