12 Jenis Burung Di Dunia Dengan Status Punah dan Terancam Punah!
Jenis Burung yang Sudah Punah
Kepunahan suatu jenis makhluk hidup adalah fenomena yang alami terjadi sepanjang sejarah kehidupan di bumi. Sejak jutaan tahun lalu, berbagai jenis makhluk hidup mengalami kepunahan akibat berbagai faktor, seperti perubahan iklim, kejadian alam, dan persaingan dengan spesies lain. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, laju kepunahan menjadi semakin cepat dan banyak jenis burung yang mengalami kepunahan. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa jenis burung yang sudah punah dan terancam punah di Indonesia.
1. Cryptic treehunter (Cichlocolaptes mazarbarnetti)
Cryptic treehunter adalah burung endemik yang berasal dari Brazil. Burung ini hanya dapat ditemukan di hutan barat daya Brazil, salah satu daerah yang mengalami tingkat deforestasi paling tinggi di dunia. Kemiripannya dengan burung Alagoas Foliage-gleaner menjadikan burung ini baru dapat diidentifikasi sebagai spesies baru pada tahun 2014. Sayangnya, burung ini diperkirakan telah mengalami kepunahan sebelum sempat diteliti lebih lanjut. Hal tersebut dikarenakan burung Cryptic treehunter terakhir kali ditemukan pada bulan April 2007.
2. Alagoas Foliage-gleaner (Philydor novaesi)
Alagoas Foleage-gleaner adalah burung endemik dari Brazil lainnya yang sudah dinyatakan punah dalam dekade ini. Burung ini hanya dapat ditemukan di daerah Alagoas dan Pernambuco di barat daya Brazil. Populasi burung ini sudah menurun secara drastis akibat adanya konversi hutan menjadi perkebunan tebu dan illegal-logging. Spesies ini terakhir kali ditemukan di tahun 2011 dan telah dinyatakan punah oleh pemerintah Brazil sejak pada tahun 2014.
3. Poo-uli (Melamprosops phaesoma)
Poo-uli adalah burung endemik yang berasal dari Maui, Pulau Hawaii. Saat pertama kali diidentifikasi pada tahun 1973, diperkirakan ada sekitar 100 hingga 200 ekor poo-uli di daerah Hutan ‘Ohi’a. Jumlah tersebut menurun drastis ketika pada tahun 1995 dan hanya ditemukan tiga ekor poo-uli saja. Salah satu poo-uli tersebut sempat ditangkap pada bulan September 2004, tetapi berakhir mati pada bulan November 2004. Hingga saat ini, dua ekor lainnya yang tersisa tak pernah ditemukan lagi sejak tahun 2003-2004 dan diperkirakan sudah punah. Kepunahan poo-uli disebabkan oleh rusaknya habitat dan persebaran nyamuk yang membawa penyakit. Hilangnya sumber makanan poo-uli yang disebabkan oleh munculnya spesies tikus dan siput asing juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kepunahan burung ini.
4. Makaw Spix (Cyanopsitta spixii)
Spix’s macaw adalah burung yang mempunyai habitat alami di São Francisco, Brazil dan sempat menjadi tokoh utama dalam film animasi Disney, Rio. Burung ini telah mengalami penurunan populasi yang sangat cepat hingga pada tahun 1987-1988 diperkirakan hanya ada tiga ekor saja yang masih hidup di alam dengan ketiga-tiganya berada dalam posisi ditangkap untuk diperjualbelikan secara ilegal. Satu ekor makaw spix pernah ditemukan di alam pada Juli 1990, tetapi tak ditemukan lagi sejak tahun 2000. Menurut data tahun 2012, saat ini hanya ada sekitar 90 ekor makaw spix yang seluruhnya hidup di penangkaran. Penurunan populasi makaw spix diperkirakan disebabkan oleh adanya perburuan ilegal dan deforestasi habitat.
5. Trulek Jawa (Vanellus macropterus)
Trulek Jawa adalah spesies endemik asal pulau Jawa yang terutama ditemukan di sekitar daerah berair seperti sungai, muara, dan rawa. Burung ini memiliki penampilan yang unik dengan bulu berwarna abu-abu dan bentuk tubuh yang memanjang. Trulek Jawa terakhir kali ditemukan pada tahun 1940 di delta Citarum. Burung ini sangat jarang ditemukan sehingga tak ada bukti fotografi maupun spesimen baru yang ditemukan. Meskipun demikian, masyarakat lokal pernah beberapa kali melaporkan keberadaan burung tersebut pada tahun 2013. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi mengenai hal tersebut.
