Review Novel The Name of The Game : Kenali Toxic Masculinity


Deskripsi dan Detail Buku

1. Deskripsi buku

Buku berjudul “The Name of The Game” karya Adelina Ayu merupakan karya sastra yang membahas tentang toxic masculinity. Cerita di dalam buku ini mengisahkan tentang tiga mahasiswa, yaitu Zio, Daryll, dan Flo, yang menjalani kehidupan mereka di Universitas Indonesia. Zio memiliki keinginan untuk mengalahkan Daryll dalam segala hal, namun saat Daryll mendekati seorang mahasiswa baru yang disukai Zio, Zio terlibat dalam sebuah permainan yang membahas tentang arti menjadi laki-laki, persahabatan, dan cinta. Buku ini mengangkat isu toxic masculinity yang sering kali mengganggu laki-laki dalam mengekspresikan diri dan menjadi diri sendiri sesuai kehendak hatinya.

2. Detail buku

Buku “The Name of The Game” memiliki jumlah halaman sebanyak 340 halaman. Buku ini telah diterbitkan pada tanggal 20 Oktober 2019 oleh penerbit Bhuana Ilmu Populer. Buku ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan memiliki nomor ISBN 9786232165991. Cover dari buku ini menampilkan gambar yang menarik dengan desain yang cukup sederhana namun memikat perhatian pembaca.

Sinopsis Buku

Novel “The Name of The Game” merupakan karya pertama dari Adelina Ayu. Awalnya, novel ini ditulis dan didistribusikan di Wattpad, namun pada tahun 2019, novel ini dirilis sebagai buku cetak. Cerita dalam buku ini berpusat pada tiga karakter utama, yaitu Zio, Daryll, dan Flo, yang merupakan mahasiswa di Universitas Indonesia. Zio memiliki satu tujuan, yaitu mengalahkan Daryll dalam segala hal. Namun, saat Daryll mendekati seorang mahasiswa baru yang juga disukai oleh Zio, Zio terjebak dalam permainan yang membahas tentang arti menjadi seorang laki-laki, persahabatan, dan cinta.

Zio dan Daryll telah berteman sejak SMP dan kini mereka berkuliah di universitas yang sama. Meskipun memiliki persahabatan yang kuat, keduanya memiliki perbedaan dalam cara mereka mengekspresikan diri. Zio sering kali dianggap sebagai bencong karena memiliki perilaku yang feminin, sementara Daryll dipaksa oleh ayahnya untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan konstruksi budaya yang ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, Daryll mengikuti norma-norma yang dikodifikasikan oleh masyarakat mengenai cara seorang laki-laki seharusnya berperilaku. Dia mengenakan pakaian yang dianggap maskulin, seperti kemeja flanel, dan menghindari hal-hal yang dianggap feminin. Daryll juga menyembunyikan minatnya pada hewan dan serial Winnie the Pooh karena takut dianggap lemah atau tidak maskulin dalam pandangan sosial.

Sementara itu, Zio dengan berani mengekspresikan dirinya tanpa rasa takut atau malu. Ia memilih untuk tampil dengan ekspresi gender yang membuatnya nyaman dan mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang laki-laki feminin. Namun, pandangan masyarakat terhadapnya sering kali negatif, dengan sebutan bencong dan berbagai kata lainnya yang merendahkan.

Di dalam novel ini, kita dapat melihat adanya pertentangan antara Zio dan Daryll dalam menjalani kehidupan mereka sebagai laki-laki. Konflik tersebut mencerminkan fenomena toxic masculinity yang sering kali menghambat laki-laki dalam mengekspresikan diri sejati mereka.

Flo, seorang mahasiswi baru jurusan Sastra Perancis, juga terjebak dalam persahabatan dan cinta segitiga dengan Zio dan Daryll. Ia memiliki perasaan pada Daryll, namun Zio juga memiliki perasaan pada Flo. Ketiganya harus menghadapi konflik dan tantangan dalam menjalin hubungan mereka, sementara juga berusaha untuk memahami dan mengatasi toxi masculinity yang ada di sekitar mereka.

