Review Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Profil Alvi Syahrin – Penulis Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Alvi Syahrin adalah seorang novelis pria kelahiran Ambon pada tanggal 20 Januari 1992. Meskipun lahir di Ambon, saat ini Alvi Syahrin tinggal di Kota Surabaya untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Jurusan yang ia pilih adalah Teknik Informatika, yang tidak ada kaitannya dengan karir kepenulisannya. Alasan dirinya memilih jurusan ini berawal dari hobinya bermain dengan robot-robotan saat masih kecil.
Namun, sejak kecil Alvi Syahrin sudah memiliki hobi menulis. Ia sering menuliskan catatan imajinasinya untuk tidak melupakan imajinasi masa kecilnya. Awalnya, ia rajin menulis lirik lagu, tetapi kemudian ia mulai tertarik menulis cerita pendek dengan genre fantasi. Ia juga pernah mencoba menulis cerita horor, tetapi ia merasa lebih tertarik dengan genre fantasi karena daya tarik masa kecilnya yang suka berimajinasi.
Alvi Syahrin memiliki tekad untuk membantu dan memberikan manfaat kepada banyak orang melalui tulisannya. Ia ingin menginspirasi dan memberikan pesan moral kepada pembaca dengan karya-karyanya. Karena tekad tersebut, Alvi pun memutuskan untuk menekuni dunia kepenulisan.
Novel pertama yang diterbitkan Alvi Syahrin berjudul “Dilema”. Novel ini awalnya ia tulis untuk mengikuti lomba menulis buku outline pada tahun 2013. Alvi berhasil menjadi salah satu pemenang dalam lomba tersebut, yang kemudian memotivasinya untuk semakin produktif menulis. Beberapa karyanya yang lain, seperti “Insecurity Is My Middle Name”, “Swiss: Little Snow in Zurich”, dan “Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa” juga meraih kesuksesan sebagai buku best-seller.
Buku terbaru Alvi Syahrin yang akan kita bahas kali ini adalah “Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta”. Buku ini diterbitkan pertama kali pada bulan Desember 2018 dan langsung mendapatkan respon positif dari pembaca. Buku ini merupakan karya Alvi yang mengangkat tema cinta dan membahas berbagai problematika dalam kehidupan percintaan yang sering dihadapi oleh masyarakat.
Sinopsis Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Buku “Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta” mengisahkan tentang pandangan mengenai cinta yang dianggap oleh sebagian besar orang sebagai suatu hal yang paling penting. Namun, Alvi Syahrin ingin mengajak pembaca untuk melihat makna cinta yang sebenarnya. Menurut Alvi, cinta bukanlah suatu hal yang selalu menyenangkan dan memabukkan, melainkan sebuah hal yang kompleks.
Buku ini terdiri dari 45 bagian yang masing-masing berisi cerita pendek tentang kehidupan percintaan (slice of life). Setiap akhir cerita, Alvi memberikan pengertian dan pemahaman akan situasi cerita tersebut. Ia ingin pembaca dapat merasakan dan memahami berbagai situasi yang mungkin mereka alami dalam kehidupan percintaan mereka.
Dalam buku ini, Alvi Syahrin mengambil sudut pandang yang berbeda-beda. Ada cerita yang ditulis dari sudut pandang tokoh perempuan, dan ada pula yang ditulis dari sudut pandang tokoh laki-laki. Di antara kisah-kisah tersebut, Alvi ingin menunjukkan bahwa cinta bukanlah hal yang paling penting dalam hidup kita. Ia ingin orang-orang dapat melihat bahwa di dunia ini terdapat banyak hal yang lebih penting dari cinta.
Tujuan Alvi Syahrin menulis buku ini adalah untuk mengajak pembaca melihat cinta dari sudut pandang yang baru. Ia ingin orang-orang bisa mencintai diri mereka sendiri sebelum mencintai orang lain. Ia ingin mereka melihat bahwa keberadaan diri mereka lebih penting dari sekadar mencintai seseorang. Dalam buku ini, Alvi memberikan saran dan pemahaman yang objektif bagi pembaca agar mereka bisa merasakan cinta dengan cara yang sehat dan realistis.
Kelebihan Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Salah satu kelebihan buku “Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta” adalah gaya bercerita yang digunakan oleh Alvi Syahrin. Alvi menuliskan cerita-cerita pendek tersebut dengan gaya bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti oleh pembaca. Dalam buku ini, Alvi menjadi “sahabat” pembaca dan memberikan saran serta pemahaman dalam setiap ceritanya.