6. Eskimo curlew (Numenius borealis)
Eskimo curlew adalah burung yang bisa ditemukan di daerah peninsula Bathurst dan Point Lake di Kanada serta kemungkinan di daerah Alaska, AS. Burung ini melakukan migrasi ke berbagai negara di Amerika Selatan seperti Argentina, Brazil, hingga Chile. Burung ini mengalami penurunan jumlah populasi sejak pada tahun 1890-an dan menjadi sangat langka pada abad ke-20. Eskimo curlew terakhir kali ditemukan di alam di Amerika Selatan pada tahun 1939 sementara spesimennya terakhirnya ditemukan di Barbados pada 1963. Meskipun demikian, ada beberapa laporan perihal keberadaan burung ini pada tahun 1981-2012. Penyebab kepunahan burung ini diperkirakan akibat hilangnya habitat alami dan perburuan liar.
7. Pernambuco pygmy-owl (Glaucidium mooreorum)
Pernambuco pygmy-owl adalah burung yang tersebar di daerah Reserva Biológica de Saltinho, Pernambuco, Brazil. Burung ini baru berhasil diidentifikasi pada tahun 2002 berdasarkan spesimennya, tetapi rekaman suaranya sudah dikenal sejak tahun 1990. Pernambuco pygmy-owl terakhir kali ditemukan pada tahun 2004. Beberapa penelitian yang dilakukan untuk menemukan burung ini di daerah habitatnya pun berakhir nihil. Meskipun demikian, hal tersebut bisa disebabkan karena kurangnya informasi dan deskripsi perihal burung ini sehingga identifikasi pun sulit untuk dilakukan. Salah satu faktor yang diperkirakan menjadi penyebab punahnya jenis burung hantu ini adalah karena deforestasi. Habitat alami pernambuco pygmy-owl tercatat sudah mengalami pengecilan wilayah yang pada mulanya 39.500 km2 menjadi 1.900 km2.
8. Glaucous macaw (Anodorhynchus glaucus)
Glaucous macaw bisa ditemukan di bagian utara Argentina, selatan Paraguay, barat daya Uruguay, dan Brazil. Burung ini pada mulanya tersebar luas di daerah-daerah tersebut, tetapi mengalami penurunan populasi sehingga membuatnya menjadi langka sejak pertengahan abad ke-19. Penurunan populasi burung ini disebabkan oleh degradasi habitat alami serta maraknya perburuan liar. Glaucous macaw hanya pernah ditemukan dua kali pada abad ke-20, yakni pada tahun 1951 di daerah Uruguay dan tahun 1960 di daerah Paraná, Brazil. Meskipun demikian, ada beberapa laporan masyarakat lokal yang menyatakan pernah bertemu dengan burung ini.
9. New Caledonian Lorikeet (Charmosyna diadema)
New Caledonian lorikeet adalah burung endemik yang berasal dari New Caledonia. Burung ini terakhir kali ditemukan pada tahun 1913, tetapi ada masyarakat lokal melaporkan keberadaannya pada tahun 1950-an dan 1976. Meskipun demikian, para ilmuwan masih memasukkan burung ini dalam kategori terancam punah karena tingkah lakunya yang nomaden sehingga menjadi salah satu faktor sulitnya mendeteksi burung jenis ini. Faktor-faktor yang diduga menyebabkan penurunan populasi burung tersebut, yakni munculnya penyakit unggas seperti flu burung dan introduksi tikus.
10. South Island Kokako (Callaeas cinereus)
South island kokako adalah burung endemik yang berasal dari Selandia Baru. Burung ini pada mulanya dikenal sebagai gagak Selandia Baru karena memiliki bentuk yang menyerupai gagak. Burung ini pada mulanya tersebar luas di daerah Selandia Baru, tetapi mengalami penurunan populasi akibat introduksi berbagai macam mamalia invasif seperti tupai, tikus, dan kucing. Burung ini terakhir kali ditemukan pada tahun 2007. Meskipun demikian, ada upaya konservasi yang dilakukan untuk melestarikan burung ini dan memulihkan populasi yang terancam punah.
