Biografi Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis Pengubah Dunia


Masa Kecil Sigmund Freud

Sigmund Freud, yang lahir pada 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia (sekarang Republik Ceko), merupakan seorang anak dari pasangan Jacob Freud dan Amalia Nathanson. Ayahnya adalah seorang penjual kain wol yang beragama Yahudi, sedangkan ibunya adalah seorang yang lembut dan memiliki emosi stabil. Mereka memiliki perbedaan kepribadian yang mencolok, dengan ayahnya yang emosian, suka menyendiri, dan seringkali memerintah keluarganya untuk mengikuti kehendaknya. Sementara itu, ibunya Amalia adalah sosok yang lebih lembut dan selalu mencoba menjaga keharmonisan keluarga.

Keluarga Freud mengalami kesulitan ekonomi, sehingga mereka seringkali pindah-pindah tempat tinggal untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka awalnya menetap di Leipzig, Jerman, sebelum akhirnya pindah ke Wina, Austria. Di sana, Amalia melahirkan lima anak lagi, yaitu Rosa, Marie, Adolfine, Paula, dan Alexander. Keluarga ini hidup dalam kondisi yang cukup sulit, namun Sigmund Freud yang merupakan anak yang berbakat dan cerdas, mampu menunjukkan potensi besar sebagai ilmuwan sejak usia dini.

Pada usia sembilan tahun, Sigmund Freud masuk ke sekolah menengah pertama bernama Leopoldstädter Kommunal-Realgymnasium. Dia dianggap sebagai salah satu siswa paling berbakat di angkatannya. Selain itu, Freud juga memiliki minat yang besar dalam membaca dan literatur. Dia menguasai beberapa bahasa, termasuk bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Prancis, bahasa Spanyol, bahasa Italia, bahasa Ibrani, bahasa Latin, dan bahasa Yunani.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah, Freud melanjutkan pendidikannya di Universitas Wina pada usia 17 tahun. Awalnya, dia tertarik untuk mempelajari ilmu hukum di Fakultas Hukum. Namun, setelah menjalani pendidikan beberapa tahun, dia memutuskan untuk pindah ke Fakultas Kesehatan dan mempelajari fisiologi, filosofi, dan zoologi. Ketertarikannya terhadap ilmu psikologi dimulai ketika dia mempelajari otak manusia dan makhluk hidup lainnya di bawah bimbingan Ernst Brücke, seorang fisiolog.

Pada tahun 1879, Freud juga harus menjalani wajib militer selama satu tahun. Setelah selesai menjalani wajib militer, Freud melanjutkan kuliahnya dan berhasil lulus dari Universitas Wina pada tahun 1881 dengan gelar Doctor of Medicine. Meskipun awalnya tidak tertarik dengan praktik medis, Freud kemudian memutuskan untuk menjadi seorang peneliti.

See also  18 Kota Terindah di Dunia yang Wajib Dikunjungi

Awal Karier Sigmund Freud

Setelah lulus dari universitas, Sigmund Freud memulai karier sebagai peneliti di bidang anatomi tengkorak manusia di Rumah Sakit Umum Wina. Pada waktu itu, penelitian mengenai otak masih dilakukan secara aktif dan Freud berhasil mempublikasikan hasil penemuannya. Kemudian, Freud bekerja di rumah sakit tersebut dan melanjutkan penelitian dalam bidang psikologi.

Pada tahun 1886, Freud memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan menikahi Martha Bernays, seorang wanita asal Jerman. Dalam pernikahan mereka, mereka memiliki enam anak, yakni Mathilde, Jean-Martin, Oliver, Ernst, Sophie, dan Anne. Pernikahan mereka berlangsung harmonis dan berjalan hingga akhir hayat mereka.

Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa Freud sempat berselingkuh dengan kakak iparnya, Minna Bernays. Rumor ini dibuat oleh tokoh psikolog lainnya, Carl Jung. Rumor ini menjadi awal dari ketidaksukaan Freud terhadap Jung dan juga memiliki peran dalam persaingan kedua tokoh tersebut.

Selama kariernya, Freud juga mengembangkan kebiasaan merokok yang menjadi kebiasaan sehari-hari baginya. Freud percaya bahwa merokok dapat meningkatkan kinerja otaknya ketika melakukan penelitian. Meskipun sudah diingatkan tentang bahaya merokok, Freud tetap melanjutkan kebiasaannya ini.

Freud terinspirasi oleh beberapa tokoh terkenal dalam mengembangkan ilmu psikoanalisis. Filsuf Friedrich Nietzsche, ilmuwan biologi Charles Darwin, serta sastrawan William Shakespeare menjadi inspirasi besar bagi Freud. Karya-karya mereka membantu Freud memahami esensi dari psikologi manusia dan mengembangkan ilmu psikoanalisis.

Pada tahun 1902, Freud menyadari pentingnya untuk menyebarkan ilmu psikoanalisis kepada masyarakat luas. Dia juga ingin mencari orang-orang dengan pemikiran yang serupa untuk mengembangkan teori ini. Oleh karena itu, Freud memutuskan untuk menjadi seorang profesor di Universitas Wina. Pada awalnya, ambisi Freud terhalang oleh kepentingan politik, namun akhirnya dia mendapatkan gelar profesor yang dia inginkan.

