Terpukau Lihat Pekuburan Tua, Sitor Situmorang Lahirkan Sajak “Malam Lebaran”
Sitor Situmorang: Perjalanan Seorang Pujangga dalam Menciptakan “Malam Lebaran”
Sitor Situmorang, adalah salah satu pujangga terkenal Indonesia yang karya-karyanya telah diakui dan diapresiasi oleh banyak kalangan. Salah satu sajaknya yang paling terkenal adalah “Malam Lebaran” yang terdapat dalam buku Dalam Sajak (1955). Meskipun sajak ini hanya terdiri dari empat kata, “Bulan di atas kuburan”, namun keberhasilannya dalam menciptakannya tidaklah singkat.
“Peristiwa yang Tak Disangka-sangka”
Sitor mengungkapkan bahwa proses lahirnya sajak “Malam Lebaran” tersebut bermula dari suatu peristiwa yang tak disangka-sangka. Beberapa hari setelah Hari Raya Idulfitri tahun 1954, Sitor pergi ke rumah Pramoedya Ananta Toer untuk melaksanakan halalbihalal. Namun, ia merasa kecewa karena hebat dan sepi di daerah Kober saat itu.
Sekembalinya dari perkampungan Kober yang sarat dengan selokan-selokan yang mampet dan berbau busuk, Sitor tersasar ke suatu tempat yang dikelilingi oleh rerimbunan pohon tua dan tembok. Di sana, ia melihat bulan yang terang di langit malam. Rasa penasaran pun menyelimuti dirinya, ia ingin tahu apa yang ada di balik tembok tersebut. Dengan berdiri di atas seonggok batu di kaki tembok, Sitor melongok ke dalam.
Ternyata, di balik tembok itu terdapat sebuah areal pekuburan tua dengan berbagai bentuk nisan berwarna putih yang dihiasi dengan tanda salib. Cahaya bulan yang lembut menyinari pekuburan tersebut melalui sela-sela bayangan dedaunan pepohonan. Sitor merasa terpesona oleh pemandangan yang ia lihat, seperti tersihir oleh keindahannya. Ia melihat kematian yang ada di dalam pekuburan tersebut, dan menyadari bahwa di atas dan di sekeliling kematian itu adalah dunia yang terus berputar.
“Kesan yang Terpatri dalam Hati dan Ingatan”
Kesan yang ia dapat dari pemandangan tersebut terus terukir dalam ingatannya. Dalam hati dan pikirannya, kata-kata “bulan di atas kuburan” terucap terus menerus. Meskipun sempat melemah saat ia mendekati jalan raya yang ramai, kata-kata tersebut tidak lenyap begitu saja. Di tengah kebisingan dan kesibukan sehari-hari, Sitor merasa terasing. Bahkan ketika ia menyetop oplet untuk pulang ke rumahnya, rasa pulang ke rumah sendiri terasa hilang arti. Baginya, bulan dan kuburan itu memiliki makna yang lebih dalam. Kematian ada di sekelilingnya, sementara dunia berjalan dan berputar terus, sama seperti orang-orang yang percaya pada kebaikan dan bulan yang baik.
“Proses Lahirnya Sajak ‘Malam Lebaran'”
Sajak “Malam Lebaran” tercipta bukan tanpa alasan. Menurut Sitor, terciptanya sajak ini tidak bisa dilepaskan dari iklim tertentu, yaitu situasi dan kondisi budaya pada saat itu. Sebagai seorang penyair, Sitor merasakan pencapaian dan pengaruh budaya tersebut. Ia merasakan segala rupa dan jenis kesan yang sesuai dengan kepekaan budaya manusia. Dalam perannya sebagai medium, ia mengolah segala pengalaman tersebut menjadi sebuah sastra.
Sajak-sajak Sitor Situmorang memiliki ciri khas simbolik yang kaya makna. Hal ini terlihat dalam karya-karyanya yang terdapat dalam buku Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama. Penulisan sajak dilakukan oleh seorang penyair dalam iklim budaya dan sastra yang ada. Penyair bukanlah seseorang yang membuat sesuatu dari yang tidak ada. Mereka menggali dan mengolah faktor budaya yang mereka peroleh, miliki, dan kembangkan untuk menciptakan karya yang indah. Sebagai penyair, mereka adalah medium yang memberikan bentuk pada ide-ide yang mereka terima dari iklim budaya.
Dalam hal ini, Sajak “Malam Lebaran” menjadi bukti nyata dari proses penciptaan sastra yang melibatkan pengaruh budaya dan penggunaan bahasa. Dalam sajak ini, terdapat berbagai ide yang muncul dari peristiwa di pekuburan tua tersebut. Ide-ide tersebut tumbuh menjadi sebuah ilham yang menghasilkan sajak pendek yang sangat terkenal.
Kesimpulan
Sitor Situmorang, sebagai seorang pujangga terkenal Indonesia, berhasil menciptakan salah satu sajak paling terkenal dalam sejarah sastra Indonesia, yakni “Malam Lebaran”. Kelahiran sajak tersebut tidak lepas dari pengaruh budaya dan iklim saat itu. Pengalaman yang tak disangka-sangka ketika ia tersesat di sekitar pekuburan tua, mengamati bulan di atas kuburan, memberikan inspirasi dan kesan yang sangat mendalam bagi Sitor. Ia berhasil mentransformasikan pengalaman tersebut menjadi sebuah sajak yang indah dan penuh makna.
Bagi siapa pun yang membaca sajak “Malam Lebaran”, kata-kata “bulan di atas kuburan” tidak hanya sekadar kata-kata yang biasa. Kata-kata tersebut adalah simbol dari makna yang lebih dalam, tentang kehidupan, kematian, dan hubungan antara dunia manusia dengan dunia yang lebih tinggi. Sitor Situmorang berhasil menggambarkan kekuatan sastra dalam menyampaikan pesan-pesan yang kompleks melalui kata-kata yang sederhana.
Karya-karya Sitor Situmorang, tak hanya “Malam Lebaran”, tetapi juga sajak-sajak lainnya, menghadirkan dunia sastra Indonesia yang kaya dan memikat. Ia mampu menggali dan mengolah pengalaman hidup dan budaya untuk menciptakan karya-karya yang timeless dan relevan. Dalam setiap karyanya, Sitor mampu menunjukkan kehebatan dan keindahan sastra Indonesia.
Sebagai pembaca, tentu saja kita dapat menghargai dan bersyukur atas kehadiran Sitor Situmorang dalam kancah sastra Indonesia. Karya-karyanya tidak hanya menghibur dan memperkaya pikiran kita, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah sastra Indonesia. Itulah mengapa Sitor Situmorang adalah seorang pujangga yang patut kita kenang dan hormati hingga sekarang.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.