Blended Finance


Apa Itu Blended Finance?

Blended finance merupakan strategi pembiayaan pembangunan dan dana filantropi yang digunakan untuk menggerakkan modal swasta ke pasar negara berkembang dan perbatasan. Tujuan dari blended finance adalah menghasilkan hasil positif bagi investor dan masyarakat. Dengan menggunakan strategi ini, tidak terlalu harus bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Unsur-Unsur Blended Finance

1. Development finance: Ini adalah pembiayaan yang berfokus pada kebutuhan pembangunan yang tidak mengharapkan pengembalian modal. Pembiayaan ini juga memiliki fleksibilitas untuk membiayai berbagai aspek pembangunan, mulai dari capacity building, reformasi kebijakan dan sektoral, hingga ke level output proyek. Contoh lembaga yang menyediakan development finance adalah Bank Dunia, ADB, dan PT SMI di Indonesia. Namun, saat ini juga ada filantropi swasta yang turut menyediakan development finance. Development finance memainkan peran penting dalam membuka peluang bagi sektor swasta untuk berinvestasi di ekonomi berkembang. Ini dilakukan dengan menyediakan instrumen yang dapat mengurangi risiko investasi swasta mulai dari risiko makro/sistemik hingga risiko proyek spesifik.

2. Additional finance: Ini adalah pembiayaan berorientasi komersial dari investor swasta berupa ekuitas dan pinjaman. Pembiayaan ini sangat penting dalam memperbesar kapasitas negara berkembang dalam menutup kekurangan pembiayaan infrastruktur. Additional finance menjadi parameter keberhasilan transaksi blended finance dari segi keuangan. Oleh karena itu, kolaborasi dengan development finance dalam suatu program atau proyek belum bisa disebut sebagai transaksi blended finance jika belum berhasil memobilisasi additional finance.

3. Sustainable development: Tujuan utama dari inisiatif blended finance adalah pembangunan berkelanjutan. Penyediaan development finance dan berhasilnya memobilisasi additional finance tidak akan memiliki arti jika tidak menghasilkan dampak positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, setiap indikator dalam Agenda SDG 2030 menjadi parameter keberhasilan transaksi blended finance. Pemerintah sebagai aktor utama dalam pencapaian SDG juga perlu mempertimbangkan penggunaan blended finance dengan struktur yang berbeda untuk setiap SDG, mengingat setiap SDG memiliki sektor kematangan yang berbeda. Sebagai contoh, SDG 7 (Energi yang Terjangkau dan Bersih) tentu lebih mudah untuk memobilisasi additional finance daripada SDG 2 (Berantas Kelaparan).

See also  Rasio Solvabilitas

Dalam kaitannya dengan Indonesia, blended finance dapat menjadi solusi untuk meningkatkan investasi swasta di sektor pembangunan. Dengan terlibatnya pembiayaan swasta, Indonesia dapat mempercepat proyek-proyek pembangunan yang penting bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial.

Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Kamus Istilah

Leave a Reply