(REVIEW BUKU) Goodbye, Things: Panduan Jadi Minimalis ala Jepang
Goodbye, Things: Panduan Jadi Minimalis ala Jepang adalah buku yang ditulis oleh Fumio Sasaki, seorang mantan maksimalis yang kehidupannya berubah ketika dia memutuskan untuk menjalani gaya hidup minimalis. Dalam bukunya, Fumio mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali jumlah barang yang mereka miliki dan menguranginya hingga tingkat minimum.
Pertama-tama, mari kita lihat latar belakang Fumio Sasaki. Pada usia 35 tahun, Fumio tinggal di sebuah apartemen di daerah Nakameguro, Tokyo. Apartemen tersebut sudah ia huni selama 10 tahun, dan penuh dengan berbagai barang. Kamar tidurnya dipenuhi oleh tumpukan buku yang sebagian besar hanya ia baca selembar-dua lembar lalu ditinggalkan. Lemari di apartemennya dipenuhi oleh pakaian yang sebagian besar hanya ia kenakan beberapa kali.
Tak hanya itu, Fumio juga mengoleksi berbagai barang yang menjadi hobi dan kegemarannya. Namun, kegemarannya ini sering berganti-ganti karena ia cepat bosan. Koleksi barangnya termasuk gitar dan pengeras suara yang tertutup debu, buku panduan belajar bahasa Inggris yang tidak pernah ia lihat, bahkan kamera antik yang tidak pernah ia gunakan.
Walaupun memiliki begitu banyak barang, Fumio merasa tidak bahagia. Ia merasa hampa, terutama setelah bertemu dengan teman kuliahnya yang sudah sukses dengan memiliki rumah, mobil mewah, istri cantik, dan bayi lucu. Fumio membandingkan dirinya dengan orang tersebut dan menjadi kesal atas jumlah barang yang dimiliki temannya tersebut. Namun, Fumio juga merasa tidak bisa melakukan banyak hal untuk mengubah keadaan. Akhirnya, ia menghibur dirinya dengan minum-minum.
Buku ini mengingatkan kita bahwa hidup di zaman sekarang sering kali membuat kita merasa bahwa kesuksesan ditentukan oleh barang-barang atau materi yang dimiliki seseorang. Kita sering kali tergoda untuk memiliki lebih banyak barang, entah itu rumah, mobil, tas, pakaian, sepatu, atau merek smartphone yang dipakai. Namun, sering kali keinginan untuk memiliki lebih banyak barang hanya membuat kita menghabiskan lebih banyak waktu dan energi untuk mengelola dan mempertahankan barang yang kita punya.
Fumio Sasaki memutuskan untuk mengubah hidupnya ketika dia memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih murah. Namun, proses pindah tersebut hampir menghabiskan seluruh tabungannya. Hal ini membuat Fumio berpikir kembali tentang tujuan hidupnya dan apa yang sebenarnya membuatnya bahagia. Inilah saat dimana dia memutuskan untuk membuang sebagian besar barang miliknya.
Menurut Fumio, minimalisme adalah gaya hidup di mana kita mengurangi jumlah barang yang kita miliki hingga tingkat paling minimum. Dalam bukunya, Fumio menjelaskan bahwa di masa lalu, orang Jepang hidup secara minimalis. Sebagian besar orang Jepang hanya memiliki dua hingga tiga kimono bersih dan tidak membawa banyak barang ketika bepergian.
Konsep minimalisme juga bukan sesuatu yang hanya pernah tumbuh di Jepang. Di berbagai masyarakat pra-industrialisasi dan konsumerisme, pola hidup sederhana dan minimalis menjadi hal yang umum dilakukan. Di beberapa negara Eropa, sebelum ledakan ekonomi tahun 1960-an, orang menggunakan baju selama mungkin dan hanya membuangnya ketika sudah tidak bisa digunakan lagi. Mereka juga mewarisi barang-barang dari generasi ke generasi dan tidak membuang apa pun yang bisa diperbaiki atau digunakan kembali.
Kembali ke Jepang, minimalisme mulai dibicarakan kembali sejak tahun 2010. Konsep “danshari”, yang berarti seni membereskan, membuang, dan berpisah dari barang-barang, menjadi pembicaraan publik. Pertanyaan yang penting diajukan adalah mengapa kita tidak melanjutkan pola hidup minimalis dan sederhana seperti kakek dan nenek kita dahulu? Jawabannya sederhana, kita telah terjebak dalam budaya konsumtif.