11. Mo’orea Red Warbler (Acrocephalus longirostris)
Mo’orea red warbler adalah burung endemik asal French Polynesia. Burung ini diperkirakan telah punah, tetapi beberapa laporan tentang penemuan burung mo’orea red warbler pada tahun 2000-an menyebabkan para ilmuwan memasukkan burung tersebut dalam kategori terancam punah. Perkiraan ukuran populasi burung ini sangat kecil, dengan perkiraan di bawah 50 individu dewasa. Penurunan populasi disebabkan oleh rusaknya habitat alami dan berbagai spesies asing seperti tikus dan kerak ungu.
12. Oloma’o (Myadestes lanaiensis)
Oloma’o adalah burung endemik dari Hawaii. Burung ini pada awalnya memiliki populasi yang banyak dan ditemukan di berbagai pulau di Hawaii. Namun, penurunan populasi dan kehilangan habitat alami telah menyebabkan oloma’o menjadi sangat langka. Burung ini terakhir kali ditemukan pada tahun 1994. Sayangnya, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi mengenai keberadaannya dan burung ini diperkirakan telah punah.
Cara Mencegah Kepunahan
Kepunahan satwa langka di Indonesia menjadi masalah serius yang perlu segera ditangani. Untuk mencegah kepunahan tersebut, berbagai upaya konservasi perlu dilakukan. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk mencegah kepunahan satwa langka di Indonesia.
1. Melindungi Habitat Alam
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kepunahan satwa langka adalah dengan melindungi habitat alami mereka. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memperluas kawasan konservasi dan membatasi aktivitas pembangunan yang merusak habitat satwa langka. Selain itu, penting untuk mengembangkan program restorasi habitat yang telah rusak agar satwa langka memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman.
2. Mengendalikan Perburuan dan Perdagangan Illegal
Perburuan dan perdagangan ilegal menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup satwa langka di Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap pelaku perburuan dan perdagangan ilegal. Pemerintah perlu meningkatkan pengawasan dan memberikan sanksi yang tegas kepada siapa pun yang terlibat dalam kegiatan ilegal ini. Selain itu, edukasi dan kesadaran masyarakat juga penting agar mereka tidak membeli atau memiliki satwa langka ilegal.
3. Mengembangkan Program Penangkaran dan Pemulihan Populasi
Untuk satwa langka yang telah mengalami penurunan populasi yang signifikan, program penangkaran dan pemulihan populasi perlu dikembangkan. Ini melibatkan penangkaran satwa langka di lingkungan yang terkendali dan aman, di mana mereka dapat berkembang biak dan kemudian dilepaskan kembali ke habitat alami mereka. Program ini juga dapat melibatkan kegiatan pemantauan dan penelitian untuk memastikan keberhasilan program pemulihan.
4. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat
Penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa langka. Melalui edukasi dan kampanye penyuluhan, masyarakat bisa memahami mengapa satwa langka perlu dilindungi dan bagaimana mereka bisa ikut berperan dalam pelestarian alam. Pendidikan mengenai keanekaragaman hayati dan perlindungan satwa langka perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah, dan kegiatan penyuluhan dapat diselenggarakan di lingkungan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman.
5. Mendorong Ekowisata Berkelanjutan
Ekowisata berkelanjutan dapat menjadi salah satu sumber pendapatan untuk masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi. Dengan menarik wisatawan untuk melihat satwa langka di habitat aslinya, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan atau mengganggu satwa langka. Pemerintah perlu mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan mendorong partisipasi masyarakat dalam usaha ini.
6. Dukungan dari Pemerintah dan Organisasi Non-Pemerintah
Pemerintah perlu memberikan dukungan yang kuat dalam upaya pelestarian satwa langka di Indonesia. Ini meliputi alokasi anggaran yang memadai untuk program konservasi, peningkatan kapasitas penegak hukum, dan pembentukan kebijakan yang mendukung pelestarian alam. Selain itu, kerja sama dengan organisasi non-pemerintah dan lembaga internasional juga penting untuk memperoleh sumber daya dan pengetahuan yang lebih luas dalam konservasi satwa langka.
Kesimpulan
Kepunahan satwa langka adalah masalah serius yang mengancam keberagaman hayati di Indonesia. Untuk mencegah kepunahan ini, langkah-langkah konservasi yang efektif perlu dilakukan. Melindungi habitat alami satwa langka, mengendalikan perburuan dan perdagangan ilegal, mengembangkan program penangkaran, meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong ekowisata berkelanjutan, dan mendapatkan dukungan dari pemerintah dan organisasi non-pemerintah adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan. Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya, kita dapat memastikan bahwa keanekaragaman hayati yang kaya dan satwa langka yang unik di Indonesia tetap terjaga dan terhindar dari kepunahan.
Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.