Attitude: Pengertian, Tingkatan, dan Fungsinya dalam Keseharian
Pengertian Attitude
Attitude dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sikap. Sikap dapat mencakup perilaku, tingkah laku, dan kecenderungan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Attitude juga dapat disebut sebagai aspek afektif yang memengaruhi tindakan seseorang. Attitude dapat dipelajari dan dikembangkan. Dalam konteks sosial, attitude juga sering dikaitkan dengan kesiapan mental individu dalam merespons objek atau situasi.
Pengertian attitude menurut beberapa ahli diantaranya ialah:
– Chaplin, mengartikan attitude sebagai kecenderungan yang relatif stabil untuk bereaksi atau bertingkah laku terhadap objek, lembaga, atau persoalan tertentu.
– Katz dan Stotland, menyatakan bahwa attitude terdiri dari respons kognitif (persepsi dan kepercayaan), respons afektif (emosi dan perasaan), dan respons konatif (tindakan atau perilaku).
– Campbell, mengartikan attitude sebagai kumpulan gejala dalam merespons stimulus atau objek yang melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan lainnya.
– J. Thomas, mengartikan attitude sebagai kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin terjadi dalam kegiatan sosial.
– Fishbein, mengartikan attitude sebagai predisposisi emosional yang dipelajari dalam merespons segala hal terkait dengan objek sikap.
– Trow, mengungkapkan attitude sebagai kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat.
– La Pierre, menyebut attitude sebagai pola perilaku atau kesiapan diri seseorang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.
– Soetarno, mengatakan bahwa attitude merupakan pandangan perasaan seseorang yang diikuti dengan kecenderungan bertindak terhadap objek tertentu.
– Syamsudin, mengungkapkan attitude sebagai bentuk interaksi individu dengan lingkungan sosialnya.
– Rakhmat, mengartikan attitude sebagai kecenderungan seseorang dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak terhadap objek sikap.
– Sarnoff, mengatakan bahwa attitude merupakan kesediaan seseorang untuk merespons suatu objek dalam bentuk yang positif atau negatif.
– Krech dan R.S Crutchfield, mengartikan attitude sebagai sikap yang terbentuk dari proses yang sesuai dengan keinginan individu ataupun karena faktor luar.
Dari berbagai pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa attitude merupakan sikap atau kecenderungan seseorang dalam berinteraksi dengan objek atau situasi. Attitude dapat berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan tindakan individu. Attitude juga dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengaruh orang lain, kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan, dan faktor emosional.
Tingkatan Attitude dalam Penerapannya
Attitude dapat memiliki berbagai tingkatan dalam penerapannya. Menurut Notoatmodjo, ada empat tingkatan attitude yang penting untuk dipahami, yaitu:
1. Receiving/menerima
Tingkatan pertama adalah menerima atau memperhatikan stimulus yang diberikan atau objek yang terkait dengan sikap tersebut. Dalam tingkatan ini, individu masih dalam tahap mengakui keberadaan objek sikap dan memberikan perhatian terhadapnya.
Contohnya, seseorang yang berpendapat bahwa pemanasan global adalah persoalan yang serius dan membutuhkan perhatian, maka orang tersebut telah menerima pentingnya masalah pemanasan global sebagai objek sikap.
2. Responding/merespons
Tingkatan kedua adalah merespons yang artinya individu memberikan respons atau tanggapan terhadap objek sikap. Respon ini bisa berupa jawaban atas pertanyaan atau tugas yang diberikan terkait dengan objek sikap.
Misalnya, seseorang yang memiliki sikap yang positif terhadap dunia pendidikan dapat merespons dengan memberikan ide atau kontribusi dalam diskusi tentang peningkatan kualitas pendidikan.
3. Valuing/menghargai
Tingkatan ketiga adalah menghargai atau menghormati objek sikap. Pada tingkatan ini, individu telah mempunyai sikap positif terhadap objek sikap dan dapat mengajak orang lain untuk menghargainya.
Sebagai contoh, seseorang yang menghargai pentingnya kebersihan lingkungan dapat mengajak teman-temannya untuk ikut membersihkan lingkungan sekitar.
