Review Novel Dua Barista Karya Najhaty Sharma: Kritik Terhadap Poligami


Profil Penulis Novel Dua Barista

Najhaty Sharma, penulis novel Dua Barista, adalah seorang penulis yang lahir pada tanggal 30 Juli 1988. Ia tumbuh di kawasan pondok pesantren Al-Asnawi, Salamkanci, Bandongan, Magelang. Najhaty juga menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren Salafiyah An-Nur, Purworejo. Saat ini, ia telah menghasilkan lima karya tulis, termasuk novel Dua Barista, Antologi Perempuan Tali Jagat, Antologi Morl Code KPFI (Komunitas Penulis Facebook Indonesia), Antologi Cerpen Kupu-Kupu Marrakech, dan Antologi Solo Lipstik. Selain sebagai seorang penulis, Najhaty juga merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak. Ia memiliki kegemaran membaca, traveling, dan berwirausaha.

Detail dan Review Novel Dua Barista

Novel Dua Barista terbit pada bulan Januari tahun 2020 dan memiliki tebal sebanyak 495 halaman. Cetakan pertama novel ini terjual sebanyak 3000 lembar, dan dalam waktu satu bulan, novel ini sudah mencapai cetakan ke-3. Novel ini berhasil menarik minat ribuan pembaca dengan cerita yang mengisahkan kehidupan pasangan suami-istri muda dalam pesantren. Detail tentang kehidupan pesantren dalam novel ini terasa nyata, sehingga pembaca dapat memahami lebih banyak tentang tradisi dan kehidupan di pesantren. Judul “Dua Barista” dipilih untuk menggambarkan pernikahan di mana pasangan suami dan istri menjalani kehidupan dengan status yang sama, tanpa ada perbedaan satu sama lain. Novel ini awalnya ditulis melalui postingan per bab di Facebook dan kemudian menjadi novel yang fenomenal dan sering diperbincangkan di kalangan pesantren.

Sinopsis

Novel Dua Barista menceritakan tentang kehidupan Ahvash dan Mazarina, pasangan suami-istri muda yang cerdas, energik, dan alim. Pasangan ini dipercaya akan melahirkan generasi penerus dari pengasuh pesantren keluarga mereka. Namun, setelah lima tahun menikah, Mazarina belum juga dikaruniai keturunan. Ahvash terus berusaha menenangkan Mazarina dan mencari bantuan dari berbagai pihak. Namun, Mazarina akhirnya didiagnosis menderita penyakit yang membutuhkan operasi pengangkatan rahim, menyebabkan harapan mereka untuk memiliki anak sendiri hancur. Di tengah tekanan dari keluarga Ahvash yang menginginkan segera adanya penerus pengasuhan pesantren, wacana poligami muncul. Ahvash harus menghadapi konflik batin saat dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika orang tuanya memperkenalkan Meys sebagai calon istri keduanya. Mazarina harus rela menyaksikan kemesraan suaminya dengan perempuan lain. Di samping itu, ada lagi kehadiran Juan Harvey, seseorang dari masa lalu Mazarina yang siap menerima dan mencintainya apa adanya.

See also  Rekomendasi Film Horor Terbaik dari Masa ke Masa, Berani Nonton?

Review Isi Novel

Kisah pernikahan Ahvash dan Mazarina pada awalnya tidak jauh berbeda dengan cerita cinta pasangan suami-istri pada umumnya. Mereka bertemu melalui perjodohan dan selama empat tahun menjalin hubungan dengan saling menguatkan satu sama lain. Namun, kemudian Mazarina diserang penyakit tumor rahim yang membutuhkan operasi pengangkatan rahim. Harapan untuk memiliki anak menjadi hancur. Ahvash mencoba memberikan dukungan kepada Mazarina, mengajaknya bermain dengan anak-anak dan sepupunya, namun di sisi lain, dia juga khawatir dengan perasaan orang tuanya yang mengharapkan adanya cucu. Saat wacana poligami muncul, Ahvash tidak dapat menolak pilihan yang disodorkan oleh orang tuanya dan menikahi Meys sebagai istri keduanya. Konflik dalam novel ini mulai muncul saat Mazarina harus menyaksikan kemesraan suaminya dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Di tengah pernikahan poligami ini, muncul juga Juan Harvey yang siap mencintai Mazarina apa adanya.