Budaya konsumtif membuat kita percaya bahwa semakin banyak barang yang kita miliki, maka semakin kaya dan bahagia kita. Namun, kebahagiaan sebenarnya adalah konsep yang sangat subjektif. Apa yang membuat seseorang bahagia bisa berbeda-beda. Fumio Sasaki justru merasa bahagia setelah membuang banyak barang-barangnya.
Dulu, Fumio adalah seorang maksimalis yang selalu ingin menyimpan segalanya. Ia ingin memiliki barang-barang yang paling keren, terbesar, dan terberat. Namun, seiring berjalannya waktu, barang-barang tersebut terus bertambah dan membuat huniannya sempit. Ia merasa kehabisan energi untuk mengurus barang-barang tersebut dan merasa bersalah karena tidak mampu memanfaatkannya dengan baik.
Selain itu, Fumio juga terjebak dalam lingkaran setan lainnya. Meskipun ia sudah memiliki banyak barang, ia tidak pernah berhenti memikirkan barang-barang yang belum dimilikinya. Ia merasa cemburu pada orang-orang yang memiliki barang lebih darinya, namun tidak pernah membuang barang apapun.
Fumio Sasaki berpendapat bahwa membuang barang membantu untuk memutus lingkaran setan ini. Menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi digunakan atau dibutuhkan dapat membantu merasa lebih lega dan bahagia. Menurutnya, semakin sedikit barang yang dimiliki, semakin sedikit juga beban hidup yang harus ditanggung, dan semakin bahagia kita akan menjadi.
Setelah curhat tentang kehidupannya, Fumio Sasaki memberikan tips-tips tentang bagaimana menjalani hidup minimalis. Ia mengatakan bahwa dalam dunia yang semakin canggih seperti sekarang, hidup minimalis lebih mudah dengan adanya teknologi. Kita tidak perlu memiliki banyak barang fisik seperti pemutar musik, film, buku, atau televisi. Semua hal tersebut dapat diakses melalui layanan streaming atau versi digital.
Fumio juga memberikan beberapa tips tambahan untuk menjalani hidup minimalis. Salah satunya adalah dengan mengubah perspektif kita tentang lingkungan sekitar kita. Sebagai seorang minimalis, lingkungan luar rumah dianggap milik kita. Jadi, untuk menikmati kenyamanan sofa atau interior yang menawan, kita dapat pergi ke kafe favorit. Begitu pula dengan barang-barang, kita dapat menganggap toko sebagai gudang dan pergi ke sana ketika kita membutuhkan sesuatu seperti sabun atau sampo.
Fumio Sasaki adalah contoh nyata bahwa hidup minimalis memungkinkan. Saat ini, ia tinggal di sebuah apartemen kecil di Tokyo dengan hanya beberapa pakaian dan sedikit barang lainnya. Ia merasa bahagia dan puas dengan hidupnya. Dan Fumio Sasaki percaya bahwa setiap orang juga dapat mencoba menjadi minimalis dan mengubah hidupnya menjadi lebih sederhana dan bahagia.
Dalam dunia yang serba materialistik dan penuh dengan godaan untuk memiliki lebih banyak barang, hidup minimalis adalah pilihan yang berani dan berbeda. Dengan memilih untuk memiliki lebih sedikit barang, kita dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita, seperti hubungan sosial, kedamaian batin, kesehatan, dan pengembangan diri.
Mengurangi jumlah barang yang kita miliki juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan. Semakin banyak barang yang kita buang, semakin banyak pula sampah yang kita hasilkan. Dengan hidup minimalis, kita dapat mengurangi jejak ekologis kita dan memberikan kontribusi positif bagi planet ini.
Jadi, apakah Anda siap mencoba menjadi minimalis? Apakah Anda siap mengurangi jumlah barang yang Anda miliki dan mengubah hidup Anda menjadi lebih sederhana dan bahagia? Keputusan ada di tangan Anda. Namun, perlu diingat, hidup minimalis bukanlah tentang kekurangan atau kehilangan, melainkan tentang menjadi lebih sadar akan apa yang benar-benar penting dan memberikan kebahagiaan sejati dalam hidup kita. Selamat mencoba!
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.