See also  Makna, Hikmah Kebaikan, dan Susunan Acara Halal Bihalal

Dengan menjadi profesor, Freud berhasil menarik perhatian para peneliti lain yang tertarik untuk mengembangkan ilmu psikoanalisis. Mereka bekerja sama dan membentuk perkumpulan psikologi yang dikenal sebagai Wednesday Psychological Society. Di dalam perkumpulan ini, mereka membahas berbagai topik terkait ilmu psikologi dan berusaha mencari temuan baru dalam bidang ini. Perkumpulan ini menciptakan suasana yang hangat, didukung oleh asas kekeluargaan dan pertemanan.

Perlahan tapi pasti, anggota Perkumpulan Psikologi Rabu semakin bertambah. Mereka berasal dari berbagai negara seperti Britania Raya, Rusia, Hungaria, dan Amerika Serikat. Praktik kolaboratif seperti ini merupakan awal dari penyebaran ilmu psikoanalisis ke seluruh dunia dan pertukaran pengetahuan antara para peneliti.

Anggota-anggota Wednesday Psychological Society juga membantu Freud dalam mengembangkan teori psikoanalisis. Pada akhirnya, Freud mengorganisir International Psychoanalytical Association (IPA) untuk membahas dan mengembangkan ilmu psikoanalisis. Organisasi ini menjadi atap bagi sejumlah organisasi lain yang mempelajari ilmu psikoanalisis dan tersebar di berbagai negara. Perang Dunia Pertama sempat menghambat penelitian di bawah naungan IPA, namun ilmu ini terus berkembang setelah perang berakhir.

Akhir Hayat Sigmund Freud

Selama hidupnya, Freud menderita penyakit kanker mulut yang diakibatkan oleh kebiasaannya merokok. Kanker ini terdeteksi pada tahun 1923 dan dengan cepat memburuk menjadi kanker stadium 4. Meskipun diberi peringatan tentang bahaya merokok dan disarankan untuk berhenti, Freud tetap melanjutkan kebiasaannya.

Pada tahun 1933, dengan naiknya paham Nazi di Eropa, banyak orang Yahudi menjadi sasaran penindasan dan penganiayaan. Namun, Freud awalnya meremehkan ancaman Nazi. Baru pada tahun 1938, ketika Nazi mulai menyerang Austria, Freud menyadari bahwa dia dan keluarganya berada dalam bahaya. Mereka mulai merencanakan untuk meninggalkan Austria dan mencari perlindungan di luar negeri.

Namun, perjalanan mereka untuk meninggalkan Austria tidaklah mudah. Mereka menghadapi hambatan dari utusan Nazi yang ingin membatasi aset dan harta mereka di Austria. Selain itu, sebagai seorang Yahudi, Freud juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan izin meninggalkan negara tersebut.

See also  Ciri-ciri dan Gejala Seseorang Mengalami Antisosial

Namun, berkat bantuan Putri Marie Bonaparte, seorang pendukung Freud, dia berhasil mengungsi ke Inggris pada bulan Juni 1938. Bonaparte membantu dengan menyediakan bantuan finansial dan mengatur perjalanan mereka ke Inggris. Kedatangan Freud di Inggris disambut dengan hangat oleh komunitas ilmuwan dan intelektual. Dia diterima oleh Royal Society, sebuah organisasi ilmiah di Inggris, dan mendapatkan perlindungan dari persegutan Nazi.

Meskipun berada di Inggris, kondisi kesehatan Freud terus memburuk. Kanker mulutnya semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Meskipun dalam kondisi yang lemah, Freud tetap aktif dalam penelitian dan praktik psikoanalisisnya. Dia melanjutkan penelitiannya, mengobati pasien, dan membaca karya ilmiah dari rekan-rekan ilmuwan lainnya.

Pada 23 September 1939, Sigmund Freud meninggal dunia pada usia 83 tahun. Jenazahnya kemudian dikremasi dan abunya dikembalikan kepada keluarganya. Meskipun telah tiada, warisannya sebagai salah satu pemimpin dalam bidang psikologi psikoanalisis terus hidup dan pengaruhnya masih dirasakan hingga saat ini.

Dalam perjalanan hidupnya, Sigmund Freud banyak menghasilkan karya dan teori yang mempengaruhi pemahaman manusia tentang pikiran dan emosi. Teori-teorinya, seperti konsep alam bawah sadar, teori mengenai psychosexual development, dan interpretasi mimpi, telah memberikan kontribusi besar dalam perkembangan ilmu psikologi.

Dalam kesimpulan, sangat jelas bahwa keberadaan Sigmund Freud dalam perkembangan ilmu psikologi tidak dapat diabaikan. Melalui kontribusinya dalam mengembangkan psikoanalisis, Freud telah memberikan wawasan yang mendalam tentang manusia dan mempengaruhi cara kita memahami diri dan orang lain. Karya-karyanya masih menjadi sumber inspirasi bagi banyak peneliti dan praktisi psikologi hingga saat ini.


Selain membaca blog karir Aikerja, follow juga akun instagram aikerja untuk informasi terbaru seputar lowongan kerja, dan dunia kerja.

Tahukah Anda?