See also  Tanda-tanda Cowok Cuek Tapi Sayang dan Kenapa Cowok Cuek

Melalui kisah ini, Adelina Ayu berhasil menggambarkan bahwa toxic masculinity adalah masalah yang nyata dalam masyarakat, termasuk dalam lingkungan kampus. Buku ini mengajak pembaca untuk merenungkan dan memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk menjadi diri sendiri tanpa dibatasi oleh ekspektasi masyarakat terhadap gender dan konsep maskulinitas.

Pengertian Toxic Masculinity

Toxic masculinity adalah konsep yang mengacu pada tekanan budaya yang membuat laki-laki merasa harus bertindak dan berperilaku sesuai dengan stereotip gender yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Istilah ini berkaitan dengan kesalahpahaman tentang apa yang dianggap sebagai tanda-tanda kejantanan yang seharusnya ada pada laki-laki.

Menurut Oxford Dictionary, toxic masculinity adalah kepercayaan yang salah mengenai perilaku dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang pria. Istilah ini merupakan kata benda yang digunakan untuk menggambarkan gambaran yang tidak sehat tentang maskulinitas.

Terry Kupers, seorang psikiater dan psikoterapis psikoanalisis, menggambarkan toxic masculinity sebagai sifat-sifat dominan yang mendorong laki-laki untuk menjadi agresif, merendahkan (terutama terhadap perempuan), homofobia, dan melakukan kekerasan seksual. Hal ini menunjukkan bahwa toxic masculinity dapat memiliki dampak negatif terhadap laki-laki itu sendiri dan juga orang-orang di sekitarnya.

Raewyn Connell, seorang sosiolog dari Australia, menyatakan bahwa toxic masculinity adalah standar perilaku yang berlebihan yang diterapkan pada laki-laki dalam masyarakat. Sosiolog asal Sydney tersebut mengemukakan bahwa pemahaman yang salah mengenai maskulinitas dapat berdampak negatif dan membatasi perkembangan individual laki-laki.

Dalam pandangan umum, toxic masculinity adalah pola pikir dan perilaku yang dominan, agresif, dan tidak sehat yang dituntut oleh masyarakat terhadap laki-laki. Pandangan ini memberikan tekanan kepada laki-laki untuk menjadi kuat fisik dan mental, tidak menunjukkan emosi yang lemah seperti kesedihan, dan mengesampingkan sikap yang dianggap feminin.

Toxic masculinity juga seringkali terkait dengan pandangan negatif terhadap perempuan, di mana laki-laki diharapkan untuk mendominasi dan mengeksploitasi perempuan. Hal ini dapat melahirkan sikap misogini dan tindakan diskriminatif terhadap perempuan.

Ciri-Ciri Toxic Masculinity

Toxic masculinity dapat dikenali melalui sejumlah ciri-ciri khasnya, yang sering kali dianggap sebagai tanda-tanda kejantanan yang diinginkan oleh masyarakat. Beberapa ciri-ciri toxic masculinity yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari antara lain:

1. Heteroseksisme dan homofobia

Toxic masculinity sering kali dikaitkan dengan pandangan heteronormatif yang menekan kebebasan seksual dan menghasilkan homofobia. Laki-laki diharapkan untuk menunjukkan ketertarikan dan hubungan yang konsisten dengan lawan jenis, sementara perilaku atau orientasi seksual yang berbeda dianggap sebagai penghinaan terhadap maskulinitas yang diinginkan.

2. Menekan ekspresi emosi

Pria sering kali dianggap tidak boleh menunjukkan emosi seperti kesedihan atau kerentanan. Mereka diharapkan untuk selalu kuat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Hal ini membuat banyak pria kesulitan dalam mengungkapkan dan mengelola emosi mereka, yang pada akhirnya dapat berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.