Gaya bercerita yang digunakan Alvi membuat pembaca merasa nyaman saat membaca buku ini. Mereka seperti sedang mendengarkan curhatan teman dekat yang memberikan saran dan teguran dalam hidup percintaan mereka. Buku ini tidak hanya memberikan solusi klise, tetapi juga membantu pembaca melihat cinta secara lebih nyata dan objektif.
Buku ini juga mengandung banyak pesan moral yang bisa menjadi bahan introspeksi bagi pembaca. Alvi memberikan sudut pandang baru tentang cinta yang tidak hanya berkisar pada asmara belaka. Ia ingin pembaca melihat bahwa di dunia ini ada banyak hal yang lebih penting dari cinta, seperti diri sendiri, hubungan dengan Tuhan, dan penghargaan terhadap orang tua.
Kelebihan lain dari buku ini adalah strukturnya yang terorganisir dengan baik. Buku ini terbagi menjadi 45 bagian cerita pendek yang saling terhubung. Setiap cerita memiliki alur yang jelas dan mengalir dengan baik. Pembaca tidak akan kebingungan saat membaca buku ini, karena Alvi telah menyusun cerita-cerita tersebut dengan baik.
Kekurangan Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Meskipun buku ini mendapatkan banyak respon positif dari pembaca, ada beberapa kekurangan yang dinilai oleh sebagian orang. Pertama, buku ini dinilai kurang relevan untuk dibaca oleh mereka yang sudah berusia dewasa. Kisah cinta yang dituliskan oleh Alvi Syahrin dalam buku ini lebih cocok untuk kalangan remaja yang baru mulai mengenal cinta. Pandangan yang dihadirkan dalam buku ini belum cukup luas dan belum mencakup berbagai problematika dalam kehidupan percintaan yang dihadapi oleh mereka yang lebih dewasa.
Kekurangan lainnya adalah kaitan cerita cinta dengan ajaran agama yang diangkat dalam buku ini. Hal ini dinilai kurang relevan oleh beberapa pembaca yang mungkin memiliki perbedaan keyakinan agama. Beberapa orang lebih menginginkan solusi-solusi yang realistis dan logis, daripada solusi yang berdasarkan ajaran agama tertentu.
Terkadang, beberapa kalimat dalam buku ini juga dianggap klise dan memberikan kesan yang membosankan. Beberapa saran yang diberikan oleh Alvi Syahrin dalam buku ini dinilai belum tentu dapat diterima oleh semua orang. Setiap individu memiliki perbedaan dan cara pandang yang berbeda-beda terkait cinta. Maka, tidak semua saran dalam buku ini dapat diterapkan secara universal.
Pesan Moral Buku Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta
Salah satu pesan moral yang dapat kita ambil dari buku “Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta” adalah pentingnya belajar dari pengalaman masa lalu. Melalui ceritanya, Alvi Syahrin ingin mengingatkan pembaca bahwa kita tidak akan bisa menjadi pribadi yang tangguh jika tidak pernah mengalami jatuh cinta dan terluka. Pengalaman tersebut membentuk kita menjadi orang yang kuat dan dapat menghargai diri sendiri.
Buku ini juga mengajak pembaca untuk tidak terlalu fokus pada kehidupan percintaan semata. Terdapat banyak hal yang lebih penting di dunia ini daripada cinta. Alvi ingin pembaca melihat bahwa keberadaan diri sendiri, hubungan dengan Tuhan, dan penghargaan terhadap orang tua juga memiliki peran yang sangat penting dalam hidup kita.
Selain itu, buku ini juga mengajak pembaca untuk lebih realistis dalam menjalani hubungan percintaan. Jangan terlalu terbuai oleh kata-kata manis dan janji-janji dari pasangan. Perhatikan juga kepribadian dan sikap pasangan, apakah dia memang bisa diharapkan dan bersikap baik kepada orang lain.
Buku ini juga ingin mengingatkan pembaca untuk tidak menyalahkan pasangan ketika ia gagal menepati janji, karena kita sendiri mungkin juga belum menepati janji kepada orang tua, diri sendiri, dan Tuhan. Pembaca diajak untuk introspeksi diri dan melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang penting dalam hidup mereka.
Dengan demikian, buku “Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta” memberikan pesan-pesan moral yang dapat menjadi bahan introspeksi bagi pembaca. Melalui ceritanya, Alvi Syahrin mengajak pembaca untuk melihat cinta secara lebih nyata dan objektif, serta mengingatkan pentingnya menghargai diri sendiri dan berfokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup. Buku ini layak untuk direkomendasikan kepada pembaca yang sedang merasa terpuruk atau sedang mencari pemahaman tentang cinta.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.