4. Responsible/bertanggung jawab
Tingkatan terakhir adalah bertanggung jawab. Pada tingkatan ini, individu sudah siap untuk bertanggung jawab atas konsekuensi dari sikap yang dimiliki. Individu siap mengambil risiko dari segala pilihan yang telah diambil terkait dengan objek sikap.
Sebagai contoh, seseorang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan akan bertindak untuk mengurangi sampah plastik dengan menggunakan kantong kain atau tumbuh-tumbuhan sebagai alternatif.
Dengan memahami dan menerapkan tingkatan-tingkatan ini, individu dapat mengembangkan attitude yang lebih baik dalam berinteraksi dengan objek maupun situasi yang ada.
Memahami Beberapa Karakteristik Attitude
Attitude memiliki beberapa karakteristik yang perlu dipahami. Karakteristik-karakteristik tersebut antara lain:
– Attitude tidaklah bawaan sejak lahir, melainkan dipelajari seiring dengan perkembangan individu. Attitude mulai terbentuk sejak individu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
– Attitude bukanlah sikap yang tetap, melainkan dapat berubah-ubah. Perilaku dan tingkah laku dapat dipelajari dan berubah seiring dengan pengalaman dan kondisi tertentu yang mempengaruhi individu.
– Attitude tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berkaitan dengan objek tertentu. Objek tersebut dapat berupa orang, lembaga, kebijakan, atau situasi tertentu yang mempengaruhi sikap individu.
– Attitude juga memiliki segi motivasi dan perasaan. Motivasi dapat mendorong individu untuk mengambil sikap tertentu, sedangkan perasaan dapat memengaruhi emosi individu terhadap objek sikap.
– Attitude dapat dipelajari lewat proses belajar. Meskipun ada faktor bawaan atau genetik yang mempengaruhi sifat individu, sikap juga dapat dipelajari dan dikembangkan melalui proses belajar dengan lingkungan dan pengalaman.
Dalam hal ini, baik-buruknya sikap individu bergantung pada pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh sejak lahir sampai saat ini. Lingkungan dan interaksi dengan orang lain juga turut berperan dalam membentuk sikap individu.
Fungsi Attitude dalam Kehidupan
Attitude memainkan berbagai fungsi penting dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa fungsi penting dari attitude antara lain:
1. Fungsi instrumental
Attitude memiliki fungsi instrumental dalam mencapai tujuan atau sasaran tertentu. Attitude dapat menjadi sarana atau alat yang digunakan individu untuk mencapai tujuannya. Jika individu memiliki sikap positif terhadap suatu objek atau situasi, maka individu akan cenderung menggunakan objek atau situasi tersebut sebagai sarana untuk mencapai tujuannya.
Contohnya, seseorang yang memiliki sikap positif terhadap teknologi akan cenderung menggunakan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan dalam pekerjaan atau kehidupan sehari-hari.
2. Fungsi pertahanan ego
Attitude juga memiliki fungsi pertahanan ego. Sikap individu dapat menjadi alat untuk mempertahankan diri atau melindungi ego individu. Attitude ini biasanya muncul ketika individu merasa terancam atau ego dirinya terancam oleh suatu situasi atau objek.
Misalnya, seseorang yang memiliki sikap defensif terhadap kritik dapat menggunakan sikap tersebut untuk melindungi dirinya dari dampak negatif kritik yang ditujukan padanya.
3. Fungsi ekspresi nilai
Attitude juga dapat menjadi saluran individu untuk mengekspresikan nilai-nilai yang dimilikinya. Dengan membawa sikap tertentu, individu dapat mengekspresikan nilai-nilai yang mereka anut kepada orang lain. Sikap individu dapat membantu menggambarkan sistem nilai yang dimiliki oleh individu tersebut.
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki sikap peduli terhadap lingkungan dapat mengekspresikan nilai-nilai kepedulian tersebut dengan berpartisipasi dalam kegiatan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
4. Fungsi pengetahuan
Attitude juga memiliki fungsi pengetahuan. Dengan memiliki sikap tertentu terhadap suatu objek atau situasi, individu dapat menunjukkan pemahaman dan pengetahuannya terhadap objek atau situasi tersebut.