3. Mengedepankan perilaku berbahaya

Toxic masculinity sering kali mengaitkan perilaku berbahaya, seperti minum-minuman beralkohol berlebihan, mengonsumsi obat terlarang, atau berperilaku kasar, dengan konsep kejantanan. Pria diharapkan untuk terlibat dalam perilaku-perilaku tersebut untuk membuktikan bahwa mereka adalah pria yang sejati.

See also  Kecerdasan Intelektual: Pengertian, Tanda, dan Pentingnya

4. Hanya mengakui kekuatan fisik

Laki-laki dianggap hanya memiliki kekuatan fisik sebagai tanda-tanda kejantanan mereka. Mereka sering kali diharapkan untuk menunjukkan kekuatan dan ketangguhan dalam segala hal, termasuk dalam olahraga atau situasi yang menuntut kekuatan jasmani.

5. Menghindari kebutuhan emosional

Pria sering kali merasa terbebani untuk tidak membutuhkan kehangatan, perhatian, atau dukungan. Mereka dianggap harus mandiri dan tidak boleh bergantung pada orang lain. Hal ini membuat banyak pria kesulitan dalam mencari bantuan atau menyatakan kebutuhan mereka secara emosional.

6. Bersikap misoginis

Toxic masculinity sering kali terkait dengan pandangan negatif terhadap perempuan. Pria diharapkan untuk mendominasi dan mengendalikan perempuan, dan sering kali merendahkan atau mempermalukan mereka. Hal ini dapat melahirkan sikap misogini dan tindakan diskriminatif terhadap perempuan.

7. Mengaitkan martabat dengan kekuasaan dan status sosial

Pria sering kali dianggap hanya memiliki martabat dan dihormati oleh orang lain jika mereka memiliki kekuasaan atau status sosial yang tinggi. Hal ini mencerminkan pengkultusan terhadap kekuatan dan dominasi dalam konsep toxic masculinity.

8. Bersikap agresif dan dominan

Toxic masculinity sering kali mendorong perilaku agresif dan dominan pada laki-laki. Pria diharapkan untuk mendominasi orang lain, terutama perempuan, dan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.

Ciri-ciri toxic masculinity ini mencerminkan ekspektasi yang tidak realistis dan membahayakan yang ditempatkan pada laki-laki oleh masyarakat. Ekspektasi ini dapat menyebabkan tekanan mental dan emosional yang berdampak buruk pada kesejahteraan pria dan orang-orang di sekitarnya.

Bentuk Toxic Masculinity dalam Masyarakat

Toxic masculinity dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti keluarga, lingkungan kerja, atau bahkan di media massa. Bentuk-bentuk toxic masculinity yang sering ditemui dalam masyarakat antara lain:

1. Tidak boleh menunjukkan perasaan

Laki-laki sering kali ditekan untuk tidak menunjukkan perasaan dan emosi mereka, terutama perasaan sedih atau lemah. Mereka diharapkan untuk menjadi kuat dan tidak menunjukkan kelemahan. Hal ini mengakibatkan banyak pria tidak mampu mengungkapkan dan mengelola emosi mereka dengan sehat.

2. Harus mendominasi

Laki-laki sering kali diharapkan untuk mendominasi dan mengendalikan orang lain, terutama perempuan. Mereka ditekan untuk menjadi pemimpin dan tidak boleh memberikan ruang bagi wanita untuk memimpin atau mengambil keputusan. Hal ini menyebabkan ketidakadilan gender dan menyulitkan perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam berbagai bidang.

3. Menganggap perbuatan kasar sebagai hal yang wajar

Laki-laki sering kali menganggap perlakuan kasar terhadap orang lain sebagai tanda kejantanan yang diinginkan. Mereka percaya bahwa perilaku agresif dan kasar adalah cara yang tepat untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi. Hal ini menghasilkan lingkungan yang tidak aman dan membahayakan bagi orang-orang di sekitar mereka.

