Altruisme: Pengertian, Teori, Faktor, dan Seberapa Penting Altruisme



Altruisme adalah sikap atau naluri di mana seseorang memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain di atas kepentingan dirinya. Sikap ini berkebalikan dengan sifat egois yang lebih mementingkan diri sendiri. Seseorang yang memiliki sikap altruisme disebut altruis. Altruis melakukan kebaikan tanpa adanya rasa pamrih di dalamnya. Meskipun altruisme sangat terpuji dan berdampak positif terhadap masyarakat luas, namun jika dilakukan secara berlebihan, sikap ini juga dapat berdampak buruk terhadap seseorang.

Altruisme merupakan istilah modern dari kata Empati yang pertama kali diciptakan oleh filsuf bernama Auguste Comte. Kata altruisme berasal dari bahasa Perancis yaitu Autrui atau dalam bahasa Latin disebut juga sebagai Arteri yang memiliki arti orang lain. Dari sini dapat dipahami bahwa kata ini menggambarkan orang lain di luar dirinya sebagai fokus utama. Altruisme merupakan perilaku yang dilakukan seseorang semata-mata untuk kebahagiaan orang lain. Altruisme diperkuat oleh keinginan serta tekad seseorang untuk mensejahterakan orang lain.

Altruisme dapat menjadi keadaan pikiran sesaat atau menjadi perilaku permanen dan value hidup seseorang. Pada dasarnya altruisme merupakan pikiran yang baik dan didorong oleh perasaan prihatin terhadap orang lain. Altruisme melibatkan kepedulian besar terhadap kesejahteraan orang lain dan dalam beberapa kasus tertentu, perilaku ini dapat membahayakan kehidupan dan kesejahteraan diri sendiri. Kelebihan dalam melakukan altruisme bisa berdampak buruk, begitu juga dengan perilaku ini. Mengapa seseorang dapat begitu memprioritaskan kepentingan orang lain dibandingkan dengan diri sendiri? Hal ini biasanya terjadi tanpa disadari, sebenarnya kehidupan sehari-hari dipenuhi dengan tindakan altruistik kecil yang berulang, mulai dari menahan pintu untuk orang asing hingga memberikan uang kepada orang yang membutuhkan. Kisah-kisah dalam berita juga sering kali berfokus pada kasus-kasus altruistik yang lebih besar, seperti ketika seorang pria yang menyelam ke sungai yang sedingin es hanya untuk menyelamatkan orang asing yang tenggelam atau seorang pemberi sumbangan yang memberikan uang jutaan rupiah kepada badan amal setempat.

See also  Pemikiran Divergen: Pengertian, Elemen, dan Cara Menstimulasinya

Terdapat beberapa teori mengapa seseorang melakukan altruisme. Pertama adalah teori evolusi, di mana altruisme merupakan mekanisme pertahanan yang tersisa dalam diri manusia yang dimaksudkan untuk mempertahankan garis keturunannya. Kedua adalah teori lingkungan, di mana interaksi dan hubungan dalam lingkungan memiliki pengaruh besar dalam mendorong tindakan altruisme pada orang-orang di sekitarnya. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang memberikan contoh sikap altruisme cenderung menjadi altruis di kehidupan mereka. Ketiga adalah teori norma sosial, di mana orang cenderung bekerja sama dengan orang yang suka menolong. Sikap altruistik akan membuka utang budi, sehingga ketika seorang altruis membutuhkan pertolongan, orang lain tidak akan segan membantunya. Keempat adalah teori penghargaan, di mana altruisme akan menghasilkan imbalan atau penghargaan yang dapat memberikan kepuasan emosional.

Altruisme sangat penting karena segala kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih dalam membantu orang lain adalah bentuk tindakan terpuji. Tindakan ini dapat mendatangkan keuntungan sosial dan psikis bagi pelakunya. Altruisme juga dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, serta angka harapan hidup yang lebih tinggi. Namun, naluri menolong orang lain harus diimbangi dengan naluri untuk bertahan hidup. Tanpa keseimbangan ini, sikap altruisme dapat berdampak buruk pada diri sendiri. Misalnya, jika seseorang tidak bisa berenang tetapi memaksakan diri untuk membantu orang yang tenggelam, hal ini merupakan perilaku yang berlebihan dan tidak bijak.

