8 Tradisi Jawa Tengah yang Masih Lestari Hingga Kini: Dari Kelahiran Hingga Kematian


Tradisi Jawa Tengah

Tradisi Jawa Tengah memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai. Provinsi ini menjadi salah satu tempat yang kaya akan tradisi dan budaya yang masih lestari hingga saat ini. Tradisi Jawa Tengah begitu beragam, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Tradisi ini merupakan bagian dari kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

1. Tradisi Wetonan

Tradisi wetonan merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Jawa Tengah. Istilah wetonan dalam bahasa Jawa memiliki arti untuk memperingati hari kelahiran. Upacara wetonan biasanya dihelat ketika bayi telah berusia 35 hari. Pada hari ke-35, keluarga bayi mengadakan upacara bernama nyelapani.

Tradisi nyelapani berasal dari kata selapan yang berarti satu bulan dalam perhitungan Jawa atau 35 hari. Perhitungan ini didasarkan pada hari dalam penanggalan Masehi dan Jawa, seperti Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, serta penanggalan Jawa berupa Wage, Pon, Kliwon, Legi, dan Pahing. Kombinasi perhitungan ini menghasilkan hari-hari khas Jawa Tengah seperti Senin Pon, Selasa Wage, Kamis Legi, Rabu Kliwon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon, dan seterusnya.

Tradisi wetonan dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan tujuan untuk melindungi bayi dari bahaya dan mendapatkan rezeki serta keberuntungan yang lebih baik.

2. Tradisi Sadran

Tradisi sadranan adalah upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa Tengah sebagai bentuk menghormati leluhur. Tradisi ini merupakan inovasi dari upacara Sraddha Hindu yang dilaksanakan pada zaman dahulu. Sadranan dilakukan pada bulan Jawa Islam Ruwah, tepat sebelum bulan puasa atau Ramadhan menurut tahun Hijriyah.

Dalam tradisi sadranan, masyarakat Jawa Tengah melakukan ziarah kubur dari satu makam ke makam lainnya dan menabur bunga, atau disebut juga nyekar. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh umat Islam, tetapi juga melibatkan umat agama lain yang ikut merayakan sadranan.

See also  10 Rempah-Rempah Indonesia dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Sadranan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah, karena tradisi ini dijadikan momentum untuk menghormati leluhur dan menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

3. Upacara Ruwatan

Upacara ruwatan adalah ritual penyucian yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dan Bali. Ruwatan memiliki arti dilepaskan atau dibebaskan. Upacara ini dilaksanakan untuk membesarkan atau melepaskan seseorang dari hukuman atau kutukan yang dapat menimbulkan bahaya.

Upacara ruwatan memiliki makna memohon agar seseorang terhindar dari marabahaya dan memperoleh keselamatan. Masyarakat Jawa dan Bali masih sangat mempercayai dan melaksanakan upacara ini, karena diyakini dapat memberikan perlindungan bagi mereka.

Selain tujuan keselamatan, upacara ruwatan juga bertujuan untuk melestarikan tradisi adat istiadat Jawa Tengah yang turun temurun.

4. Tradisi Syawalan

Tradisi syawalan merupakan pertemuan yang direncanakan oleh sekelompok masyarakat untuk saling memaafkan dan memulai kehidupan baru yang lebih baik. Syawalan dilaksanakan pada bulan syawal setelah bulan Ramadhan usai. Bulan syawal adalah bulan kesepuluh dalam kalender tahun Hijriyah.

Tradisi syawalan juga dikenal sebagai tradisi halal bi halal. Pada tradisi ini, orang-orang berkumpul dan berkunjung ke rumah-rumah untuk meminta maaf dan saling memaafkan. Dalam tradisi syawalan, ada dua acara syawalan keraton yang terkenal di Jawa Tengah, yaitu Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta dan Grebeg Syawal Keraton Solo.

Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta merupakan tradisi yang dilaksanakan sejak tahun 1725. Pada tradisi ini, masyarakat dapat melihat iring-iringan prajurit keraton Yogyakarta yang mengiringi lima gunungan. Gunungan tersebut berisi beraneka ragam hasil panen dan akan diantarkan ke tiga lokasi perayaan grebeg syawalan.

Grebeg Syawal Keraton Solo dilaksanakan dengan membawa dua gunungan yang berisi hasil bumi dan jajanan pasar. Masyarakat Solo mempercayai bahwa tradisi ini dapat membawa keberuntungan dan rejeki yang berlimpah.

See also  Rekomendasi Buku Cerita Rakyat yang Bikin Netizen Nostalgia

5. Tradisi Popokan

Tradisi popokan berasal dari sebuah cerita tentang keberanian untuk mengusir harimau. Pada tradisi ini, masyarakat akan melempar atau memopok harimau dengan lumpur sawah. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan menjauhkan kejahatan dan menolak bala yang datang ke Desa Sendang, Jawa Tengah.

Tradisi popokan juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keselamatan yang diberikan. Masyarakat Jawa Tengah mempercayai bahwa lumpur yang dilemparkan memiliki keberkahan, sehingga mereka merasa senang saat terkena lemparan lumpur sawah.

Tradisi popokan menjadi ritual terakhir dari rangkaian tradisi yang digelar selama dua hari. Sebelum tradisi popokan, masyarakat membersihkan lingkungan dan sumber air sebagai simbol menghilangkan hawa jahat dan menolak bala yang ada di sekitar mereka.

6. Upacara Tingkeban

Upacara tingkeban dilaksanakan sebagai upacara 7 bulanan bayi dalam kandungan atau upacara 7 bulanan kehamilan. Tujuannya adalah memohon agar ibu dan bayi dalam kandungan tetap sehat dan selamat hingga hari kelahiran.

Upacara tingkeban dilakukan untuk mendoakan dan melindungi ibu hamil serta calon bayi dari marabahaya. Selain itu, upacara ini juga memiliki makna solidaritas primordial dan melestarikan adat istiadat turun temurun.

7. Tradisi Brobosan

Tradisi brobosan dilakukan pada upacara kematian. Brobosan berasal dari kata “menerobos” yang artinya berjalan di bawah peti mati sebanyak tiga kali. Tradisi ini dilakukan oleh kerabat dan tetangga yang membantu menyiapkan ubo rampe.

Ubo rampe adalah makanan yang disajikan sebagai sesajen dalam tradisi brobosan. Setelah ubo rampe selesai dibuat, dilakukan pidato yang berisi permintaan maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh orang yang meninggal. Pidato diakhiri dengan doa dan upacara brobosan.

Tradisi brobosan dilakukan sebagai penghormatan terakhir kepada jenazah dan leluhur yang meninggal dunia. Ini juga menjadi wujud rasa syukur dan perpisahan yang ikhlas.

See also  11 Pemain Voli Putri Indonesia Populer yang Miliki Segudang Prestasi

8. Upacara Tedak Siten

Upacara tedak siten adalah upacara yang dilakukan ketika bayi berusia tujuh atau delapan bulan. Tujuannya adalah memberikan berkah kepada bayi dan mendoakan agar bisa menjalani kehidupan yang baik. Upacara ini terdiri dari tujuh rangkaian, seperti berjalan di tujuh jadah dengan tujuh warna yang berbeda, menapaki tangga yang terbuat dari batang tebu jenis arjuna, dan lain-lain.

Upacara tedak siten dilaksanakan untuk memperkenalkan dan memberi doa kepada bayi agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Setiap tahapan memiliki makna dan simbol tertentu yang melambangkan kehidupan dan harapan bagi sang bayi.

Itulah beberapa tradisi Jawa Tengah yang masih lestari hingga kini. Setiap tradisi memiliki perannya masing-masing dalam memperkokoh dan melestarikan budaya Jawa Tengah. Dengan mengetahui dan menghargai tradisi-tradisi ini, kita juga turut berpartisipasi dalam mempertahankan kekayaan budaya Indonesia.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?

Leave a Reply