Review Tokoh dan Tema

Novel Dua Barista menampilkan tokoh-tokoh yang kuat dan beragam. Ahvash adalah tokoh utama yang merupakan lulusan Al Ahgaff dan menikahi dua wanita, Mazarina dan Meysaroh. Melalui Ahvash, penulis berhasil menunjukkan bagaimana seharusnya percintaan suami-istri yang sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan saling mengerti dan saling mengasihi satu sama lain. Mazarina adalah wanita yang cerdas dan memiliki jiwa wirausaha. Ia juga memiliki ketegaran yang luar biasa dalam menghadapi berbagai cobaan dalam hidupnya, termasuk saat harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Meysaroh adalah seorang gadis yang lugu dan baik hati. Meskipun pemalu, ia pandai dalam pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan menjahit. Selain itu, ada juga tokoh Badrun yang merupakan khodam kesayangan Ahvash dan berhasil menunjukkan bahwa lulusan pesantren juga bisa sukses dalam berbagai bidang.

See also  5 Rekomendasi Vitamin Kucing Agar Gemuk dan Bulu Lebat Terbaik

Tema utama yang dibawa dalam novel ini adalah percintaan dan agama. Penulis menggambarkan betapa pentingnya mencintai pasangan sesuai dengan tuntunan agama Islam. Melalui novel ini, penulis ingin menyampaikan pesan-pesan mengenai bersyukur, kesabaran, keteguhan, keikhlasan, dan keadilan dalam pernikahan. Novel ini juga mengangkat tema tentang budaya pesantren, seperti kehidupan sehari-hari santri, khodam dan khodimah, serta hubungan antara Gus dan Ning.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Kelebihan utama dari novel Dua Barista adalah pesan-pesan kehidupan yang disampaikan melalui ceritanya. Misalnya, ada pesan tentang kebersyukuran dan ketegaran yang ditunjukkan oleh seorang ibu yang mendoakan agar Mazarina diberikan kekuatan untuk menghadapi poligami dalam pernikahannya. Melalui kata-kata tersebut, penulis mengkritik bahwa seorang kyai pun bisa “kalah” dalam praktek beragama dibandingkan dengan orang biasa. Kelebihan lainnya adalah novel ini dapat membuka stereotip tentang perempuan yang tertuang dalam kata-kata “Macak, Masak, dan Manak”. Novel ini juga membuka mata kita tentang kehidupan dan budaya pesantren yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Ada juga kritik sosial terhadap tradisi pesantren yang terkadang menghambat perkembangan karena terlalu fokus pada pewarisan keluarga daripada keilmuan.

Namun, ada juga beberapa kekurangan dalam novel ini. Salah satunya adalah penggambaran fisik dan latar belakang tokoh-tokohnya yang terlihat seragam dengan novel-novel pesantren lainnya. Karakter laki-laki digambarkan sebagai sosok yang sempurna secara fisik, sementara karakter perempuan digambarkan sebagai sosok yang cantik dan sempurna. Penggambaran ini bisa membuat pembaca berpikir bahwa pemilihan pasangan di pesantren lebih mengutamakan penampilan daripada akhlak, adab, dan keilmuan. Ada juga beberapa kesalahan teknis penulisan, seperti ketidakadaan tanda titik dan koma dalam percakapan, penggunaan bahasa Jawa tanpa disertai arti atau catatan kaki, dan candaan yang sulit dimengerti oleh pembaca tanpa latar belakang ilmu bahasa Arab.

See also  14 Daftar Mall Terbesar di Indonesia, Tertarik untuk Berkunjung?

Kesimpulan

Secara keseluruhan, novel Dua Barista merupakan novel yang penuh dengan kritik sosial dan nilai-nilai ajaran Islam. Melalui tokoh-tokohnya, novel ini menyampaikan berbagai pesan tentang kehidupan, pernikahan, dan budaya pesantren. Poligami dalam novel ini menjadi “medium” untuk menyampaikan kritik dan pesan penulis. Novel ini juga dapat menjadi medium yang tepat untuk mengenalkan budaya pesantren kepada masyarakat umum. Keberhasilan novel ini dalam menarik minat pembaca menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan cara yang tepat dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat luas, bahkan jika hal yang dikritik merupakan hal yang tabu.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?