Misalnya, seseorang yang memiliki sikap positif terhadap seni dapat menunjukkan pengetahuannya tentang seni dengan berbicara tentang seniman terkenal atau menghargai karya seni yang memiliki nilai estetik tinggi.
Dengan pemahaman tentang fungsi-fungsi attitude ini, individu dapat lebih memahami pentingnya sikap dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan kerja.
Faktor-Faktor Pembentukan Attitude
Attitude seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan attitude antara lain:
1. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi yang dialami individu dapat mempengaruhi pembentukan attitude. Pengalaman yang mempengaruhi attitude biasanya adalah pengalaman yang meninggalkan kesan kuat pada individu.
Misalnya, jika seseorang pernah mengalami kecelakaan mobil yang disebabkan oleh pengemudi mabuk, individu tersebut mungkin akan memiliki sikap negatif terhadap alkohol dan menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya.
2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pengaruh orang lain yang dianggap penting juga mempengaruhi pembentukan attitude seseorang. Orang-orang yang dianggap penting dapat menjadi contoh atau teladan bagi individu dalam membentuk sikap.
Misalnya, jika seseorang menganggap orang tua sebagai sosok yang penting, maka sikap orang tua terhadap suatu objek atau situasi dapat mempengaruhi sikap individu terhadap objek atau situasi tersebut.
3. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan juga memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan attitude seseorang. Kebudayaan tempat individu tinggal dan tumbuh berkembang akan mewarnai sikap individu terhadap berbagai hal.
Misalnya, dalam masyarakat yang menghargai kesederhanaan dan kerajinan, individu cenderung memiliki sikap positif terhadap nilai-nilai tersebut dan akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Media massa
Media massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan internet juga memiliki pengaruh yang signifikan dalam pembentukan sikap individu. Melalui media massa, individu dapat menerima informasi dan pesan-pesan yang dapat membentuk sikap terhadap suatu objek atau situasi.
Misalnya, jika seseorang secara konsisten mendapatkan informasi positif tentang manfaat olahraga melalui media massa, individu tersebut mungkin akan memiliki sikap positif terhadap olahraga dan mendorongnya untuk aktif berolahraga.
5. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama juga memainkan peran penting dalam pembentukan sikap individu. Melalui lembaga pendidikan, individu memperoleh pengetahuan dan nilai-nilai yang dapat membentuk sikap mereka terhadap berbagai hal.
Lembaga agama juga memberikan panduan moral dan ajaran yang dapat membentuk sikap individu terhadap nilai-nilai keagamaan.
6. Pengaruh faktor emosional
Faktor emosional juga dapat mempengaruhi pembentukan sikap individu. Terkadang sikap individu merupakan respon terhadap perasaan atau emosi yang dirasakan individu.
Misalnya, seseorang yang memiliki pengalaman buruk dengan anjing yang agresif mungkin akan memiliki sikap negatif terhadap anjing dan takut untuk berinteraksi dengan mereka.
Dengan memahami faktor-faktor pembentukan attitude ini, individu dapat lebih memahami bagaimana sikap mereka terbentuk dan bagaimana sikap tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman hidup.
Perbedaan Macam-Macam Attitude
Attitude dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain attitude sosial dan attitude individual.
Attitude sosial
Attitude sosial merupakan sikap individu yang berkaitan dengan lingkungan sosialnya. Sikap ini berkaitan dengan perilaku dan tindakan individu terhadap objek atau situasi yang terkait dengan interaksi sosial.
Sikap sosial mencerminkan bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sosialnya. Sikap sosial dapat mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Contohnya, sikap seseorang terhadap kejujuran dapat mencerminkan nilai-nilai kejujuran yang dihargai dalam masyarakat. Jika seseorang memiliki sikap yang positif terhadap kejujuran, individu tersebut cenderung berperilaku jujur dalam interaksi sosialnya.