4. Menganggap pekerjaan domestik adalah milik perempuan

Tugas-tugas domestik sering kali dianggap sebagai tanggung jawab perempuan semata. Laki-laki diharapkan untuk tidak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan menganggapnya sebagai pekerjaan yang hanya dilakukan oleh perempuan. Hal ini menyebabkan beban yang tidak adil bagi perempuan dan memperkuat peran gender yang salah dalam keluarga.

5. Mewajarkan tindakan ekstrem

Tindakan-tindakan ekstrem, seperti kekerasan atau bahkan tindakan kriminal, sering kali diwajarkan atau dianggap sebagai bagian dari maskulinitas yang diinginkan. Hal ini menjadi akar dari perilaku berbahaya dan mengancam keselamatan orang lain. Masyarakat perlu menyadari bahwa perilaku ekstrem tidaklah pantas atau dapat dibenarkan dalam kehidupan sehari-hari.

See also  Ikan Mola: Ikan Unik yang Beratnya Bisa Setara Mobil

Bentuk-bentuk toxic masculinity ini mencerminkan adanya ketidakadilan gender dan stereotip yang merugikan pria maupun wanita. Masyarakat perlu memahami dan mengubah pandangan yang mengkultuskan konsep maskulinitas yang tidak sehat agar semua individu dapat hidup dalam lingkungan yang inklusif dan adil.

Cara Mencegah Toxic Masculinity

Untuk mencegah perkembangan dan penyebaran toxic masculinity dalam masyarakat, peran keluarga, pendidikan, dan masyarakat sangat penting. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah toxic masculinity antara lain:

1. Pendidikan yang inklusif

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk pandangan dan sikap seseorang terhadap gender. Pendidikan yang inklusif dapat menyediakan ruang untuk diskusi dan pemahaman tentang kesetaraan gender, serta menghilangkan stereotip dan ekspektasi yang tidak realistis terhadap laki-laki. Sekolah dan institusi pendidikan harus memasukkan isu-isu gender dalam kurikulum mereka dan mendorong dialog terbuka tentang hal ini.

2. Peran orang tua

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pandangan dan sikap anak-anak terhadap gender. Orang tua perlu memberikan pemahaman yang sehat tentang maskulinitas dan melepaskan ekspektasi yang tidak realistis terhadap laki-laki. Mereka harus memberikan ruang bagi anak laki-laki untuk mengekspresikan emosi mereka dengan sehat, dan menghindari perkataan atau tindakan yang merendahkan perempuan.

3. Kesadaran media

Media massa memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk pandangan masyarakat tentang gender. Kesadaran terhadap representasi yang tidak sehat atau negatif tentang laki-laki dalam media sangat penting. Oleh karena itu, perlu menyaring konten media yang ditonton oleh anak-anak dan remaja, dan mengedukasi mereka tentang potensi adanya stereotip atau gambaran tidak realistis tentang gender.

4. Pembentukan komunitas yang inklusif

Masyarakat perlu membangun komunitas yang inklusif dan menghormati setiap individu, tanpa memandang gender. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan kegiatan sosial atau program pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan gender dan menghilangkan stereotip yang tidak sehat. Penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi semua individu untuk mengekspresikan diri mereka dengan bebas dan tanpa rasa takut.

5. Membangun pola asuh yang positif

Orang tua perlu membangun pola asuh yang positif dan inklusif, yang tidak membatasi atau menekan ekspresi emosi anak laki-laki. Mereka harus memberikan pengertian bahwa mengekspresikan emosi adalah hal yang normal dan sehat, dan bahwa laki-laki juga memiliki hak untuk merasakan dan menunjukkan emosi mereka. Hal ini dapat membantu anak laki-laki untuk tumbuh menjadi individu yang lebih seimbang dan menghargai kesetaraan gender.

Penyebaran toxic masculinity dapat dicegah jika kita semua bersama-sama berperan aktif. Dengan menyadari dan mengubah pola pikir dan perilaku yang mencerminkan stereotip dan ekspektasi gender yang tidak sehat, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua individu.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?