Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk



Cara Menghilangkan Kebiasaan Buruk – Perilaku atau tindakan yang biasanya dilakukan atau dikerjakan berulang-ulang seseorang, umumnya disebut dengan kebiasaan. Mengutip dari Kartini Kartono dalam buku “Psikologi Umum”, kebiasaan dijabarkan sebagai hal yang menjadi kanal-kanal yang akan dapat terus dilalui tindakan manusia, yang dianggap sebagai syarat yang kompleks dan bervariasi dari suatu reaksi atas hal yang terjadi.

Mengutip dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kebiasaan dapat diartikan sebagai suatu pola yang dilakukan terus-menerus atau berulang kali sebagai suatu bentuk tanggapan atau respons mengenai situasi tertentu yang dilakukan oleh manusia untuk hal yang selalu sama.

Di dalam ilmu psikologi, kebiasaan lebih populer disebut sebagai conditional response atau yang memiliki arti sebagai respons yang telah terkondisi. Yang mana hal itu memiliki pengertian sebagai suatu perilaku yang pada dasarnya diulang-ulang terus-menerus di dalam suatu setting situasi tertentu.

Para psikolog mengambil kesimpulan dari definisi kebiasaan yang dianggap sebagai suatu tindakan atau perilaku yang terjadi dengan sendirinya (otomatis), hal ini dikarenakan hubungan yang telah dianalisis antara suatu situasi dan respons yang kita berikan terhadapnya.

Kebiasaan ini biasanya akan terus berkembang ketika kita menanggapi suatu situasi, secara otomatis dan konsekuen akan dilakukan suatu tindakan yang merupakan respons yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Dalam berjalannya waktu, hubungan antara situasi dan respons ini semakin kuat, sehingga menimbulkan suatu hal yang disebut dengan reflek. Dalam hal ini diartikan dengan, apabila kita menghadapi suatu situasi maka secara otomatis, respons kita akan melakukan suatu tindakan, tanpa kita harus berpikir respons seperti apa yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi tersebut.

Mengatasi Kebiasaan Buruk pada Anak

Kebiasaan buruk pada anak biasanya terjadi ketika anak secara tidak sadar mengulangi perilakunya. Kebiasaan buruk yang terjadi ini sebenarnya tidak bisa disepelekan oleh orang tua. Hal ini akan berdampak menjadi masalah serius ketika anak tersebut mulai dewasa.

See also  Resensi Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah by Munita Yeni

Anak-anak umumnya sebagai peniru yang aktif, dalam hal ini akan anak akan meniru perilaku orang yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, apabila perilaku di sekitar anak tersebut baik, maka akan baik pula kebiasaan anak, dan apabila apabila perilaku di sekitar anak tersebut buruk, maka akan buruk pula kebiasaan anak.

Salah satu kebiasaan buruk anak ialah mereka menghisap ibu jari dan mengupil terlalu sering. Menghisap ibu jari adalah kebiasaan yang biasa dilakukan oleh bayi dan anak kecil, hal ini dikarenakan refleks menghisap yang masih terjaga pada bayi dan anak kecil tersebut.

Kebiasaan ini umumnya akan berangsur-angsur menghilang seiring dengan bertambahnya usia mereka. Namun, beberapa anak cenderung mempertahankan kebiasaan ini bahkan setelah mereka melewati masa bayi dan menjadi anak kecil.

Hal ini bisa terjadi karena anak menyukai sensasi menghisap ibu jari atau hanya sekedar mencari kenyamanan atau penghiburan dalam situasi tertentu seperti dalam kondisi bosan, stres, atau bahkan saat tidur. Meskipun terlihat tidak berbahaya, namun kebiasaan ini sebaiknya dihindari karena bisa mengganggu pertumbuhan gigi dan mempengaruhi perkembangan bicara anak.

Selain menghisap ibu jari, kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh anak adalah mengupil terlalu sering. Mengupil terlalu sering juga termasuk ke dalam kebiasaan yang buruk karena hal ini mengakibatkan mimisan pada hidung. Umumnya, anak kecil tanpa sadar melakukan hal ini.

Baca juga:
Mengatasi Kebiasaan Buruk pada Anak

Kebiasaan buruk pada anak ini sebenarnya dapat dihindari dan diatasi melalui berbagai upaya. Berikut adalah beberapa cara mengatasi kebiasaan buruk pada anak:

1. Menjadi contoh yang baik
Sebagai orang tua, Anda harus menjadi contoh yang baik untuk anak Anda. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa yang ada di sekitar mereka, terutama orang tua. Jadi, pastikan Anda tidak memiliki kebiasaan buruk yang ingin Anda hindari pada anak Anda.