Attitude individual
Attitude individual adalah sikap yang dimiliki oleh individu secara pribadi. Sikap ini tidak terbatas pada lingkungan sosial atau interaksi dengan orang lain.
Attitude individual dapat berupa kesukaan atau ketidaksukaan pribadi terhadap objek, orang, atau hewan tertentu. Sikap individual bersifat subjektif dan dapat berbeda antara individu satu dengan lainnya.
Contohnya, seseorang dapat memiliki sikap positif terhadap musik klasik karena mereka menyukainya secara pribadi, meskipun sikap tersebut tidak terkait dengan norma-norma atau nilai-nilai sosial yang berlaku.
Perbedaan antara attitude sosial dan attitude individual terletak pada objek atau situasi yang menjadi fokus sikap, serta aspek sosialnya. Attitude sosial berkaitan dengan interaksi sosial dan norma-norma sosial, sedangkan attitude individual lebih terkait dengan preferensi pribadi dan kesukaan pribadi terhadap objek atau situasi.
Komponen Pembentuk Attitude
Attitude terdiri dari tiga komponen utama yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, yaitu komponen kognitif, komponen afektif, dan komponen perilaku.
1. Komponen kognitif
Komponen kognitif merupakan aspek pikiran dan keyakinan individu tentang suatu objek atau situasi. Komponen ini melibatkan penilaian, pengetahuan, dan keyakinan individu terhadap objek sikap.
Misalnya, seseorang yang memiliki komponen kognitif yang positif terhadap kesehatan menganggap olahraga dan pola makan sehat sebagai hal yang penting dan bermanfaat bagi kesehatan mereka.
2. Komponen afektif
Komponen afektif berkaitan dengan perasaan dan emosi individu terhadap objek atau situasi. Komponen ini melibatkan perasaan positif atau negatif yang dirasakan individu terhadap objek sikap.
Misalnya, seseorang yang memiliki komponen afektif positif terhadap hewan peliharaan merasa bahagia dan nyaman saat berinteraksi dengan hewan tersebut.
3. Komponen perilaku
Komponen perilaku merupakan aspek tindakan atau perilaku individu terhadap objek atau situasi. Attitude yang dimiliki individu dapat memengaruhi perilaku individu terhadap objek atau situasi tersebut.
Misalnya, seseorang yang memiliki sikap yang positif terhadap lingkungan akan cenderung melakukan tindakan-tindakan yang melindungi lingkungan, seperti daur ulang atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Ketiga komponen tersebut saling berinteraksi dan saling mempengaruhi dalam membentuk attitude individu. Komponen kognitif memberikan landasan pengetahuan dan keyakinan, komponen afektif memberikan motivasi dan perasaan terhadap objek sikap, sedangkan komponen perilaku mengarahkan individu untuk bertindak sesuai dengan sikap yang dimiliki.
Dengan memahami komponen-komponen pembentuk attitude ini, individu dapat memahami bagaimana sikap mereka terbentuk dan bagaimana sikap tersebut memengaruhi tindakan dan perilaku mereka.
Cara Menerapkan Attitude yang Baik
Untuk menerapkan attitude yang baik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia kerja, ada beberapa langkah yang dapat diikuti. Beberapa cara untuk menerapkan attitude yang baik antara lain:
1. Bersedia menerima kritik dan saran dari orang lain. Sikap terbuka terhadap masukan dan kritik dapat membantu individu untuk belajar dan berkembang.
2. Menjaga komitmen dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Sikap bertanggung jawab dan komitmen terhadap tugas pekerjaan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja.
3. Saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Sikap saling menghormati dan menghargai dapat menciptakan suasana kerja yang harmonis dan saling mendukung.
4. Bersikap sopan dan santun di lingkungan kerja. Sikap sopan dan santun dapat menciptakan hubungan yang baik antara sesama karyawan dan memperkuat kerjasama tim.
5. Membicarakan hal-hal positif dan menghindari bergosip. Fokus pada hal-hal yang positif dan menghindari gosip atau omongan negatif tentang orang lain dapat menjaga lingkungan kerja yang positif dan menyenangkan.