Mengapa seseorang selalu bersikap baik terhadap orang lain? Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pertama, respon otak. Ketika seseorang melakukan perilaku altruisme, otak menghasilkan respon yang membuat orang tersebut merasa bahagia. Respon ini terjadi karena perilaku altruisme mempengaruhi afeksi seseorang. Area otak tertentu menjadi aktif saat seseorang menolong orang lain, dan hal ini berkontribusi pada perasaan bahagia. Kedua, lingkungan. Interaksi dan hubungan dengan orang lain memiliki pengaruh besar dalam mendorong tindakan altruisme. Anak-anak cenderung meniru perilaku altruisme yang mereka saksikan dalam lingkungan mereka. Ketiga, norma sosial. Orang cenderung merasa “harus” membantu orang lain jika orang tersebut telah melakukan sesuatu untuknya. Norma timbal balik ini dapat memunculkan keinginan untuk menolong orang lain. Namun, sikap altruisme juga dilakukan tanpa pamrih atau mengharapkan timbal balik. Keempat, imbalan secara kognitif. Altruisme menghasilkan imbalan berupa perasaan puas dan bahagia atas diri sendiri setelah berbuat kebaikan. Perasaan ini membuat seseorang ingin melakukan sikap altruisme lebih banyak lagi. Kelima, empati. Seseorang cenderung lebih terlibat dalam perilaku altruistik jika mereka merasakan empati terhadap orang yang mengalami kesulitan. Empati mendorong seseorang untuk melakukan altruisme.

See also  Pengertian Hard Skill beserta Fungsi dan Cara Meningkatkannya

Ketika seseorang selalu bersikap baik terhadap orang lain, ada kemungkinan bahwa mereka adalah people pleaser. People pleaser adalah orang yang sulit mengatakan “tidak” dan selalu ingin menyenangkan orang lain. Namun, menjadi people pleaser bukanlah hal yang baik. Perilaku menolong yang seharusnya memberikan kebahagiaan dan rasa nyaman, malah membuat seseorang merasa tidak berdaya serta dapat mempengaruhi kesehatan mental. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk memperhatikan diri sendiri dan tidak mengorbankan kepentingan pribadi demi kebaikan orang lain.

Beberapa buku yang dapat menjadi referensi terkait altruisme antara lain:

1. Altruisme Hukum Kepedulian Terhadap Penyandang Disabilitas
Buku ini membahas mengenai kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Altruisme tidak memandang gender, jenis kelamin, usia, agama, ras, dan suku. Penyandang disabilitas adalah manusia biasa yang juga memiliki hak-hak dan kewajiban seperti manusia pada umumnya. Buku ini memberikan pemahaman tentang pentingnya kepedulian terhadap penyandang disabilitas.

2. Psychology of Money
Buku ini membahas tentang psikologi di balik keputusan finansial. Keputusan finansial tidak hanya didasarkan pada faktor matematis, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku. Buku ini akan membantu pembaca memahami bagaimana perilaku dapat mempengaruhi keputusan finansial dan mengelola uang dengan bijak.

3. Pengantar Psikologi Umum
Buku ini merupakan buku acuan pokok bagi mahasiswa psikologi dan juga bermanfaat bagi pembaca umum yang tertarik dengan psikologi. Buku ini membahas teori dasar psikologi secara sistematis, mulai dari sejarah, definisi, fungsi-fungsi psikis, interaksi, hingga gangguan mental. Pembahasan dalam buku ini mengacu pada kasus yang khas di Indonesia sehingga pembaca akan lebih merasa dekat dengan penerapan psikologi dalam kehidupan sehari-hari.

4. Psikologi Kepribadian
Buku ini menggambarkan berbagai teori dalam menggambarkan dan menentukan kepribadian individu. Buku ini menjelaskan berbagai teori di balik psikologi kepribadian, seperti tipologi Kant, teori psikoanalisis, teori Spranger, teori kepribadian Ludwig Klages, dan teori biososial. Buku ini cocok untuk mahasiswa psikologi dan keguruan pendidikan serta bagi siapa saja yang tertarik dengan psikologi kepribadian.

See also  20 Fakta-fakta Terbaru BTS dan Profil Anggotanya 

5. Buku Ajar Psikologi Perkembangan Anak
Buku ini ditulis sebagai referensi bagi peserta didik psikologi, khususnya dalam memahami perkembangan anak. Buku ini membahas secara sistematis sejarah, teori, definisi, dan masa perkembangan anak. Buku ini cocok sebagai bahan bacaan untuk memahami tumbuh kembang anak.

Dalam rangka menjadi altruis, penting untuk memahami bahwa kebaikan yang dilakukan haruslah seimbang dengan kepentingan pribadi. Altruisme yang berlebihan dan tidak bijak dapat berdampak buruk pada diri sendiri. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk memahami batas diri sendiri dan tidak mengorbankan diri sendiri demi kepentingan orang lain. Dalam melakukan kebaikan, seseorang juga perlu mengembangkan empati dan memperhatikan keseimbangan antara membantu orang lain dan menjaga kepentingan diri sendiri.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?

Leave a Reply