See also  17 Cara Mengatasi Demam Panggung Yang Paling Efektif

Misalnya, jika Anda ingin menghindari anak Anda mengisap ibu jari, pastikan Anda juga tidak melakukan kebiasaan tersebut. Tunjukkan kepada anak Anda bahwa ada cara lain yang lebih baik untuk mengatasi situasi tertentu seperti bosan atau cemas.

2. Memberikan pengalihan
Ketika melihat anak Anda mengisap ibu jari atau mengupil terlalu sering, coba alihkan perhatiannya ke aktivitas lain yang lebih baik. Misalnya, berikan mainan atau buku yang menarik untuk anak Anda agar dapat mengalihkan perhatiannya dari kebiasaan buruk tersebut. Selain itu, ajak anak untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan Anda atau orang lain dalam keluarga untuk mengalihkan pikirannya.

3. Berikan penghargaan
Ketika anak Anda berhasil menghindari atau mengurangi kebiasaan buruknya, berikan penghargaan kepada mereka. Ini bisa berupa pujian, hadiah kecil, atau bahkan kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga. Penghargaan ini akan memperkuat sikap yang baik dan menguatkan motivasi anak untuk melanjutkan perilaku positif.

4. Komunikasi yang baik
Ajak anak Anda dalam percakapan yang positif dan terbuka. Jelaskan mengapa kebiasaan buruk tersebut tidak baik dan berikan pemahaman yang tepat tentang pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan. Diskusikan bersama mengenai cara mengatasi kebiasaan buruk tersebut dan dorong anak untuk mencari solusi yang lebih baik.

5. Batasi waktu dan lingkungan
Buat aturan jelas tentang kapan dan di mana anak diperbolehkan melakukan kebiasaan buruk tersebut. Misalnya, tentukan bahwa anak hanya boleh mengisap ibu jari atau mengupil saat berada di rumah atau saat sedang tidak berada di tempat umum. Banyak anak cenderung melakukan kebiasaan buruk ini ketika mereka merasa terlalu bebas atau tidak ada pengawasan, jadi batasi juga waktu bebas anak untuk menghindari kebiasaan buruk tersebut.

6. Berikan pemahaman tentang konsekuensi
Ajarkan anak tentang konsekuensi dari kebiasaan buruk yang dilakukannya. Misalnya, jelaskan bahwa mengisap ibu jari bisa membuat giginya rusak dan sakit, atau mengupil terlalu sering bisa menyebabkan mimisan pada hidung. Pemahaman mengenai konsekuensi ini akan membantu anak untuk lebih sadar akan dampak buruk dari kebiasaan tersebut dan memotivasi mereka untuk mengubah perilaku.

See also  10 Novel Indonesia Best Seller Di Indonesia Juni 2022

7. Memberikan dukungan dan pengawasan
Saat anak Anda mencoba mengatasi kebiasaan buruknya, berikan dukungan dan pengawasan yang tepat. Dorong anak untuk menjaga komitmen mereka untuk berubah dan berikan pujian atau penghargaan ketika mereka berhasil. Selain itu, jaga juga agar lingkungan di sekitar anak mendukung perubahan yang diinginkan dengan memastikan orang lain di keluarga atau orang terdekat tidak melakukan atau mendorong kebiasaan buruk yang sama.

8. Kenali pemicu kebiasaan buruk
Terakhir, identifikasi pemicu dari kebiasaan buruk anak Anda. Misalnya, apakah anak Anda cenderung mengisap ibu jari ketika merasa bosan atau cemas? Atau apakah mereka mengupil terlalu sering saat mereka merasa tidak nyaman? Dengan mengenali pemicu tersebut, Anda dapat mencari cara yang lebih efektif dalam mengatasi kebiasaan buruk anak dan menghindari situasi yang memicu munculnya kebiasaan tersebut.

Dalam mengatasi kebiasaan buruk pada anak, kesabaran dan konsistensi adalah kunci utama. Perubahan tidak terjadi secara instan, namun dengan dukungan, pengawasan, dan penghargaan yang tepat, anak akan mampu mengatasi kebiasaan buruknya dan menggantinya dengan perilaku yang lebih baik.

Kebiasaan buruk pada anak bukanlah hal yang tidak dapat diatasi. Dengan pengertian dan upaya yang tepat, anak akan mampu melepaskan diri dari kebiasaan buruk tersebut dan tumbuh menjadi individu yang lebih baik. Sebagai orang tua, peran kita sangat penting dalam mengarahkan dan membimbing anak untuk mengembangkan kebiasaan yang baik dan positif.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?