Biografi Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan Pemikirannya
Biografi Gus Dur – KH. Abdurrahman Wahid, Tokoh yang Menginspirasi
Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur merupakan sosok yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Indonesia. Beliau adalah presiden Republik Indonesia ke-4 yang lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Hj. Sholehah. Ayah Gus Dur merupakan putra dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU), organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, serta pendiri Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri dari KH. Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar di Jombang. Gus Dur tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, sehingga julukan “Gus” menjadi sangat akrab dan melekat pada dirinya. Gus merupakan kependekan dari “Bagus”, sebuah sebutan yang sering diberikan kepada anak seorang kyai untuk mewujudkan penghormatan di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Sejak kecil, Gus Dur telah menunjukkan kesadaran yang besar terhadap perjuangan Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun 1953, ketika berusia sekitar 13 tahun, Gus Dur bersama ayahnya berangkat ke Sumedang, Jawa Barat untuk menghadiri pertemuan Nahdlatul Ulama (NU). Namun, di tengah perjalanan, mereka mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ayah Gus Dur meninggal dunia. Kejadian ini merupakan momen bersejarah yang mengubah perjalanan hidup Gus Dur. Setelah kehilangan sosok ayah yang sangat dicintainya, Gus Dur memutuskan untuk melanjutkan perjuangan ayahnya dalam memperjuangkan NU.
Gus Dur memahami betapa pentingnya pendidikan dalam memperjuangkan cita-cita dan prinsip hidupnya. Setelah lulus dari Sekolah Dasar (SD), Gus Dur dikirim oleh orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Ia masuk ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Gowongan dan menetap di Pesantren Krapyak. Di sekolah tersebut, Gus Dur belajar bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang memegang peranan penting dalam komunikasi global. Selain itu, ia juga aktif mengikuti kegiatan di Muhammadiyah, organisasi Islam yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan. Gus Dur kemudian memutuskan untuk pindah dan menetap di rumah H. Junaedi, seorang pimpinan lokal Muhammadiyah yang sangat berpengaruh di SMEP. Di rumah H. Junaedi, ia bisa lebih bebas dalam menjalani aktivitasnya.
Gus Dur adalah seorang yang sangat aktif dalam menambah pengetahuan dan wawasan di luar pesantren. Ia tidak hanya membatasi diri pada pelajaran di sekolah, tetapi juga berusaha untuk menggali informasi dari berbagai sumber, termasuk membaca buku-buku berbahasa Inggris, mendengarkan siaran radio Voice of America dan BBC London, serta mengunjungi perpustakaan umum di Jakarta. Semua itu dilakukannya untuk meningkatkan kemampuan dalam berbahasa Inggris.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Gus Dur melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah yang dipimpin oleh KH. Chaudhary. Di sana, ia mendalami ilmu agama Islam dengan bimbingan kiai-nya. Gus Dur juga sering melakukan ziarah ke kuburan-kuburan para wali yang keramat di Pulau Jawa. Saat berada di pesantren, ia tidak pernah lupa membawa koleksi-koleksi bukunya, yang membuat para santri lain heran melihat jumlah buku-buku yang dibawanya.
Namun, kehidupan di pesantren tidak membuat Gus Dur kekurangan dalam hal kegiatan sosial dan kemanusiaan. Ia adalah sosok yang sangat peduli terhadap penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan pembela kaum minoritas. Gus Dur aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi keagamaan. Ia juga dikenal sebagai sosok yang toleran dalam menjalin hubungan dengan umat beragama lain. Gus Dur percaya bahwa agama tidak boleh merusak persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi harus digunakan sebagai alat untuk mempererat hubungan antarumat beragama. Sikap toleransi dan menghormati perbedaan adalah salah satu nilai yang sangat dianut oleh Gus Dur.
Sebagai seorang tokoh yang kontroversial, pemikiran dan tindakan Gus Dur seringkali disalahpahami oleh banyak kalangan. Namun, bagi mereka yang mengenalnya secara mendalam, Gus Dur adalah sosok yang sangat berdedikasi dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, dan Islam yang moderat. Ia adalah sosok yang menginspirasi banyak orang dengan cara berpikir yang kritis dan pemikiran yang inovatif. Gus Dur sering mengatakan, “Gitu aja kok repot”, sebuah kalimat yang menggambarkan sikap sederhana dan tidak rumit dalam menghadapi masalah kehidupan.
Menjadi presiden Republik Indonesia ke-4 adalah salah satu perjalanan penting dalam kehidupan Gus Dur. Pada tahun 1999, setelah jatuhnya rezim Soeharto, banyak partai politik baru yang bermunculan. Gus Dur kemudian mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan menjadi Ketua Dewan Penasihat partai tersebut. Pada tahun yang sama, PKB secara resmi mencalonkan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden. Dukungan dari poros tengah, termasuk Golkar, membawa Gus Dur terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4.
Sebagai Presiden Indonesia, Gus Dur menjadi figur penting dalam mempersatukan bangsa yang sedang terkoyak oleh perbedaan dan konflik. Ia memimpin dengan prinsip keadilan, kemanusiaan, dan demokrasi. Selama masa kepemimpinannya, Gus Dur berupaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia, termasuk menjaga kebebasan berpendapat dan melindungi hak asasi manusia. Namun, perjalanan politiknya tidaklah mudah. Ia menghadapi berbagai rintangan dan kritik dari berbagai pihak. Namun demikian, semangat dan dedikasi Gus Dur dalam memperjuangkan keadilan dan kebebasan tetap tak tergoyahkan.
Tidak hanya sebagai seorang presiden, Gus Dur juga dikenal sebagai seorang intelektual yang memiliki gagasan dan pemikiran yang mendalam. Ia menulis banyak buku dan artikel yang membahas tentang agama, politik, dan kehidupan sosial. Salah satu karya terkenalnya adalah buku “Bunga Rampai Pesantren”, di mana ia mengungkapkan pandangannya tentang peran pesantren dalam masyarakat Indonesia. Gus Dur juga aktif dalam berbagai diskusi dan seminar yang membahas isu-isu keagamaan, kemanusiaan, dan demokrasi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Gus Dur adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Pemikiran dan tindakan beliau telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan bangsa dan negara. Meskipun telah berpulang ke rahmatullah pada tahun 2009, warisan dan jejak Gus Dur tetap hidup dan terus dikenang oleh masyarakat Indonesia. Ia akan selalu diingat sebagai tokoh yang inspiratif, perintis perubahan, dan pembela kebenaran.
Sumber:
– Wikimedia Indonesia
– Magenta
– aikerja.com
Baca juga buku-buku terkait Gus Dur:
1. “Biografi Gus Dur” oleh Greg Barton
2. “Gus Dur” oleh Ahmad Syafi’i Maarif
3. “Gus Dur Kh Abdurrahman Wahid: Biografi Singkat 1940 – 2020” oleh Holil Al Assagaf
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.