(Review) Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas



Gaung dari novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya Eka Kurniawan sedang meroket tinggi di dunia sastra. Hal ini dikarenakan kesuksesan adaptasi filmnya yang mendapatkan perhatian positif di pasar internasional. Film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” berhasil menarik perhatian penonton di Festival Film Internasional Locarno 2021 dengan memperoleh penghargaan Golden Leopard.

Penulis Eka Kurniawan terlibat langsung dalam pembuatan naskah film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” yang disutradarai oleh Edwin. Film ini menggambarkan keadaan masyarakat Indonesia pada tahun 80-90an dengan cerdas. Dalam novelnya, Eka Kurniawan mampu menyindir perlakuan tidak adil yang kerap diterima oleh orang-orang kelas menengah ke bawah. Kisah hidup yang keras dan penuh humor sarkastik ini adalah bukti kemampuan Eka dalam meramu sebuah plot cerita.

Banyak pembaca yang menduga bahwa karya sastra selalu berat dan sulit dipahami. Namun, saat ini banyak penulis dan karya sastra yang mulai digandrungi oleh anak muda. Salah satu contoh yang dapat disebutkan adalah Eka Kurniawan. Karya sastra tidak hanya berisi narasi belaka, tetapi juga mengandung nilai-nilai kebudayaan, sejarah, dan kritik sosial. Sastra dapat memberikan hiburan sambil membuka pikiran pembacanya terhadap perbedaan.

Karya sastra pada dasarnya mencerminkan nilai-nilai masyarakat dan perjuangan untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, karya sastra merupakan cerminan dari sosial-budaya dan kehidupan masyarakat. Karya sastra tidak hanya ditulis untuk dinikmati pembaca, tetapi juga untuk menyampaikan gagasan, kritik, pengalaman, dan pesan kepada pembaca agar dapat merenungkan dan merefleksikan kehidupan di tengah masyarakat.

Lingkungan dan zaman juga memiliki peran penting dalam membentuk karya sastra yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Imajinasi penulis menjadi kekuatan dalam menciptakan karya sastra yang unik. Dengan menggabungkan imajinasi, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat, penulis dapat menciptakan cerita yang menghibur sekaligus mencerminkan efek-efek sosial yang terjadi.

See also  Review Buku Orang-Orang Biasa Andrea Hirata

Karya sastra tidak hanya menjadi media hiburan semata, tetapi juga memiliki pesan, makna, dan tujuan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Saat ini, sastra dapat dinikmati oleh siapapun karena pembahasannya semakin diminati oleh berbagai kalangan, khususnya anak muda. Menikmati sastra tidak selalu harus memahami isu sosial, tetapi cukup dengan menikmati dan mempelajari isi karya sastra, kita dapat merasakan kepuasan dalam membaca.

Eka Kurniawan adalah salah satu penulis karya sastra yang digandrungi oleh pembaca di dalam dan luar negeri. Lahir di Tasikmalaya pada tahun 1975, Eka Kurniawan telah mencapai banyak prestasi di bidang sastra. Ia terlibat dalam dunia sastra sejak tahun 1999 dengan skripsinya yang berjudul “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”, yang kemudian diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia.

Karya fiksi pertama Eka Kurniawan adalah kumpulan cerita pendek yang berjudul “Corat-coret di Toilet”. Namun, karya pertamanya yang berhasil mendunia adalah novel “Cantik Itu Luka” yang pertama kali terbit pada tahun 2002. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Jepang dan Inggris.

Novel kedua Eka Kurniawan yang berjudul “Lelaki Harimau” berhasil masuk dalam Long List The Man Booker International Prize 2016. Bahkan novel ini telah diterjemahkan ke dalam lima bahasa. Pengaruh dari penulis-penulis sastra lainnya, seperti Pramoedya Ananta Toer, Gabriel Garcia Marquez, dan Fyodor Dostoyevsky, terlihat dalam karya-karya Eka Kurniawan.

“Cantik Itu Luka” adalah karya Eka Kurniawan yang paling fenomenal, karena telah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa. Banyak media asing yang tertarik untuk membahas karya-karya Eka Kurniawan, seperti The Economist, The Strait Time, dan The Sun. Karya-karya Eka Kurniawan selalu menarik perhatian media asing, terutama novel “Cantik Itu Luka” yang pernah diulas oleh kritikus dari New York Times.