Dengan menerapkan sikap-sikap ini, individu dapat menciptakan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan kerja yang lebih baik.
Keuntungan Mempunyai Attitude yang Baik
Mempunyai attitude yang baik memiliki berbagai keuntungan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa keuntungan dari memiliki attitude yang baik antara lain:
1. Membentuk kualitas diri yang baik dan unggul. Dengan attitude yang baik, individu dapat mengembangkan kualitas diri yang lebih baik dalam berinteraksi dengan orang lain.
2. Meningkatkan produktivitas. Sikap positif dapat meningkatkan motivasi dan semangat dalam bekerja, sehingga meningkatkan produktivitas individu.
3. Meningkatkan rasa percaya diri. Dengan attitude yang baik, individu memiliki keyakinan diri yang kuat dan percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi dan tantangan.
4. Mempunyai komitmen. Dengan memiliki sikap yang baik, individu cenderung bertanggung jawab dan memiliki komitmen terhadap tugas dan pekerjaan yang dijalankan.
5. Menjadi lebih bahagia dan terhindar dari stres. Attitude yang baik dapat menciptakan lingkungan yang positif dan menyenangkan, sehingga individu menjadi lebih bahagia dan terhindar dari stres.
6. Terhindar dari konflik atau permasalahan. Dengan sikap yang baik, individu cenderung memiliki kemampuan untuk mengatasi konflik dan permasalahan dengan cara yang lebih baik.
Dengan memiliki attitude yang baik, individu dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Attitude dalam Lingkungan Kerja
Attitude memainkan peran penting dalam lingkungan kerja. Attitude yang ditunjukkan oleh karyawan dapat mencerminkan bagaimana perusahaan itu akan dikelola serta bagaimana seorang karyawan apabila dihadapkan pada suatu masalah di perusahaan. Attitude juga memiliki pengaruh terhadap kemajuan dan perkembangan suatu perusahaan.
Berikut adalah beberapa peran penting attitude dalam lingkungan kerja:
1. Attitude yang positif dapat menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan sehat. Sikap yang baik antara karyawan satu dengan yang lainnya dapat menciptakan hubungan kerja yang baik, saling mendukung, dan saling menghargai.
2. Attitude yang positif juga dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas karyawan. Karyawan dengan sikap positif cenderung lebih termotivasi, berkomitmen, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan mereka.
3. Attitude yang baik dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan. Lingkungan kerja yang positif dan menyenangkan dapat mempengaruhi kebahagiaan dan kepuasan karyawan, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis mereka.
4. Attitude yang baik juga dapat membantu dalam mengatasi konflik dan permasalahan yang muncul dalam lingkungan kerja. Karyawan dengan sikap yang baik cenderung lebih terbuka untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan mencari solusi yang baik dalam menghadapi konflik.
5. Attitude yang positif juga dapat mempengaruhi citra perusahaan. Attitude yang ditunjukkan oleh karyawan dapat mencerminkan bagaimana perusahaan dihadapkan pada suatu masalah di perusahaan. Sikap yang baik antara karyawan satu dengan yang lainnya dapat membentuk citra perusahaan yang positif di mata pelanggan dan mitra bisnis.
Dalam dunia kerja yang bersaing, memiliki attitude yang baik sangatlah penting. Attitude yang dimiliki oleh setiap karyawan dapat mempengaruhi keberhasilan dan kemajuan perusahaan. Attitude juga berperan dalam membentuk budaya perusahaan yang baik dan meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
Dalam konteks dunia kerja yang semakin profesional dan kompetitif, memiliki attitude yang baik menjadi salah satu kunci sukses untuk mencapai kesuksesan karier. Attitude yang baik juga dapat membantu karyawan untuk terus belajar dan mengembangkan diri, serta menjadi pribadi yang berkualitas di dunia kerja.
Dengan memahami peran penting attitude dalam lingkungan kerja, para karyawan dapat lebih memperhatikan sikap dan perilaku mereka dalam berinteraksi dengan sesama karyawan, atasan, dan pelanggan.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.