Dengan mendekati perilisan film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”, nama Eka Kurniawan semakin mencuat. Kualitas tulisan Eka Kurniawan yang tidak diragukan lagi menjadi daya tarik sendiri bagi para pembaca. Karya sastra yang dihasilkan oleh Eka Kurniawan mampu menghipnotis setiap pembaca dengan tema-tema yang unik dan menarik. Namun, masih banyak orang awam yang tidak memahami konteks dari tulisan Eka Kurniawan.

See also  Ragam Alat Musik Maluku: Bentuk dan Cara Memainkannya

Beberapa waktu lalu, nama Eka Kurniawan sempat viral di media sosial Twitter, karena ada satu orang yang mengutip salah satu novelnya, “Cantik Itu Luka”. Gaya bercerita Eka yang berani, vulgar, dan blak-blakan memang tidak dapat diterima oleh semua pembaca jika mereka malas untuk mengerti konteks dari isi novel tersebut.

Sinopsis novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” mengisahkan tentang seorang anak muda bernama Ajo Kawir yang digambarkan sebagai sosok yang bermasalah, nakal, dan biang onar. Bersama sahabatnya, Si Tokek, Ajo Kawir tanpa sengaja menjadi saksi sebuah tragedi pemerkosaan yang dilakukan oleh dua polisi terhadap seorang perempuan sakit jiwa. Kejadian ini mengubah hidup Ajo Kawir secara drastis dan membuatnya harus menghadapi trauma yang mendalam.

Setelah kejadian tersebut, “burung” milik Ajo Kawir yang melambangkan kejantanannya dalam bahasa kasar, menjadi tidak berguna dan tertidur. Ajo Kawir berusaha melakukan berbagai cara untuk membangunkan “burung”-nya, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Berita mengenai kondisi “burung” Ajo Kawir menyebar luas dan membuatnya menjadi bahan olok-olokan dan candaan.

Di tengah keputusasaannya, Ajo Kawir bertemu dengan Iteung dan mereka berdua saling jatuh cinta. Namun, Ajo Kawir merasa ragu untuk menikah dengan Iteung karena kondisi “burung”-nya yang tidak bisa bangkit. Iteung tetap mencintai Ajo Kawir meskipun mengetahui kondisi yang dialaminya. Mereka menikah dan memulai kehidupan pernikahan yang tidak mudah.

Kehidupan Ajo Kawir dan Iteung tidak semulus yang mereka harapkan. Iteung hamil dan anak yang ada dalam kandungannya bukanlah anak Ajo Kawir. Hal ini membuat Ajo Kawir merasa dendam dan menyerang orang-orang yang pernah menyakiti dan merendahkan dirinya.

Setelah beberapa lama menghadapi konflik dalam hidupnya, Ajo Kawir akhirnya sadar bahwa kekerasan dan dendam tidak akan membawa kedamaian. Ia memilih untuk menerima kondisi “burung”-nya yang tertidur dan hidup dengan damai. Ajo Kawir menjadi seorang supir truk dan menemukan kedamaian dalam perjalanan hidupnya.

See also  Profil Wonyoung IVE, Sang It Girl di 4th Generation Idol!

Kelebihan novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” terletak pada gaya bahasanya yang frontal, vulgar, dan blak-blakan. Meskipun menggunakan bahasa yang kasar, Eka Kurniawan mampu menyampaikan makna secara tersirat dan mengundang pembaca untuk memahami pesan yang terkandung dalam cerita. Alur cerita yang tidak membosankan dan pemilihan kata yang tepat menjadikan novel ini menarik untuk dinikmati.

Kekurangan novel ini terletak pada gaya bahasanya yang mungkin tidak disukai oleh semua pembaca. Gaya bahasa vulgar dan kasar bisa membuat sebagian pembaca tidak nyaman. Oleh karena itu, novel ini lebih cocok untuk dibaca oleh pembaca dewasa dan yang memiliki pikiran terbuka.

Pesan moral yang dapat diambil dari novel ini adalah bahwa kekerasan dan dendam tidak akan membawa kedamaian. Terkadang, kita perlu belajar menerima dan berdamai dengan keadaan yang tidak bisa diubah. Kedamaian dan ketentraman dapat ditemukan dengan menghargai diri sendiri dan menjalani hidup dengan damai.

Novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” karya Eka Kurniawan adalah karya sastra yang menarik dan memiliki pesan yang dalam. Gaya bahasa yang vulgar dan blak-blakan menjadi kelebihan dan kekurangannya. Penting bagi pembaca untuk memahami konteks dan makna yang terkandung dalam novel ini.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?